Polesan Pochettino Mengubah Tottenham

Pemain Tottenham Hotspur mengepung pemain Fiorentina, Mauro Zarate, dalam pertandingan di White Hart Lane, London. FOTO/SHUTTERSTOCK
Oleh: Arlian Buana - 8 Mei 2016
Dibaca Normal 2 menit
Tottenham Hotspur memang gagal menjuarai Liga Inggris. Namun, torehannya pada musim kali ini cukup luar biasa karena mereka didominasi oleh pemain-pemain muda. walaupun berisikan pemain muda namun spurs menjadi salah satu club dengan permainan terbaik di EPL , berbeda dengan spurs yang dulu kini the lily white jauh lebih tangguh dalam berthan.
tirto.id - Sesungguhnya tidak ada juara dua atau juara tiga atau juara harapan. Juara hanya yang nomor satu. Tidak yang lainnya. Titik.

Kenyataan pahit itulah yang harus ditelan semua fans atau orang yang punya ikatan dengan Tottenham Hotspur selepas hasil seri 2-2 di kandang Chelsea memupus harapan mereka untuk menjuarai Liga Inggris. Di penghujung musim yang disebut para pandit sebagai anomali ini, semua mata tertuju pada Leicester City. Keberhasilan Leicester menjadi juara dianggap seperti kisah dari negeri dongeng. Seperti Daud menaklukkan Jalut—yang jumlahnya lebih dari satu. Tidak ada kemeriahan sorot kamera untuk nomor dua, apalagi nomor dua puluh.

Tak peduli Tottenham punya catatan bertahan paling impresif, tak peduli mereka adalah klub rangking satu di Inggris menurut Football Database, menjuarai liga berarti harus mengumpulkan poin paling banyak di liga, dan Tottenham gagal menyalip poin Leicester di tikungan terakhir. Bayangan pesta seragam putih di jalanan London yang sudah di depan mata seperti di musim 50-51 dan 60-61 harus dienyahkan.

Tapi perjalanan Tottenham musim ini patut dicatat sebagai perjalanan tim dengan skuad muda yang penuh determinasi, tanpa kompromi, dan mengagumkan. Mereka muda, solid, bermain dengan disiplin tinggi, dan dalam batas tertentu, mereka berhasil mengubah wajah klub. Tottenham tidak lagi dikenal sebagai kesebelasan yang memiliki segudang imajinasi menyerang tapi rentan di barisan belakang.

Selama satu dekade ke belakang, Tottenham diremehkan karena keroposnya mental bertahan. Dalam autobiografinya, Roy Keane, mantan kapten Manchester United yang bermain di bawah kepelatihan Alex Ferguson selama 12 tahun, mengungkap bagaimana Ferguson menyemangati timnya di ruang ganti sebelum menghadapi Tottenham. Hanya dengan kalimat singkat. "Lads, it's Tottenham". Kawan-kawan, ini Tottenham. Seluruh tim langsung paham maksudnya: cantik, tapi rapuh; tidak sulit meluluhlantakkannya.

Kesan itu tidak bisa lagi dilekatkan pada Tottenham di bawah asuhan Mauricio Pochettino. Musim ini, mereka membukukan diri sebagai tim dengan pertahanan terbaik di Liga Inggris. Hingga pekan ke-36, menyisakan dua laga sisa, Tottenham hanya kebobolan 28 gol. Sementara Leicester 34, Arsenal 34, dan Manchester City 38.

Sepanjang musim, anak asuh Pochettino menunjukkan permainan dengan pressing yang sangat baik dan menakutkan. Inilah kuncinya. Pressing ketat mereka memang tidak setinggi (sejak sepertiga lapangan lawan) dan sekonstan Southampon, tim asuhan Pochettino sebelumnya, tapi mereka lebih efektif mematikan serangan lawan.

Efektivitas ini bisa dilihat dari statistik permainan. Tottenham duduk di peringkat enam dalam hal rata-rata tekel per laga. Tapi yang signifikan, dari lima tim yang lebih unggul itu, hanya Liverpool yang penguasaan bolanya lebih tinggi dari Totenham. Sementara sisanya adalah tim-tim dengan penguasaan bola terendah musim ini. Dari sini jelas, Tottenham dan Liverpool (yang juga memainkan pressing tinggi) melakukan tekel, merebut bola, untuk kembali melakukan possession football, bukan sekadar mengamankan area pertahanan.

Tottenham juga mencatatkan rata-rata pelanggaran paling tinggi yakni 12,7 per game. Fakta ini membuat mereka tak bisa lagi diremehkan seperti yang dulu-dulu. Delle Alli, yang baru saja diganjar sebagai pemain muda terbaik Liga Inggris, adalah gelandang serang dengan jumlah intersep terbanyak, tidak ada gelandang serang di Liga Inggris yang mengalahkannya dalam hal merebut bola dari kaki lawan. Ingat, posisinya adalah gelandang serang, bukan gelandang bertahan. Tidak ada striker yang merebut bola sesering Harry Kane—yang sejauh ini merupakan top skor dengan 25 gol. Ini semua menunjukkan bagaimana Tottenham melakukan pressing.

Pochettino tidak pernah menyembunyikan dari mana inspirasinya dalam membangun tim. Di banyak kesempatan, ia mengaku berutang pada filosofi permainan gurunya, orang yang dianggapnya bapak dalam sepakbola, pelatih yang pernah mengalahkan Manchester United Alex Ferguson di Liga Eropa 2011-2012, Marcelo Bielsa. Filosofinya sederhana: pressing ketat, rebut bola dari lapangan bermain lawan sedini mungkin.



Pochettino sendiri, sebagai pemain, ditemukan langsung oleh Bielsa.

Pukul dua dini hari di tahun 1985, dua orang mengetuk pintu rumah keluarga Pochettino di kota kecil Murphy, provinsi Santa Fe, Argentina. Inilah ketukan pintu yang akan mengubah jalan hidup si kecil Mauricio yang sedang tertidur lelap. Dua orang itu adalah Jorge Griffa dan Marcelo Bielsa, koordinator akademi dan pencari bakat Newell's Old Boy. Hector Pochettino, sang ayah, membuka pintu rumah. Setelah basa-basi singkat, karena tidak mungkin membangunkan Mauricio untuk diajak bercakap-cakap, Bielsa meminta untuk melihat sang anak di kamar tidurnya. Hector mengizinkan.

Bielsa langsung terkesan dengan apa yang dilihatnya. "Itu kaki pesepakbola," katanya.

Lima tahun kemudian, Bielsa dipromosikan menjadi pelatih di tim utama Newell's Old Boy. Pochettino langsung diberinya kepercayaan untuk melakukan debut profesional di usia 18 tahun. Pada musim 1990-1991, mereka berhasil menjuarai Liga Argentina, setahun setelahnya mereka mencapai final Copa Libertadores.

Tottenham sekarang adalah proyeksi Pochettino atas Newell's era Pochetino. "Skuat kami dulu sangat mirip dengan skuat kami sekarang," katanya. "Dalam hal rata-rata usia pemain, dan keseimbangan antara pemain muda dan pemain berpengalaman."

Mereka boleh saja gagal juara musim ini, tapi musim depan mereka tak bisa lagi dianggap enteng. Tottenham telah menunjukkan tajinya sebagai penantang serius tim-tim besar.

Baca juga artikel terkait TOTTENHAM HOTSPUR atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight