Menuju konten utama

Profil Ismail Jalil Bupati Aceh Utara & Kritiknya ke Pemerintah

Bupati Aceh Utara Ismail Jalil viral usai menyampaikan kritik ke pemerintah yang dianggap tutup mata dalam penanganan bencana banjir di daerahnya.

Profil Ismail Jalil Bupati Aceh Utara & Kritiknya ke Pemerintah
Ismail Jalil. wikimedia/publik domain/mediacenter_takhalid

tirto.id - Bupati Aceh Utara Ismail Jalil mengkritik pemerintah dalam menangani bencana nasional. Hal itu ia sampaikan saat rapat koordinasi satuan tugas pemulihan setelah bencana yang disiarkan secara langsung melalui kanal resmi DPR.

Ismail Jalil mengungkapkan dampak banjir bandang ini lebih parah dibanding tsunami 2004, dengan 25 dari 27 kecamatan dan 696 dari 852 gampong terdampak, atau sekitar 81 persen wilayah kabupaten.

Sekitar 124 ribu kepala keluarga atau 433 ribu jiwa menjadi korban, dan lebih dari 67 ribu jiwa harus mengungsi.

Namun, kondisi di Aceh Utara tidak banyak mendapatkan perhatian pemerintah pusat maupun media sosial karena akses telekomunikasi dan listrik terputus.

Pada kesempatan itu, ia juga mengkritik minimnya respons kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke wilayahnya dibandingkan daerah lain di Aceh dan Sumatera.

Ia menyoroti ketimpangan perhatian pemerintah pusat terhadap bencana besar yang terjadi di Aceh Utara.

“Mungkin di Aceh Utara, selama ini Pak Presiden (Prabowo Subianto) selalu ke Bermin (Bener Meriah dan Takengon Aceh Tengah dan juga hadir di Pidie Jaya termasuk Pak Wakil Presiden (Gibran Rakabuming),” ucapnya.

“Tapi di Aceh Utara, kayaknya kek mana, saya rasa apa nggak tahu ada banjir?” ungkapnya.

Profil Ismail Jalil Bupati Aceh Utara

H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. atau yang akrab disapa Ayah Wa lahir 12 Juni 1979 di Gampong Matang Serdang, Kecamatan Tanah, Jambo Aye, Aceh Utara. Ia adalah seorang politikus dan mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menjabat sebagai Bupati Aceh Utara periode 2025-2030.

Ayah Wa berasal dari keluarga petani dan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Tanah Jambo Aye sebelum melanjutkan nyantri di Darul Ulum Tanah Merah, Kabupaten Bireuen.

Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi, meraih gelar sarjana ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Budi Bakti (STIM) Bekasi pada 2010 dan gelar magister manajemen dari Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) pada 2024.

Kariernya dimulai sebagai pejuang GAM. Ia pernah menjabat sebagai Panglima Operasi Daerah IV Tgk Chik Ditunong Wilayah Samudera Pase.

Setelah Aceh memasuki era perdamaian, Ayah Wa meninggalkan seluruh aktivitas militer dan beralih ke dunia politik, menjadi anggota DPRK Aceh Utara tahun 2009, kemudian Ketua DPRK Aceh Utara periode 2014-2019, dan anggota DPRA Fraksi Partai Aceh pada 2019-2024.

Ayah Wa dikenal sebagai figur yang dermawan, rutin mengadakan santunan akbar di kediamannya di Desa Matang Dien, Kecamatan Tanah Jambo Aye, dan memiliki basis dukungan yang kuat di masyarakat.

Popularitas dan pengalamannya di parlemen menjadi modal politik yang besar ketika ia terpilih menjadi Bupati Aceh Utara pada Pilkada 2024, mengalahkan kotak kosong dengan perolehan 335.985 suara dari 1.180 TPS. Pelantikan resmi digelar pada 17 Februari 2025 di Gedung DPRK Aceh Utara, dihadiri oleh ribuan warga.

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra