tirto.id - Pemerintah Kota Palembang bakal mempertimbangkan kelangsungan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang digelar sejak 9 September 2026 akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebab, kebijakan itu dinilai tak efektif dengan berbagai persoalan.
Kepala Dinas Pendidikan Palembang, Affan Prapanca, mengungkap bahwa PJJ diambil pada dasarnya demi keselamatan dan kesehatan anak didik di tengah kabut asap karhutla. Kualitas udara yang masuk dalam kategori berbahaya akan berdampak buruk bagi anak-anak.
Namun dalam realisasinya, PJJ ternyata tidak efektif dan ideal. Sistem pembelajaran tidak optimal sehingga harus dilakukan evaluasi dengan melihat kondisi kekinian.
"Memang belajar daring ada keterbatasan, beda sama tatap muka. Tidak semua orangtua siswa punya fasilitas seperti ponsel, ini salah satu kendalanya," ungkap Kadisdik Palembang Affan Prapanca, Selasa (15/9/2026).
Affan mengakui banyak menerima keluhan dari tenaga pendidik maupun wali siswa selama PJJ berlangsung sepekan terakhir. Mayoritas dari mereka menginginkan agar sekolah digelar secara tatap muka.
Bertaruh dengan Bahaya ISPA

Namun Affan menyebut keputusan tidak serta merta dapat diambil. Pemerintah harus mempertimbangkan kondisi udara dan perkembangan kasus Insfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, ada beberapa daerah di Palembang yang terjadi peningkatan kasus ISPA dari kelompok anak usia sekolah. Sementara di wilayah lain ditemukan kasus ISPA justru menurun.
"Artinya memang tidak bisa disamaratakan. Kita tunggu laporan dari satuan pendidikan terkait kondisi anak-anak didik yang terpapar ISPA," kata Affan.
Dengan demikian, kata Affan, metode PJJ bisa saja tidak diberlakukan di setiap sekolah. Sekolah dengan kualitas udara cukup baik dimungkinkan sekolah seperti biasa dengan syarat menyesuaikan kondisi di lapangan.
"Kita lihat hasil evaluasi nanti, PJJ dihentikan atau dilanjutkan atau PJJ terbatas," kata Affan.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, mengaku kerap menerima pesan singkat dari masyarakat terkait kebijakan PJJ. Namun dia belum dapat mengambil keputusan karena kondisi udara di kota itu masih fluktuatif dan cenderung dalam kategori tidak sehat, terutama pada pada pagi hari.
"Pagi ini masih tidak sehat, makanya perlu kita kaji lagi terkait PJJ, pemerintah harus hati-hati," kata Ratu Dewa.
Ratu Dewa meminta masyarakat bersabar melewati masa sulit ini. Dia memaklumi banyak kendala dihadapi wali murid untuk menunjang pembelajaran daring.
Jika pun nantinya PJJ dihentikan, Ratu Dewa menyebut pembelajaran tidak bisa sepenuhnya digelar normal. Salah satu pilihannya adalah memundurkan waktu masuk dan mempercepat waktu pulang sekolah.
"Kita cari dulu formulanya seperti apa, kami minta tolong masyarakat bersabar dulu," tutup Ratu Dewa.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































