Prasangka Terhadap Lelaki Cina dalam Urusan Cinta

Oleh: Patresia Kirnandita - 4 Maret 2017
Dibaca Normal 5 menit
Lelaki keturunan Asia (termasuk Cina) di negara Barat kurang disukai karena anggapan-anggapan tertentu.
tirto.id - “Cowok dari latar belakang etnis atau ras apa yang kamu sukai?”

Pertanyaan itu saya lontarkan saat sedang bercengkerama dengan empat teman perempuan. Sebelumnya, saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyatakan bahwa tak banyak perempuan di Amerika Serikat yang memilih laki-laki Asia sebagai teman kencan.

Keempat teman berbincang saya berasal dari etnis berbeda. Ana berdarah Batak, Nia keturunan Betawi, Sella putri pasangan Jawa-Tionghoa, dan ibu Rere keturunan India. Mayoritas dari mereka menjawab lebih menyukai laki-laki Asia. Mulanya, saya mengira jawaban mereka menunjukkan hal yang berseberangan dengan tulisan yang saya baca sebelumnya.

Tetapi saat saya mengerucutkan kategori Asia yang sangat beragam itu menjadi laki-laki berwajah oriental atau keturunan Tionghoa, Ana, Rere, dan Sella menyatakan tidak begitu menyukai laki-laki yang datang dari latar belakang subras tersebut. Hanya Nia yang mengungkapkan dirinya kerap terlibat dalam relasi dengan laki-laki Tionghoa. Itupun tak disebabkan preferensi pribadi, melainkan, kata Nia, "sebuah kebetulan."

Ditanyai alasannya tidak begitu menyenangi laki-laki Tionghoa, Ana yang bekerja di perusahaan bidang IT mengatakan, “Secara fisik, laki-laki keturunan Tionghoa kurang menarik buat gue.” Hal ini pun senada dengan argumentasi Rere dan Sella. Meski memiliki darah Tionghoa, Sella berujar dirinya lebih suka laki-laki dari suku lain.

"Gimana, ya… Kalau menurut gue, laki-laki Tionghoa itu kurang macho sih,” ucapnya, yang langsung ditimpali Rere: “Iya, gue sukanya cowok yang lebih messy, berjenggot dan berkumis, sementara laki-laki Tionghoa kan keliatan lebih klimis dan bersih.”

Meski yang mereka katakan memang tidak mewakili pendapat umum, pendapat mereka mengindikasikan adanya stereotip tertentu seperti yang saya pernah baca.

Laki-Laki Asia? Asia yang Mana?

Menyebut kata ‘Asia’ sehubungan dengan preferensi berkencan bisa menjadi hal ambigu bagi banyak orang. Asia yang mana? Ciri fisik orang Timur Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara tidak bisa dikatakan sama. Namun, tidak sekali dua kali orang di negara-negara Barat mempeyorasikan makna orang Asia sebagai mereka yang bermata sipit dan berkulit kuning.

Salah satu contohnya adalah saat Steve Harvey berseloroh rasis seputar laki-laki Asia dan mendapat kecaman dari netizen. “Apakah kamu menyukai laki-laki Asia? Tidak. Terima kasih.” Demikian ucapan Harvey yang dikutip di Twitter AJ+.

Media tersebut juga memotret perilaku Harvey yang membuat lelucon dengan buku bertajuk How To Date a White Woman: A Practical Guide for Asian Men. “Kamu suka laki-laki Asia? Saya bahkan tak menyukai makanan Cina. Saya tidak menyantap sesuatu yang [namanya] tak bisa saya baca,” ujar Harvey yang tidak membutuhkan waktu lama untuk mengundang reaksi keras di media sosial.

Asosiasi laki-laki Asia dengan kaum Adam asal Cina dan sekitarnya juga terjadi pada ajang Piala Oscar 2016. Situs NYTimes melaporkan saat Chris Rock membuat lelucon soal stereotip Asia dengan melibatkan tiga anak kecil bernama Ming Zu, Bao Ling, dan David Moskowitz yang mengenakan setelan jas serta membawa koper.

Secara implisit, anak-anak kecil ini mengafirmasi stereotip orang Asia yang merupakan pekerja keras dan pandai di bidang matematika. “Kalau ada yang marah dengan lelucon ini, twit saja menggunakan ponsel yang juga dibuat oleh anak-anak ini,” demikian candaan Rock yang kian menyinggung karena mengangkat isu buruh anak di Asia.

Tak jauh berbeda dengan asumsi Rock mengenai representasi orang Asia, dalam ajang yang sama, Sacha Baron Cohen pun membuat ujaran jenaka ofensif yang mengasosiasikan orang-orang Asia dengan karakter Minions.

“Bagaimana mungkin tak ada Oscra [sic] untuk mereka—orang-orang kulit kuning dengan kemaluan kecil? Kalian tahu—the Minions,” celetuknya saat membacakan nominasi film terbaik seperti dilansir situs Mic.

Stereotipe Non-Asia tentang Laki-Laki Asia

Dalam observasi di dunia kencan di AS yang dilakukan oleh professional matchmaker, Emma Tessler, didapat fakta bahwa preferensi ras masih jamak pada setiap kliennya. Tessler yang telah 2.500 kali berhasil menjodohkan orang dalam dua setengah tahun menulis pada situs The Establishment bahwa 90 persen kliennya mempunyai preferensi ras dalam memilih pasangan. Menariknya, 89,9 persen klien menyatakan lebih menyukai orang kulit putih, padahal dari seluruh klien Tessler, hanya 55 persen yang merupakan orang kulit putih.

Studi lain yang dilakukan Fisman et. al. pada 2008 pun menunjukkan masih besarnya preferensi ras di Negeri Paman Sam tersebut. Dalam tulisan bertajuk “Racial Preferences in Dating,” mereka menyimpulkan bahwa jumlah pasangan antarrasial berada di bawah pasangan sama ras yang diasumsikan terjadi karena kurangnya interaksi antara orang-orang dari latar belakang ras yang berbeda.

Terlepas dari kedua studi ini, terdapat fenomena lain yang spesifik mengenai preferensi laki-laki dari berbagai latar belakang ras terhadap perempuan Asia. Hal ini sebenarnya bukanlah fenomena anyar. Sebuah istilah rasis seperti ‘yellow fever’ yang merujuk pada kesukaan terhadap perempuan-perempuan Asia adalah hal yang jamak didapati dalam percakapan di dunia kencan.

Lihat saja pasangan Mark Zuckerberg-Priscilla Chan dan John Lennon-Yoko Ono, atau mantan pasangan Nicolas Cage-Alice Kim dan Hugh Grant-Tinglan Hong. Berseberangan dengan hal ini, laki-laki Asia justru lebih sedikit digandrungi perempuan selain sesama Asia.

Hasil survei yang dilakukan aplikasi kencan OKCupid terhadap sekitar 25 juta pengguna dari tahun 2009-2014 menunjukkan laki-laki dari aneka ras di luar Asia menganggap perempuan Asia 1-11 persen lebih menarik dari perempuan rata-rata. Sementara, statistik menunjukkan minus 11-19 persen terkait preferensi perempuan kulit hitam, kulit putih, dan Latin terhadap laki-laki Asia.

Pengalaman Jocelyn Eikenburg saat berada di Cina pun mengafirmasi preferensi ini. Seperti ditulisnya di Huffington Post, sebagian besar teman-teman ekspatriatnya tak merasa laki-laki lokal di sana menarik. Pada tahun 2001, Eikenburg sempat bekerja dengan kolega dari Eropa yang menyatakan bayi-bayi Cina begitu memikat hati, sementara laki-laki di sana dipandangnya menjijikkan.

Stereotip miring seputar laki-laki Asia tak pelak membentuk kecenderungan ini. Salah satu representasi laki-laki Asia yang negatif ditemukan Eikenburg dalam blog seorang ekspatriat di Shanghai pada 2010. Dalam blog tersebut, penulis memasukkan potongan adegan film Sixteen Candles, saat seorang laki-laki Asia, Long Duk Dong, berdansa dengan perempuan kulit putih dan membenamkan kepalanya di dada perempuan itu. Gambar ini adalah salah satu penggambaran laki-laki Asia dengan stereotip negatif: berfisik lebih kecil dan pendek serta cabul.

Tak berhenti di situ, laki-laki Asia juga dilekatkan dengan sederet stereotip negatif lainnya seperti tak begitu jantan, kurang atletis, tak punya kepribadian dan kurang memiliki pendapat yang unik, bahkan dikatakan mempunyai kebiasaan jorok.

Laporan Sydney Morning Herald juga mengutip pendapat Dr. Janet Hall, seorang psikolog klinis, yang mengungkapkan bahwa budaya pop memegang peran penting dalam pembentukan stereotip negatif laki-laki Cina. “Mereka sering kali digambarkan sebagai kutu buku dengan intelegensi tinggi, tetapi berkarisma rendah,” ujar Hall.

Memilih Pasangan Tionghoa: Pertimbangan Ras, Agama, atau Sifat?

“Kalau gue sih nggak masalah dia Tionghoa, yang penting agamanya sama,” begitu disampaikan oleh Nia, teman saya tadi. Ia kemudian melanjutkan pengalamannya seputar berpasangan dengan laki-laki Tionghoa beberapa kali. “Gue pernah lagi makan bareng cowok gue, terus diamati oleh orang-orang sekitar. Mereka heran kali ya, melihat cewek berjilbab kayak gue kencan dengan cowok Tionghoa. Padahal, dia mualaf,” katanya seraya tertawa kecil.

Keheranan orang-orang sekitar seperti yang disebutkan Nia ini bukan tak beralasan. Mayoritas Tionghoa di negara ini bukan muslim. Aturan perkawinan di Indonesia pun mempersulit pernikahan beda agama sehingga melihat pasangan beda agama (dan beda ras) seperti Nia dan pacarnya yang Tionghoa adalah hal yang tak lazim.

Sementara menurut Sella, selain persoalan fisik, ia juga menganggap berpacaran dengan orang Tionghoa lebih ribet. Ia menyebut tradisi dalam keluarga besar Tionghoa yang bisa menjadi hambatan atau gap.

Stereotip ini pun sejalan dengan pendapat berdasarkan pengalaman salah seorang kawan saya yang merupakan laki-laki keturunan Tionghoa, Kevin. “Biasanya orang [suku lain] berpikir, 'Ah, Tionghoa, pasti ribet, masalah sama orangtua dan temen-temen Tionghoa-nya’ atau ‘Tapi dia kan Tionghoa, pasti maunya sama Tionghoa juga.’”

Menurut Kevin, ia bahkan sempat mendapat label ofensif dari gurunya semasa sekolah yang mengasosiasikan kenakalannya dan sesama teman minoritasnya yang lain sebagai hasil didikan orangtua Tionghoa. Laki-laki Tionghoa seperti dirinya juga tak jarang dianggap sebagai kutu buku, mengafirmasi stereotip yang berkembang secara di negara Barat, di samping memiliki sifat pelit dan penggila game.

“Kami juga enggak jarang dianggap lebih kaya dibanding lainnya. Padahal, kenyataannya enggak begitu,” imbuh Kevin. Anggapan ini tak bisa terlepas dari catatan historis penguasa sebelumnya yang memberi ruang gerak yang luas bagi pengusaha-pengusaha keturunan Tionghoa di Indonesia. Sejumlah nama seperti Liem Soe Liong, Liem Seeng Tee, dan Mochtar Riady adalah representasi dari pengusaha-pengusaha sukses di Indonesia yang tak pelak turut meneguhkan stereotip Tionghoa yang makmur.

“Begitu mereka lihat gue ke kampus pakai kendaraan umum, baru stereotip itu meluntur,” lanjut laki-laki yang bekerja di perusahaan penyedia jasa telekomunikasi ini.

Stereotip rupanya tak datang dari sisi non-Tionghoa saja. Kevin juga menceritakan, ibunya lebih senang bila ia memiliki pasangan dari latar belakang serupa.

“Nanti kalau nikah sama non Tionghoa, bisa dirongrong sama keluarganya,” demikian Kevin meneruskan opini ibunya kepada saya.

Hal ini seiring dengan pengakuan Sella, “Biasanya orang dari generasi sebelumnya lebih senang [jika kita] mendapat jodoh sesama Tionghoa, buat meneruskan keturunan.”

Infografik stereotipe laki laki asia


Aneka perbedaan antara orang Tionghoa dan suku lain beserta sentimen dan stereotip yang menyertainya kerap jadi kendala dalam berelasi, bahkan menimbulkan kesan eksklusivitas. Dalam buku Orang Indonesia Tionghoa: Mencari Identitas (2009) tulisan Aimee Dawis, Ph.D., dicantumkan pengakuan Rina, salah satu perempuan keturunan Tionghoa Medan yang mengatakan dirinya tak bisa terlalu dekat dengan orang dari suku lain lantaran kelompoknya dianggap memencilkan diri dan merampok uang kaum miskin.

Sementara, pengalaman Carolyn yang keturunan Tionghoa Manado, ia tak bermasalah bergaul dengan non-Tionghoa asalkan seagama. Carolyn sepaham dengan Ferry yang juga seorang Tionghoa Manado yang menyatakan, “Waktu kami mencari jodoh, tentu saja kami lebih suka menikahi gadis Tionghoa, tetapi kami tidak akan pernah membayangkan menikahi seorang Muslim. Keluarga kami mungkin menerima keputusan kami untuk mengawini gadis suku lain, asal dia pemeluk Kristen.”

Sekalipun budaya populer dari negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Taiwan, dan Korea sempat booming dan memicu idolisasi bintang-bintang Asia di Indonesia, ia tak serta merta berpengaruh terhadap persepsi perempuan lokal terhadap laki-laki Tionghoa di sini.

Dalam tulisan ilmiah bertajuk “Consuming Taiwanese boys culture: Watching Meteor Garden with urban Kampung women in Indonesia”, Rachmah Ida memaparkan bukti bahwa penggambaran alternatif mengenai laki-laki Asia seperti di serial Taiwan tersebut tak mempengaruhi persepsi perempuan muda di Indonesia terhadap laki-laki Tionghoa.

Salah satu perempuan usia 29 tahun yang ditemui Ida saat meneliti bahkan sempat berujar dengan sinis, “Cewek-cewek suka F4, tapi mereka tetap nggak suka orang-orang Tionghoa [di Indonesia]. Mereka cuma suka nontonin cowok-cowok Tionghoa di TV.”

Serangkaian data dan pernyataan yang telah dipaparkan ini memperlihatkan bahwa di masyarakat progresif seperti sekarang pun, isu rasial dan stereotipe negatif seolah-olah langgeng. Bukti-bukti yang mencoba mematahkan opini dominan mengenai suatu ras masih tak cukup dan membutuhkan perjalanan panjang untuk mengubah atmosfer pergaulan antarras di berbagai tempat di dunia.

Namun, bukankah terlalu dangkal jika dalam urusan asmara kita malah menakar dari tampilan luar dan berangkat dari asumsi-asumsi tertentu terkait ras dan kepercayaannya?

Baca juga artikel terkait CINA atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani