Menuju konten utama

Banjir Kembali Rendam Sejumlah Wilayah di Kabupaten Bandung

Banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Citarum dan beberapa anak sungai seperti Cikapundung, Sungai Cipalasari, dan Sungai Cigede.

Banjir Kembali Rendam Sejumlah Wilayah di Kabupaten Bandung
Banjir di Kelurahan Pasawahan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Senin (13/4/2026). tirto.id/Akmal Firmansyah/
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Banjir kembali merendam wilayah Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (13/4/2026) sore.

Pantauan kontributor Tirto pukul 16.00 WIB, banjir dengan ketinggian paha orang dewasa menyebabkan arus lalu lintas di kawasan industri Cisirung, Kelurahan Pasawahan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung terendam. Sejumlah kendaraan roda dua terpaksa diangkut oleh warga sekitar dan beberapa kendaraan yang hendak ke arah Jalan Palasari, Dayeuhkolot, putar balik.

Wawan, 64 tahun, warga setempat menuturkan banjir kerap terjadi setiap hujan turun selama beberapa hari berturut-turut.

Ia menyebut, selain merendam jalan, banjir juga berpotensi meluas ke wilayah lain seperti Citepus jika debit air terus meningkat. Warga pun berinisiatif membantu mengatur lalu lintas di titik-titik genangan.

“Kalau air terus naik, banjir bisa meluas sampai ke Citepus. Makanya warga di sini berinisiatif bantu ngatur lalu lintas di titik-titik genangan,” kata Wawan pada kontributor Tirto, Senin (13/4/2026).

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Beny Sonjaya, menuturkan banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Citarum dan beberapa anak sungai seperti Cikapundung, Sungai Cipalasari, dan Sungai Cigede.

“Banjir terjadi akibat luapan Sungai Citarum, Sungai Cikapundung, Sungai Cipalasari, dan Sungai Cigede,” kata Benny dalam laporan yang dikirim ke kontributor Tirto, Senin (13/4/2026).

Benny menuturkan, ketinggian air bervariasi di sejumlah titik. Seperti di Kampung Babakan Sangkuriang RW 01, air mencapai 40–130 sentimeter. Sedangkan, di Kampung Bojong Asih RW 04 dan RW 14, ketinggian air berkisar antara 30 hingga 120 sentimeter.

Di beberapa titik lain seperti Kampung Citeureup, Cilisung, dan kawasan Kaum, genangan berada di kisaran 20 hingga 90 sentimeter.

Benny juga menyebut banjir juga merendam sejumlah ruas jalan utama. Di Jalan Raya Dayeuhkolot, ketinggian air mencapai 50–60 sentimeter dan masih bisa dilalui kendaraan, meski banyak kendaraan mogok. Namun, di ruas jalan lain seperti depan pabrik Metro Garmen dan sekitar Masjid Ash-Shofia, air setinggi 30–60 sentimeter membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.

Ia juga menyebut, sebanyak 19 kepala keluarga atau sedikitnya 57 jiwa mengungsi di gedung shelter Desa Dayeuhkolot. Benny mengatakan, pengungsi berasal dari sejumlah wilayah terdampak di Desa Dayeuhkolot. Terutama di RW 04, RW 05, serta RW 14. Dari total pengungsi, terdapat kelompok rentan seperti lansia, bayi, serta penyandang disabilitas.

Dihubungi terpisah, Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat Hardjasasmita menjelaskan, hujan deras yang memicu meluapnya Sungai Citarum telah merendam sejumlah daerah di Kabupaten Bandung sejak Jumat (10/4/2026).

Dalam laporan BPBD Jabar per Senin (13/4/2026) pukul 16.52 WIB, banjir terjadi di sejumlah daerah di Kabupaten Bandung, seperti Kecamatan Baleendah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kecamatan Bojongsoang, sampai Kecamatan Solokanjeruk. Selain curah hujan tinggi, banjir juga dipicu sistem drainase yang tidak berfungsi optimal.

Ia menyebut, drainase tak berfungsi di Kecamatan Rancaekek, dan debit air sungai yang meluap di Dayeuhkolot dan Solokanjeruk.

Hingga mengakibatkan, dampak paling besar di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, sebanyak 1.272 kepala keluarga atau 2.807 jiwa terdampak. Di Desa Panyadap, Solokanjeruk, sebanyak 400 rumah terendam dengan total 600 kepala keluarga terdampak.

BPBD mengimbau warga tetap waspada dan segera mengungsi jika hujan deras kembali terjadi.

Hingga saat ini, banjir masih merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung. BPBD bersama aparat desa, TNI-Polri, dan unsur masyarakat terus melakukan pemantauan serta koordinasi penanganan di lapangan.

“BPBD berkoordinasi dengan pemerintah setempat, melakukan asesmen dan pendataan, serta memantau wilayah terdampak," kata Hadi.

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Akmal Firmansyah

tirto.id - Flash News
Kontributor: Akmal Firmansyah
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama