Menuju konten utama

Prabowo: Negara Besar Ajarkan Demokrasi, tapi Mereka Langgar HAM

Prabowo menekankan pentingnya pemahaman sejarah bagi bangsa Indonesia.

Prabowo: Negara Besar Ajarkan Demokrasi, tapi Mereka Langgar HAM
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimat dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). Forum yang dihadiri jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, pimpinan DPRD, TNI, Polri, Kejaksaan, BIN, dan BPS tersebut bertujuan memperkuat sinergi pusat dan daerah dalam mengimplementasikan program prioritas Presiden menuju Indonesia Emas 2045. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto mengkritik negara-negara besar yang dinilainya justru melanggar prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) yang selama ini mereka ajarkan kepada negara lain. Kritik itu disampaikan Prabowo saat menyinggung sikap sejumlah negara yang memilih diam ketika terjadi pembantaian terhadap warga sipil tak berdosa.

“Puluhan ribu orang tidak berdosa dibantai dan banyak negara yang diam. Di mana hak asasi manusia? Di mana demokrasi yang mereka ajarkan?" kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Selasa (2/2/2026).

Prabowo menilai, praktik standar ganda kerap dilakukan oleh negara-negara besar dalam menjalankan nilai demokrasi, HAM, dan supremasi hukum.

Menurut dia, prinsip-prinsip tersebut sering dikumandangkan, namun justru dilanggar oleh pihak yang mengajarkannya.

“Kita melihat sekarang negara-negara besar yang mengajarkan kita tentang demokrasi, hak asasi manusia, the rule of law, menjaga lingkungan hidup, tetapi mereka yang melanggar apa yang mereka ajarkan,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menekankan pentingnya pemahaman sejarah bagi bangsa Indonesia.

Ia menyebut Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi intervensi dan penjajahan, sehingga sejarah harus menjadi pelajaran agar kesalahan serupa tidak terulang.

Presiden ke-8 RI itu juga menyinggung pandangan sebagian pihak yang menganggap Indonesia sebagai negara yang mustahil bersatu karena keberagaman suku, ras, agama, dan bahasa.

Namun, ia mengingatkan para pemimpin nasional agar tidak bersikap lugu dan naif dalam membaca dinamika global.

“Saudara-saudara, kita dianggap the impossible nation, tetapi kita harus jadi pemimpin yang waspada, yang mengerti situasi, yang memahami sejarah bangsa kita sendiri,” ujar Presiden.

Prabowo mengingatkan para kepala daerah untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa. Menurut dia, bangsa yang melupakan sejarah berisiko mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.

Ia kembali mencontohkan konflik global yang menelan korban puluhan ribu warga sipil, termasuk perempuan, orang tua, dan anak-anak yang tidak bersalah.

Ironisnya, kata Prabowo, banyak negara justru memilih untuk diam. Karena itu, Prabowo meminta para pemimpin di Indonesia, termasuk kepala daerah, agar bersikap lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh standar ganda dalam politik global.

Ia menegaskan, pemimpin harus memahami sejarah serta memperjuangkan kepentingan bangsa dengan sikap tegas dan bermartabat.

"Di mana hak asasi manusia, di mana demokrasi yang mereka ajarkan, karena itu saudara-saudara kita sebagai pemimpin, kita harus waspada kita harus mengerti," ujarnya.

Baca juga artikel terkait PRABOWO atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Farida Susanty