Menuju konten utama

PKS: Polemik Larangan Berhijab Karyawan RS Medistra Sudah Clear

RS Medistra buka suara soal larangan pemakaian jilbab untuk calon pegawai di rumah sakit tersebut.

PKS: Polemik Larangan Berhijab Karyawan RS Medistra Sudah Clear
RS Medistra. foto/Medistra

tirto.id - Manajemen RS Medistra dan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menemui Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta pada Jumat (6/9/2024). Melalui pertemuan itu, RS Medistra buka suara soal larangan pemakaian jilbab untuk calon pegawai di rumah sakit tersebut.

Anggota Fraksi PKS DPRD DKI, M Thamrin, mengatakan dalam pertemuan itu, manajemen RS Medistra mengatakan pihaknya memang memperbolehkan pegawai maupun calon pegawai untuk mengenakan jilbab.

"Sudah clear [persoalan hijab]. Insyaallah ini juga berita gembira untuk umat Islam yang mau bekerja sebagai tenaga medis di RS Medistra," sebutnya dalam keterangan yang diterima, Sabtu (7/9/2024).

"Direktur Utama RS Medistra dr Agung Budisatria memang membolehkan dan memberikan keistimewaan kepada muslimah berhijab, tentu dengan seragam yang ditentukan pihak manajemen RS Medistra," lanjut dia.

Thamrin mengungkapkan, RS Medistra telah memberikan sanksi kepada petugas RS tersebut yang melakukan tindakan diskriminatif. Petugas RS melakukan tindakan diskriminatif saat mewawancarai calon pegawai.

Melalui kejadian tersebut, ia berharap tidak akan ada lagi tindakan diskriminatif di Tanah Air, utamanya di DKI Jakarta.

"Kami mengapresiasi atas sanksi yang diberikan manajemen RS Medistra kepada petugas yang melakukan wawancara secara diskriminatif tersebut," sebut Thamrin.

Sementara itu, Agung Budisatria, mengatakan pihaknya telah mengklarifikasi persoalan jilbab itu ke pihak MUI DKI dan MUI. Usai pertemuan tersebut, Agung mengaku pihak RS Medistra mendapatkan masukan yang banyak.

"Menambahkan perbaikan, termasuk model seragam dan tidak ada larangan terkait memakai hijab, sehingga tidak ada lagi polemik di bawah," tutur dia.

Diberitakan sebelumnya, RS Medistra buka suara soal peraturan penggunaan hijab yang viral di media sosial. Peraturan penggunaan hijab ini diungkap salah satu dokter di RS Medistra, Diani Kartini, melalui surat terbuka yang berujung viral di media sosial.

Dalam surat terbuka Diani yang viral, ia menyatakan bahwa ada asisten serta kerabatnya yang mendaftarkan diri sebagai dokter umum di RS Medistra. Saat proses rekrutmen, asisten dan kerabat Diani mendapatkan pertanyaan yang disebut rasis terkait penggunaan jilbab dari pihak RS Medistra.

"Ada pertanyaan terakhir di sesi wawancara. Menanyakan terkait performance dan RS Medistra merupakan RS Internasional, sehingga timbul pertanyaan, apakah bersedia membuka hijab jika diterima. Saya sangat menyayangkan jika di zaman sekarang masih ada pertanyaan rasis," tulis Diani dalam surat tersebut.

"Dikatakan RS Medistra berstandar internasional tetapi kenapa masih rasis seperti itu?" sambung dia.

Diani pun membandingkan RS Medistra dengan rumah sakit lain yang berada di Jakarta. Menurut dia, rumah sakit lain yang lebih ramai daripada RS Medistra mengizinkan karyawannya untuk menggunakan hijab.

Dalam surat yang sama, ia menyayangkan adanya tindakan rasis dari pihak RS Medistra. Diani pun bertanya apakah ada standar ganda terkait cara berpakaian untuk karyawan di RS Medistra.

Menanggapi keluhan ini, Direktur RS Medistra, Agung Budisatria, menyampaikan permohonan maaf atas dugaan rasisme saat rekrutmen pegawai tersebut. Menurut dia, dugaan rasisme ini tengah didalami pihak internal RS Medistra.

"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat isu diskriminasi yang dialami oleh salah seorang kandidat tenaga kesehatan dalam proses rekrutmen. Hal tersebut kini tengah dalam penanganan manajemen," ucap Agung dalam keterangan resminya, Senin.

Ia mengklaim, RS Medistra merupakan tempat yang inklusif dan terbuka untuk pihak manapun yang ingin bekerja di fasilitas kesehatan tersebut. Agung mengaku manajemen RS Medistra akan melakukan pengawasan terhadap proses rekrutmen pegawai.

"Ke depan, kami akan terus melakukan proses kontrol ketat terhadap proses rekrutmen ataupun komunikasi, sehingga pesan yang kami sampaikan dapat dipahami dengan baik oleh semua pihak," tutur dia.

Baca juga artikel terkait RUMAH SAKIT atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Anggun P Situmorang