Menuju konten utama

Mengenal Professional Sleeper, Terpejam pun Dibayar Mahal

Professional sleeper dipekerjakan untuk berbagai pengujian produk, penelitian medis, hingga pemeran seni. Ketahui apa saja tugas dan gajinya.

Mengenal Professional Sleeper, Terpejam pun Dibayar Mahal
Ilustrasi professional sleeper. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di sebagian besar kantor, tidur saat jam kerja ibarat tiket menuju teguran atasan sampai Surat Peringatan (SP). Label tidak profesional hingga cap sebagai pemalas langsung melekat. Namun, aktivitas memeluk guling nyatanya tidak selamanya tak "produktif". Ada istilah professional sleeper, profesi formal untuk "tidur" dengan bayaran puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Tidur kerap dianggap sebagai hal yang "paling tidak produktif". Ada banyak pekerja yang merelakan waktu tidurnya menguap begitu saja untuk mengejar deadline. Ada pula yang masih mengerjakan side job pada malam hari agar dapat mencari tambahan penghasilan. Namun, menjadikan tidur, yang merupakan salah satu kebutuhan biologis paling mendasar, sebagai karier profesional, adalah cerita yang sama sekali berbeda.

Professional Sleeper Bukan Sekadar Rebahan Biasa

Pekerjaan professional sleeper memang terdengar menarik dan lucu. Tapi jangan bayangkan profesi ini hanya sebatas tidur untuk beristirahat sebagaimana yang dikerjakan orang-orang pada malam hari.

Meskipun masih berkaitan dengan kasur dan bantal empuk, professional sleeper bukan kerja malas-malasan. Mereka punya peran vital sebagai "subjek eksperimen" sekaligus penilai profesional. Jasa professional sleeper diburu oleh berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan sains, dokter spesialis, hingga perusahaan industri manufaktur. Tujuannya untuk menguji dan mengukur berbagai variabel saat manusia terlelap.

Saat bekerja, para professional sleeper akan memosisikan tubuh mereka untuk rileks dan tertidur dalam parameter atau kondisi yang telah ditentukan.

Melansir lamanIndeed.com, pekerjaan ini umumnya terikat dengan penelitian ilmiah yang fokusnya mengarah pada analisis pola tidur, pemetaan aktivitas otak, hingga pemantauan fungsi organ tubuh saat manusia terlelap. Dengan demikian, para pekerja profesi ini menjadi fondasi penting bagi pemahaman sains dan dunia medis terkini mengenai tidur.

Di sisi lain, professional sleeper dapat pula mempelajari pola tidur gangguan tidur yang dialaminya. Jika dibutuhkan, para pekerja profesi ini akan mendapat perawatan medis langsung dari para ahli demi meraih kualitas hidup yang lebih sehat.

Ilustrasi professional sleeper

Ilustrasi professional sleeper. foto/istockphoto

Tidak hanya berguna untuk kalangan medis, professional sleeper juga dipakai jasanya oleh produsen kasur, hotel, seniman, dan rumah sakit untuk menilai kenyamanan. Lewat hasil tes oleh para pelaku profesi ini, seorang produsen dapat menilai penemuan terbarunya dan menciptakan inovasi-inovasi terbaru.

Tentu saja, tanggung jawab seorang professional sleeper tidak berhenti saat mata terpejam. Setelah terbangun, seorang professional sleeper diwajibkan menyusun umpan balik (feedback) melalui laporan rinci, formulir evaluasi, atau ulasan mendalam.

Seluruh penilaian mesti ditulis secara jujur dan objektif demi menjamin keakuratan data. Tak jarang, keahlian menyusun ulasan ini juga dimanfaatkan para pelaku profesi ini untuk mengelola blog independen seputar audit kenyamanan hotel demi memperkuat portofolio karier.

Arena Kerja Professional Sleeper dari Laboratorium Riset Hingga Galeri Seni

Cakupan kerja seorangprofessional sleeper cukup luas. Medan tugas mereka terbagi ke dalam tiga ranah utama, yang meliputi eksperimen ilmiah, pengujian industri komersial, hingga pameran seni kontemporer.

Di ranah sains dan kesehatan, professional sleeper bertindak sebagai subjek uji klinis. MengutipTerratale.com, lembaga riset mempekerjakan mereka untuk membedah dampak tidur jangka panjang terhadap tubuh manusia. Selain itu, profesi ini dibutuhkan untuk menguji efektivitas obat-obatan dan alat bantu tidur medis.

Di sinilah tantangannya. Seorangprofessional sleeperdituntut memiliki ketahanan mental ekstra. Mereka harus mampu tertidur pulas meski tubuh dipasangi bermacam kabel sensor gelombang otak (EEG), alat pemantau irama jantung, hingga pemantau laju pernapasan. Ini dilakukan di bawah pengamatan langsung para ilmuwan selama berjam-jam, atau bahkan berhari-hari.

Ilustrasi professional sleeper

Ilustrasi professional sleeper. foto/istockphoto

Sementara itu, di sektor industri komersial, professional sleepermenjadi tulang punggung pengembangan mutu produk. Sebagai contoh, produsen tempat tidur premium hingga jaringan hotel berbintang mengandalkan analisis tajam mereka untuk mengevaluasi skala kenyamanan. Ini meliputi tingkat kerapatan benang pada seprai, kelembutan sandang kamar, hingga kesenyapan ruang.

