tirto.id - Kebesaran Volkswagen (VW) sebagai sebuah merek tidak hanya terbatas dalam urusan reputasi. Fakta di lapangan pun membuktikan bahwa grup otomotif tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Setidaknya dalam tiga tahun terakhir, dari 2023 hingga 2025, VW selalu menduduki posisi kedua sebagai pabrikan mobil dengan volume penjualan terbesar sejagat raya, hanya kalah dari Toyota.
Memang ada perbedaan mencolok antara Toyota dan VW. Jika Toyota hanya memiliki empat jenama di bawahnya (Toyota, Lexus, Daihatsu, dan Hino), VW punya jauh lebih banyak. Selain VW sendiri, ada Audi, Porsche, Lamborghini, Bentley, Skoda, SEAT, CUPRA, dan VW Commercial Vehicles, yang bernaung di bawah perusahaan asal Wolfsburg, Jerman, tersebut. Bugatti pun sebelumnya sempat berada di bawah payung mereka, sebelum dilego oleh Porsche ke sebuah konsorsium asal Amerika Serikat (AS).
Kendati demikian, satu hal yang tak bisa terbantahkan adalah bahwa VW tetaplah perusahaan otomotif terbesar kedua, tak peduli seperti apa strukturnya. Toh, Toyota pun memiliki saham di sejumlah perusahaan otomotif lain, macam Subaru, Mazda, dan Suzuki. Demikianlah memang realitas industri otomotif kiwari. Ada banyak sekali merek yang bernaung di bawah satu perusahaan induk.
Nah, sebagai perusahaan otomotif terbesar kedua di dunia, wajar kiranya apabila kita mengira bahwa produk paling banyak dihasilkan VW adalah produk otomotif, entah kendaraan, suku cadang, aksesoris, maupun hal-hal yang berkaitan langsung dengan mobil dan sepeda motor (Ducati juga berada di bawah bendera VW).
Namun, perkiraan itu ternyata melenceng jauh. Sebab, produk VW paling banyak dihasilkan sebenarnya adalah... sosis.
Ya, sosis. Lebih tepatnya, currywurst, sosis babi khas Jerman yang dikukus, lalu digoreng, dipotong-potong, sebelum dinikmati dengan siraman kuah kari. Hidangan tersebut sangat populer di Jerman, dan salah satu produsen terbesarnya adalah VW. Bahkan, oleh VW, produk sosisnya diperlakukan laiknya suku cadang lain: diberi nomor komponen 199 398 500 A. Secara resmi, nama sosis itu adalah Volkswagen Originalteil atau Suku Cadang Asli Volkswagen.
Awal Mula VW Bermain di Bidang Kuliner
Kisahnya bermula pada 1973, di pabrik utama VW di Wolfsburg. Awalnya, currywurst mulai diproduksi untuk memenuhi kebutuhan makan para pekerja di kantin pabrik VW.
Bagi VW, memproduksi makanan sendiri untuk konsumsi karyawan adalah tradisi yang sudah eksis setidaknya sejak 1938. Pasalnya, kala itu Wolfsburg masih sulit dijangkau pasokan makanan dari kota lain. Maka, mau tak mau, produksi swadaya jadi solusinya.
Selain perkara lokasi, produksi makanan secara swadaya oleh VW tak bisa dipisahkan dari sejarah kelam. Pada masa Perang Dunia II, khususnya sejak 1940, sebagian besar pekerja di pabrik Wolfsburg bukanlah karyawan yang digaji seperti sekarang, melainkan pekerja paksa, tawanan perang, dan tahanan kamp konsentrasi. Memproduksi makanan sendiri merupakan cara VW agar para pekerja tersebut tetap bertahan hidup.
Ketika perang berakhir, pabrik VW pun dibebaskan oleh Sekutu, lalu dipulihkan kembali sebagai pabrik yang "normal". Para pekerjanya diupah dengan layak dan mendapat fasilitas makan. Currywurst, yang kaya lemak, protein, dan karbohidrat, akhirnya dipilih jadi "makanan pokok" para pekerja VW.

Sejak pertama kali diproduksi, skala produksi currywurst VW terus berkembang. Pada 2019, menurut laporan Atlas Obscura, sebanyak 30 karyawan, yang sebagian besarnya merupakan jagal terlatih, ditugaskan memproduksi 18.000 batang sosis setiap harinya. Bahan bakunya dipasok dari peternakan di sekitar kota Wolfsburg, sedangkan resepnya tentu saja menjadi rahasia perusahaan.
Currywurst VW tersedia dalam dua ukuran: 13 sentimeter dan 25 sentimeter. Keduanya dikemas dalam bungkusan berisi lima batang. Tak lupa, saus tomat pendampingnya juga diproduksi sendiri, juga dengan nomor seri komponen khusus.
VW tidak hanya menjualnya di kantin pabrik, tetapi juga mendistribusikannya ke supermarket lokal, stadion sepak bola, bahkan menggunakannya sebagai hadiah bagi pelanggan yang baru membeli mobil VW.
Angka penjualannya pun bikin geleng-geleng kepala. Pada 2015 dan 2017, VW menjual lebih banyak sosis daripada mobil. Sekitar tujuh juta sosis diproduksi setiap tahunnya. Sekitar 40 persennya dikonsumsi oleh karyawan VW sendiri di enam pabriknya di Jerman, sementara 60 persen sisanya dijual ke publik. VW bahkan pernah secara resmi menyebut currywurst sebagai "produk terlaris mereka yang tidak memiliki roda".
Popularitas sosis VW tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya yang lebih luas. Currywurst adalah makanan rakyat Jerman. Makanan tersebut diciptakan pada 1949, dalam situasi pascaperang yang serba terbatas. Kala itu, seorang pedagang kaki lima di Berlin berhasil mendapatkan bumbu kari dan saus tomat dari tentara Inggris, lalu menjual sosis yang dibumbui dengan dua kondimen tersebut dengan harga murah.
Produk "Rakyat" yang Menopang Ekonomi Perusahaan
Secara harfiah, Volkswagen berarti "mobil rakyat". Pada akhirnya, wajar apabila mereka juga memproduksi sesuatu yang selama ini jadi "makanan rakyat" Jerman.
Bagi para pekerja pabrik, khususnya, sosis ini bukan sekadar santapan kala makan siang, melainkan identitas serta bagian dari ritme harian kehidupan di pabrik. Ketika presenter otomotif dari acara "Top Gear", Richard Hammond, berkunjung ke pabrik Wolfsburg, seorang pembuat sosis berkata, "Makanan ini sangat penting. Kalau tidak ada sosis, kita tidak bisa memproduksi mobil."
Pada 2021, tradisi produksi currywurst sempat terancam. CEO VW ketika itu, Herbert Diess, berinisiatif menghapuskan menu tersebut dari kantin di kantor pusat Wolfsburg, menggantinya dengan pilihan vegetarian dan vegan. Sontak, para pekerja mencak-mencak. Mereka tidak terima menu kesayangannya digantikan makanan yang kemungkinan besar rasanya tidak akan seenak currywurst.
Situasi tersebut sempat menjadi bola salju lantaran eks kanselir Jerman, Gerhard Schroeder, pun sampai buka suara. Kata Schroeder, currywurst adalah power bar bagi para pekerja pabrik.
Badai kecaman itu membuat manajemen VW akhirnya menyerah dan meminta maaf. Currywurst pun dikembalikan ke menu pada 2023. Ya, sebegitu powerful memang makanan tersebut di kalangan internal VW.
Kini, di tengah kesulitan finansial yang mendera VW, sosis itu makin menunjukkan peran pentingnya. Ketika penjualan mobil sedikit seret, penjualan sosis justru meroket.
Laporan The Guardian pada Maret 2025 menyebutkan, VW mencetak rekor penjualan baru soal makanan. Lebih dari 8,5 juta currywurst terjual sepanjang 2024, naik 200 ribu dibandingkan tahun sebelumnya. Itu terjadi di saat laba bersih VW turun 30,6 persen akibat berbagai masalah tadi.
Tentu saja, penjualan sosis semata tidak akan bisa jadi solusi bagi masalah keuangan VW. Akan tetapi, fakta kecil tersebut menunjukkan bahwa ada tradisi yang tidak bisa digoyahkan begitu saja oleh angin perubahan yang berembus kencang dari Cina di dunia otomotif.
Di tengah kencangnya arus modernisasi, elektrifikasi, bahkan otomatisasi, ada kepingan masa silam yang terus bertahan dan bahkan makin diinginkan. Dan bagi VW, kencangnya penjualan sosis semestinya bisa jadi pertanda bahwa semangat untuk melewati masa sulit masih berkobar.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































