Potensi Naiknya Harga BBM Non-Subsidi Karena Serangan AS ke Suriah

Oleh: Damianus Andreas - 16 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ekonom dari INDEF menilai serangan AS ke Suriah dapat berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
tirto.id - “Saya baru saja memerintahkan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat untuk melakukan serangan secara tepat terhadap target-target yang berhubungan dengan kemampuan senjata kimia diktator Suriah Bashar al-Assad.”

Presiden AS Donald Trump mengucapkan kalimat itu dari Gedung Putih. Dilansir dari The Guardian, dalam pidatonya, Trump mengatakan setahun lalu, Assad meluncurkan senjata kimia berbahaya pada rakyatnya. AS merespons dengan serangan 58 misil yang menghancurkan 20 persen Angkatan Udara Siria.

Pada Sabtu kemarin, Trump mengklaim rezim Assad kembali meluncurkan senjata kimia berbahaya yang menghancurkan warga sipil di dekat kota Douma, dekat ibukota Suriah, Damaskus. Trump juga menyampaikan pesan untuk dua negara yang dianggap paling bertanggung jawab mendukung, menyediakan sarana dan sekaligus membiayai rezim Assad.

“Kepada Iran dan Rusia, yang ingin saya tanyakan: bangsa macam apa yang ingin diasosiasikan dengan pembunuhan massal dari orang-orang yang tak berdosa, wanita dan anak-anak?" ujar Trump.

Langkah Trump itu sempat ditentang Rusia. Namun, Rusia gagal memenangkan dukungan PBB untuk memberi kecaman atas serangan militer yang diluncurkan AS, Inggris dan Perancis. Tuntutan Rusia hanya memenangkan tiga suara di Dewan Keamanan.

Sebuah rancangan resolusi Rusia menyerukan agar ketiga negara sekutu itu menahan diri dari serangan lebih lanjut ke Suriah. Namun, delapan negara memilih menentang langkah Rusia tersebut, sedangkan empat negara abstain.

Cina dan Bolivia mendukung langkah Rusia, sementara Swedia, Belanda, Polandia, Kuwait, dan Pantai Gading menentangnya. Peru, Kazakhstan, Ethiopia dan Republik Guinea Khatulistiwa abstain.

“Anda tidak hanya menempatkan diri Anda di atas hukum internasional, tetapi Anda mencoba untuk menulis kembali hukum internasional,” kata Duta Besar Rusia Vassily Nebenzia untuk PBB setelah pemungutan suara, seperti dilansir Straits Times.


Serangan militer AS dan sekutunya ke Suriah jelas berdampak perekonomian dunia, khususnya harga minyak. Tak tanggung-tanggung, harga minyak global bahkan terkerek naik pada penutupan akhir pekan lalu mencapai titik tertingginya sejak 2014.

Seperti dikutip Reuters, harga minyak mentah Brent pada penutupan perdagangan Jumat (13/4/2018) lalu sempat tercatat sebesar 72,58 dolar AS per barel. Dengan demikian, harga minyak global tersebut meningkat hingga 8 persen dalam sepekan.

Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI). Reuters menyebutkan bahwa harga minyak WTI meningkat 8 persen dalam sepekan hingga mencapai 67,39 dolar AS per barel saat penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Selain menorehkan harga minyak acuan tertinggi dalam kurun waktu 3,5 tahun terakhir, kenaikan dalam sepekan itu juga merupakan yang terbesar sejak Juli 2017.

Partner dari Again Capital Management, John Kilduff, mengungkapkan para traders berupaya mengunci posisi beli pada kontrak minyak tanah sebelum akhir pekan lalu. Langkah tersebut diambil karena Suriah memiliki hubungan kuat dengan negara produsen minyak lain, sehingga risikonya bisa sampai ke stabilitas global.

“Kegelisahan geopolitik terus-terusan berpengaruh pada harga, mengingat kita semakin dekat dengan serangan. Suriah adalah klien dari Rusia maupun Iran. Saat ketegangannya semakin intens, saya pikir itulah yang pasar mulai khawatirkan,” ungkap Kilduff seperti dikutip Reuters.

Infografik Current Issue persediaan minyak suriah


Dampaknya untuk Indonesia

Pengamat energi dari Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto memprediksi, harga minyak global akan naik dalam jangka pendek seiring dengan serangan militer AS ke Suriah. Ia menilai, serangan tersebut bakal berdampak ke kawasan Timur Tengah secara menyeluruh, sehingga mau tidak mau akan melibatkan pemain utama minyak dan gas dunia, seperti Arab Saudi dan Iran.

Kendati demikian, Pri Agung belum bisa memprediks besaran kenaikan harga minyak akibat serangan tersebut. Alasannya, kata dia, peningkatan harga akan dipengaruhi seberapa besar konflik itu berlangsung.

“Serta bagaimana para negara itu mengisolasi konflik tersebut terhadap masalah pasokan minyak dunia,” kata Pri Agung kepada Tirto, Senin (16/4/2018).

Menurut Pri Agung, meski serangan tersebut berpengaruh terhadap harga minyak dunia, akan tetapi dampak langsung ke Indonesia baru akan kelihatan apabila ada kebijakan harga yang diambil pemerintah.

Sementara ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai serangan tersebut dapat berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Sementara untuk yang BBM subsidi, Bhima tidak begitu khawatir mengingat komitmen pemerintah yang tidak akan menaikkan harga BBM subsidi hingga 2019.

“Pasti akan ada penyesuaian harga untuk yang nonsubsidi. Belum lagi penyaluran Premium di Jamali (Jawa, Madura, Bali) turun. Masyarakat akan shifting ke Pertalite,” ucap Bhima kepada Tirto.

Beralihnya penggunaan jenis BBM ke nonsubsidi yang diiringi potensi kenaikan harga tersebut akan berdampak juga pada pengeluaran masyarakat. “Apalagi ini jelang lebaran. Orang pasti akan lebih banyak melakukan pengeluaran,” kata Bhima.

Kendati demikian, kata dia, dampak serangan militer tersebut tidak selalu negatif. Indonesia sebetulnya bisa memanfaatkan momentum ini dengan meningkatkan investasi di sektor-sektor komoditas, seperti CPO dan batu bara.

Terkat masalah ini, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengakui, pemerintah telah mengantisipasi dampak yang bisa timbul dari serangan tersebut. Kendati demikian, Djoko tidak merinci lebih lanjut langkah-langkah dan antisipasi seperti apa yang dipersiapkan.

“Semoga tidak akan berpengaruh ke harga BBM,” kata Djoko secara singkat saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Baca juga artikel terkait KONFLIK SURIAH atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Abdul Aziz