Setiap detail diuji oleh professional sleeper dan dilaporkan secara rinci. Masukan kritis inilah yang kemudian dijadikan landasan bagi perusahaan untuk menyempurnakan produk atau merancang strategi pemasaran.

Menariknya, fungsi pengujian ini juga dimanfaatkan oleh raksasa teknologi seperti Google dan Meta. MengutipContent.wisestep.com, perusahaan-perusahaan ini menyediakan fasilitas ruang energi (energy room) agar karyawan dapat melakukan tidur siang singkat (power nap) selama 20 menit di tengah kesibukan kerja. Sebelum fasilitas berteknologi khusus dapat dinikmati oleh karyawan, efektivitasnya diuji terlebih dahulu oleh para professional sleeper.

Sisi paling eksentrik dari profesi ini dapat ditemukan di dunia seni pertunjukan. Di beberapa museum dan galeri seni kontemporer, professional sleeper disewa untuk menjadi bagian dari "instalasi seni hidup". Dalam beberapa kurasi, mereka bahkan dikondisikan mengonsumsi obat tidur di bawah pengawasan medis agar dapat terlelap di tengah ruang pameran. Di sana, mereka menjadi objek estetika yang diamati oleh ribuan pengunjung museum.

Meski terkesan absurd bagi awam,professional sleeperterbukti sebagai posisi kerja nyata dengan ceruk pasar yang terus berkembang pesat.

Mengintip Besaran Gaji Professional Sleeper

Professional sleepersejatinya bukanlah pekerjaan yang bisa dilakoni dengan tangan kosong. Ada serangkaian keterampilan khusus yang wajib dimiliki agar seseorang dapat bertahan dan berprestasi di industri ini. Ini meliputi kemampuan observasi yang mumpuni, piawai tidur dalam setiap situasi, dan pemahaman dalam riset.

Kejelian observasi menjadi modal paling dasarprofessional sleeper. Mereka harus peka terhadap detail sampai yang terkecil, mulai dari tekstur bahan, seempuk apa busa yang dipakai, dinamika suhu, bahkan kebisingan lingkungan sekitar. Kejelian ini wajib diimbangi dengan kedisiplinan pencatatan data secara sistematis. Seluruh impresi dan perubahan pola tidur harus dituangkan dalam bentuk laporan objektif demi kepentingan riset ilmiah maupun pengembangan produk.

Selain itu, kepiawaian untuk bisa tertidur kapan saja dan di mana saja adalah syarat mutlak. Bagiprofessional sleeper yang terlibat dalam ekshibisi seni atau studi laboratorium durasi panjang, kemampuan menjaga ketenangan di ruang terbuka adalah kunci. Mereka juga mesti disiplin mengelola pola tidur harian. Menjaga rutinitas tidur, menciptakan lingkungan kondusif, serta menghindari zat stimulan seperti kafein menjadi bagian dari profesionalisme.

Pemahaman mengenai riset pasar dan kesehatan tidur juga dapat menjadi nilai tambah. Dengan rekam jejak yang solid, seorang professional sleeper berpeluang melebarkan karier di duniasleep wellness, entah itu sebagai pengulas independen atau konsultan kenyamanan tidur.

Sifat pekerjaanprofessional sleeperberbasis proyek atau kontrak khusus. Oleh karena itu, bayaran seorangprofessional sleeperbervariasi bergantung pada skala risiko, jenis industri, dan kompleks tidaknya pengujian yang ia lakukan.

Mengutip laporan Careeraddict.com, penelitian yang digelar Universitas Colorado pada 2013 lalu berani menawarkan pembayaran sebesar $2.730 (sekitar Rp43 juta) kepada subjek riset yang bersedia berpartisipasi dalam studi tidur selama 14–17 jam.

Sementara itu, di ranah seni kontemporer, New Museum of Contemporary Art di New York pernah mematok tarif $10 per jam bagi peserta pameran karya Chu Yun. Dengan upah sebesar itu, mereka yang bertugas meminum pil tidur dan terlelap di ranjang galeri.

Angka yang tak kalah fantastis juga datang dari sektor komersial dan industri perhotelan. Pada 2006, jaringan hotel Travelodge menunjuk Wayne Munnelly sebagai Director of Sleep dengan nilai kontrak mencapai $76.450 (sekitar Rp1,2 miliar). Tujuannya untuk menguji dan mengevaluasi tingkat kenyamanan 17.000 kamar hotel mereka.

Contoh lainnya adalah Roisin Madigan, seorang mahasiswa asal Manchester, yang mengantongi $1.270 (sekitar Rp20 juta) hanya dengan bertugas tidur di atas tempat tidur perancang busana ternama setiap hari selama satu bulan penuh.

Berbagai catatan tersebut membuktikan bahwa professional sleeper bukan sekadar angan-angan. Di tengah dunia yang kian menghargai riset dan kualitas hidup, memejamkan mata secara profesional pun menjadi jalan karier yang menjanjikan.

Baca juga artikel terkait SC BOLD atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Side Job
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Iswara N Raditya