tirto.id - Warga negara (WN) asal Iran berinisial MT ditangkap polisi terkait kasus home industry atau clandestine lab narkotika jenis sabu-sabu. Penangkapan tersebut terkait temuan laboratorium rumahan atau clandestine lab pembuat sabu-sabu di kawasan Jakarta Barat.
Selain MT, polisi juga menangkap R, WNI yang berperan sebagai fasilitator.
“Kami sampaikan pengungkapan home industry atau yang sering kita kenal dengan clandestine lab, jenis sabu-sabu. Ini diungkap oleh Polres Metro Jakarta Barat,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Ahmad David, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (30/9/2025).
David menjelaskan bahan baku sabu-sabu tersebut didatangkan langsung dari Iran. Dia menegaskan peredaran prekursor narkotika lintas negara menjadi ancaman serius yang harus diwaspadai.
Dari laboratorium itu, petugas menemukan 67,7 liter bahan baku sabu-sabu cair. Setiap liternya bisa diproduksi menjadi 2 hingga 3 kilogram sabu-sabu kristal. Jika seluruh bahan diproses, maka hasilnya bisa mencapai sekitar 200 kilogram sabu-sabu siap edar.
“Sabu-sabu cair ini, satu liternya dapat membuat 2 sampai dengan 3 kilogram sabu-sabu padat, bentuk kristal. Sehingga kalau kita hitung, 67,7 liter ini dapat menghasilkan narkotika jenis sabu-sabu seberat 200 kilogram,” jelasnya.
Kasus ini menjadi bagian dari penyitaan 1,14 ton narkoba dari hasil pengungkapan kasus selama periode Juli hingga September 2025 di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Barang bukti tersebut bernilai Rp1,13 triliun apabila beredar di pasar gelap.
Dalam tiga bulan terakhir, David menyebut ada 1.719 kasus peredaran narkoba dengan 2.318 tersangka. Dari jumlah tersebut, 1.542 orang merupakan pengguna atau korban yang ditempatkan dalam program rehabilitasi. Polda Metro Jaya juga disebutnya telah menyelamatkan 4 juta lebih masyarakat dari paparan narkoba.
“[Kami] telah menyelamatkan penduduk Jakarta dan sekitarnya dari bahaya narkoba, selaku penyalahgunaan narkoba, kami telah menyelamatkan 4.563.791 nyawa manusia masyarakat Jakarta dari bahaya narkoba,” pungkas David.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































