tirto.id - Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan hingga April 2026 hari operasi pembangkit (HOP) untuk stok batu bara nasional berada di level 15,9 hari. Angka tersebut mencerminkan kondisi pasokan batu bara yang tetap aman.
“Untuk itu, kami juga mengapresiasi dukungan dari Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) agar tren HOP batu bara terus menunjukkan peningkatan. Dan ini tentu saja dalam rangka memperkuat keandalan pasokan listrik nasional,” ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, di Komplek Parlemen, Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).
Di sisi lain, hingga Maret 2026, sistem kelistrikan nasional berada dalam kondisi normal. Daya mampu netto (DMN)—yakni daya output bersih yang siap disalurkan ke jaringan—tercatat mencapai 71 gigawatt, dengan margin cadangan (reserve margin) sekitar 39 persen. Kondisi ini menegaskan bahwa pasokan listrik nasional saat ini berada dalam tingkat keandalan yang baik.
“Dan ini sangat penting untuk mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan juga kebutuhan masyarakat,” lanjut Darmawan.
Sementara itu, HOP untuk pasokan gas tercatat rata-rata sekitar 12 hari. Menurut Darmawan, kondisi ini menunjukkan bahwa pengiriman LNG telah berjalan sesuai jadwal tanpa kendala berarti.
“Untuk itu, kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasihh atas dukungan Kementerian ESDM dalam pemenuhan gas nasional untuk kebutuhan pembangkit PLN karena terjaga dengan baik,” ucapnya.
Meski pasokan batu bara dan gas dalam kondisi terjaga, PLN menilai tantangan ke depan adalah memperkuat kemandirian energi nasional. Karena itu, perseroan berkomitmen mengurangi ketergantungan pada energi berbasis impor.
Upaya tersebut akan dilakukan dengan meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik, terutama melalui penurunan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam sistem kelistrikan nasional.
“Dan menggantikannya dengan energi yang berbasis pada kekuatan domestik. Dan dalam hal ini, khususnya bagaimana sistem kelistrikan nasional Indonesia bisa melakukan penurunan konsumsi atau penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak),” tegas Darmawan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































