tirto.id - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) telah berlangsung selama 97 hari pada Kamis (4/6/2026). Washington dan Teheran memiliki informasi yang berseberangan terkait negosiasi damai, sementara Israel masih terus menggempur Lebanon. Berikut rangkuman peristiwa yang terjadi dalam 24 jam terakhir dalam Perang Iran.
Menukil Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru-baru ini memberikan keterangan bahwa jalannya negosiasi perdamaian dengan AS tidak kunjung menghasilkan terobosan. Meski begitu, komunikasi Teheran dan Washington masih terus berlangsung.
Keterangan itu berseberangan dengan informasi yang diungkap Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa negosiasi berjalan “sangat baik”. Trump juga menyebut bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang “dapat terjadi pada akhir pekan”.
Kendati silang pendapat macam ini terus terjadi sejak hari pertama perang pada 28 Februari lalu, namun kali ini jalannya negosiasi tampak terhenti pascaketegangan selama sepekan terakhir.
Sebelumnya, Iran kembali melakukan serangan ke negara-negara Teluk. Pertempuran juga dilaporkan kembali terjadi di Selat Hormuz dan kawasan Teluk pada Selasa (2/6) dan Rabu (3/6).
Para pejabat Iran menjelaskan bahwa Teheran melakukan serangan pada Rabu ke sasaran-sasaran terkait AS di Bahrain dan Kuwait. Serangan ini disebut Iran sebagai aksi balasan karena pasukan AS lebih dulu menyerang kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas komunikasi di Pulau Qeshm satu hari sebelumnya.
Sementara itu, otoritas Kuwait mengatakan serangan drone dan rudal Iran telah menghantam terminal di bandara internasional mereka. Satu orang dilaporkan tewas terbunuh, sementara 60 orang lain terluka. Bandara internasional itu juga disebut otoritas Kuwait mengalami “kerusakan material yang signifikan”.
Akan tetapi, kesepakatan gencatan senjata tampaknya tak serta merta berakhir dengan negosiasi terkini. Hal ini seiring sikap optimistik Trump dan pernyataan Araghchi bahwa komunikasi masih terus berlangsung terlepas dari ketegangan yang terjadi.
Penduduk Iran Ikut Menderita
Dampak perang yang harus ikut ditanggung seluruh dunia akibat kenaikan harga minyak mentah dan produk petrokimia, kini dilaporkan tengah jadi sumber penderitaan penduduk Iran.
Rezim Iran kini memiliki pilihan yang makin terbatas untuk mengatasi krisis kesenjangan pasokan dan konsumsi energi. Sementara itu, penduduk mulai tercekik dengan kenaikan tagihan listrik yang sangat tinggi dan ekonomi yang tak menentu.
Dampak perang juga tampak telah memengaruhi keputusan politik di AS. DPR AS baru saja meloloskan permintaan agar Trump meminta izin kongres sebelum melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran.
Keputusan itu diambil setelah hasil pemungutan suara berakhir dengan suara 215-208 untuk meloloskan permintaan resmi tersebut. Bergabungnya empat anggota Partai Republik dalam inisiatif Partai Demokrat dilaporkan jadi kunci kemenangan voting.
Permintaan itu tampaknya tidak akan jadi undang-undang khusus, namun hal ini menandai kemenangan pertama bagi inisiatif membatasi wewenang Trump dalam perang di Iran.
Pengiriman Senjata ke Israel Dibatasi
Situasi perang dan konflik yang terus berlangsung belakangan ini juga mulai memengaruhi sikap politik para politisi terkait Israel. Terbaru, anggota Kongres AS Thomas Massie mengumumkan dukungannya untuk membatasi pengiriman senjata ofensif ke Israel.
Pembatasan itu merupakan salah satu inti dari inisiatif kebijakan dalam Rancangan Undang-Undang Blokir Bom yang diajukan Kongres AS.
Massie mengatakan Israel telah menggunakan amunisi pasokan AS untuk membunuh puluhan ribu warga sipil. Menurutnya, Washington punya tanggung jawab moral untuk mengakhiri dukungan tersebut, yang telah berkontribusi terhadap penghancuran Jalur Gaza.
Situasi di Gaza hingga kini masih diliputi ketidakpastian. Meskipun gencatan senjata telah tercapai pada Oktober 2025 lalu, Israel masih melakukan serangan udara ke Gaza pada Rabu malam. Setidaknya sembilan warga Palestina tewas akibat serangan tersebut.
Israel Bangun Pos Tentara di Gaza dan Serang Lebanon
Di tengah serangan yang masih saja terjadi, Israel dilaporkan terus memperluas jangkauan mereka ke dalam wilayah Gaza. Militer Israel disebut telah membangun 40 pos tentara Zionis ke dalam wilayah Gaza, 8 pos di antaranya dibangun setelah gencatan senjata berlaku.
Situasi ini juga masih jadi gambaran untuk kawasan Lebanon selatan. Israel baru saja melakukan serangan drone ke kendaraan di jalanan Lebanon selatan, menurut Kantor Berita Nasional.
Serangan itu dilakukan Israel meskipun AS menyatakan bahwa Lebanon dan negara Zionis itu telah bersepakat untuk menerapkan gencatan senjata.
Kesepakatan ini disebut AS berisi kewajiban organisasi bersenjata Hizbullah untuk menghentikan serangan dan menarik para pejuang mereka dari sisi selatan Sungai Litani. AS juga menyebut bahwa kesepakatan turut memandatkan pembentukan zona keamanan di bawah kendali eksklusif pasukan Lebanon.
Meskipun telah mencapai kesepahaman, perjanjian gencatan senjata tersebut belum jadi dokumen resmi. Negosiasi dilaporkan akan berlanjut akhir bulan ini dan pembicaraan ini tampaknya akan jadi momentum Hizbullah mendapatkan jaminan Israel menarik pasukannya dari Lebanon.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































