Periksa Data

Prodi Mana yang Paling Diminati di SBMPTN?

Oleh: Hanif Gusman - 11 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
SBMPTN tidak hanya terkait gengsi namun juga kompetisi. Sejumlah program studi favorit menjadi incaran peserta. Mana sajakah yang paling favorit?
tirto.id - Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SBMPTN) 2019 telah dimulai. Pada periode 10-24 Juni 2019, para peserta dapat memilih dua program studi yang diinginkan di seluruh perguruan tinggi nasional (PTN) di Indonesia. Jika menilik tren pada tahun-tahun sebelumnya, program studi mana saja kira-kira yang akan menjadi favorit pada tahun ini?

SBMPTN merupakan salah satu dari dua jalur tes masuk perguruan tinggi negeri yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Jalur tes lain, yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN), telah diumumkan hasilnya 23 Maret lalu.

Pada jalur SNMPTN, para peserta diseleksi melalui penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan rapor dan portofolio akademik. Rapor yang diukur yaitu dari semester satu hingga semester lima bagi siswa SMA/SMK/MA dengan masa belajar tiga tahun.

Berbeda dengan SNMPTN, para peserta di SBMPTN diseleksi melalui ujian tulis. Sejak 2016, SBMPTN memperkenalkan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam proses seleksi. Perguruan tinggi negeri yang termasuk dalam SBMPTN menyediakan kuota minimal 40 persen, dan 20 persen di SNMPTN dari total kuota di masing-masing PTN.


Meskipun menyediakan kuota yang lebih besar daripada SNMPTN, Kemenristekdikti menilai SBMPTN dinilai lebih bergengsi ketimbang SNMPTN.

"Seleksi melalui jalur rapor atau SNMPTN memang kurang menarik buat siswa karena sebagian berpendapat kalau SBMPTN lebih mempertaruhkan kemampuan dan bergengsi bagi siswa untuk seleksi masuk PTN," ujar Direktur Kemahasiswaan Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti Didin Wahidin kepada Antara di Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Selain mempertaruhkan kemampuan, Didin juga menilai SBMPTN juga mempunyai tingkat prediksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan SNMPTN.

Pertanyaannya: Berapa banyak pendaftar melalui SBMPTN tahun-tahun sebelumnya, dan program studi apa saja yang paling diminati oleh para peserta?

Pada SBMPTN 2014, peserta tercatat sebanyak 664.509 yang terdiri atas 583.590 peserta reguler dan 80.919 peserta bidik misi. Para peserta tersebut memperebutkan tempat di 64 PTN yang turut serta dengan daya tampung sebesar 91.294 mahasiswa baru.

Jumlah tersebut meningkat pada 2015 menjadi 764.185 peserta yang memperebutkan 115.788 kursi mahasiswa baru di 74 PTN. Para peserta terdiri atas 763.499 peserta reguler dan 90.686 peserta bidikmisi.

Meskipun pada SBMPTN 2016 jumlah daya tampung meningkat menjadi 126.804 di 78 PTN, jumlah peserta justru turun 5,61 persen dari tahun sebelumnya menjadi 721.326 peserta.

Infografik Periksa Data Prodi yang Paling Diminati di SBMPTN
Infografik Periksa Data Prodi yang Paling Diminati di SBMPTN. tirto.id/Quita


Pada 2017 dan 2018, meskipun daya tampung yang disediakan tidak berubah sebanyak 128.085 kursi mahasiswa baru, tetapi peserta pada SBMPTN 2018 meningkat 7,90 persen menjadi 860.001 peserta dibandingkan SBMPTN 2017 sebesar 797.023 peserta.

Kedokteran Unpad Terpopuler


Sejalan dengan jumlah peserta secara umum yang cenderung meningkat setiap tahunnya, peserta yang meminati program studi tertentu juga semakin bertambah. Program studi yang paling diminati peserta yaitu kedokteran di kelompok sains dan teknologi (saintek), serta ilmu hukum dan ilmu komunikasi di kelompok sosial dan humaniora (soshum).


Berdasarkan penyelenggaraan SBMPTN pada dua tahun terakhir, program studi Pendidikan Dokter di Universitas Padjadjaran (Unpad) merupakan pilihan favorit. Pada SBMPTN 2017, program studi yang menyediakan kuota sebesar 164 itu diminati 5.979 peserta. Sedangkan pada 2018, peminatnya meningkat menjadi 6.513 peserta dengan daya tampung 165 kursi.

Selain di Unpad, program studi Kedokteran di Universitas Sebelas Maret (UNS) juga menjadi favorit peserta. Pada 2017, sebanyak 5.294 peserta memilih program studi tersebut. Lalu pada 2018, peminat meningkat menjadi 5.658 peserta.

Program studi Pendidikan Dokter di Universitas Hasanuddin (Unhas) juga diminati banyak peserta. Tercatat pada 2017 sebanyak 4.914 peserta dan 5.335 peserta pada 2018. Bahkan, pada tahun yang sama, Pendidikan Dokter di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) juga termasuk 10 program studi dengan peminat terbanyak, yaitu sebanyak 4.902 peserta.

Infografik Periksa Data Prodi yang Paling Diminati di SBMPTN
Infografik Periksa Data Prodi yang Paling Diminati di SBMPTN. tirto.id/Quita


Sementara itu, pada SBMPTN 2017 di kelompok Soshum, program studi Manajemen, Ilmu Hukum, dan Ilmu Komunikasi merupakan favorit para peserta. Program studi Manajemen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), misalnya, merupakan pilihan terbanyak ketiga dengan 5.031 peserta.

Program studi Ilmu Hukum dan Ilmu Komunikasi di Unpad juga menjadi favorit para peserta di SBMPTN 2017. Tercatat sebanyak 4.958 peserta memilih Ilmu Hukum Unpad dan 4.937 peserta memilih Ilmu Komunikasi Unpad.

Selain di Unpad, program studi Ilmu Hukum di Universitas Indonesia (UI) dan di Universitas Brawijaya (Unbraw) juga banyak diminati peserta, masing-masing sebanyak 4.297 peserta di UI dan 5.158 peserta di Unbraw.

Di SBMPTN 2018, program studi kelompok Soshum yang paling diminati menjadi dua saja: Ilmu Hukum dan Ilmu Komunikasi. Kedua program studi tersebut tersebar di Unpad (Ilmu Hukum dan Ilmu Komunikasi), Unbraw, UNJ, dan UPN Veteran Jakarta.

Meskipun membutuhkan biaya kuliah yang terhitung mahal, peminat program studi Kedokteran sepertinya saat ini masih belum kekurangan peminat jika berkaca pada SBMPTN dalam dua tahun terakhir. Sedangkan menurut riset mandiri Tirto sebelumnya, program studi Ilmu Komunikasi memang menjadi favorit siswa SMA/MA di kelompok Soshum.

Baca juga artikel terkait SBMPTN 2019 atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Pendidikan)


Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara