tirto.id - Indonesia memimpin pembahasan strategis mengenai pengembangan kota cerdas di forum The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting. Melalui forum ini, Indonesia mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan jadi agenda prioritas di kawasan ASEAN.
Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, yang juga menjabat sebagai National Representative sekaligus Shepherd ASEAN Smart Cities Network (ASCN).
Pertemuan tahunan ASCN semula dijadwalkan berlangsung di Filipina. Namun, Pemerintah Filipina selaku Ketua ASCN 2026 memutuskan forum digelar secara daring. Keputusan itu diambil usai mempertimbangkan perkembangan situasi di kawasan. Adapun bagi delegasi Indonesia, pusat pelaksanaan forum daring ASCN 2026 diputuskan berada di Banyuwangi.
Dalam forum tersebut, Safrizal ZA memaparkan perkembangan 18 proyek smart city yang dijalankan enam kota anggota ASCN Indonesia, yakni DKI Jakarta, Banyuwangi, Makassar, Sumedang, Semarang, dan Denpasar.
"Berdasarkan ASCN Monitoring and Evaluation Report 2025, kontribusi Indonesia mencapai sekitar 13,4 persen dari total 134 proyek ASCN di kawasan ASEAN," ujar Safrizal pada Senin (20/7/2026).
Ia menjelaskan, proyek-proyek tersebut mencakup digitalisasi layanan publik, penguatan ekonomi lokal, mobilitas perkotaan, layanan kesehatan berbasis teknologi, dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Indonesia juga memperkenalkan Semarang dan Denpasar sebagai anggota baru ASEAN Smart Cities Network.
Menurut Safrizal, bertambahnya anggota menunjukkan meningkatnya kepercayaan ASEAN terhadap komitmen Indonesia dalam pengembangan kota cerdas. Keanggotaan itu juga membuka peluang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk memperluas kerja sama internasional, mengakses inovasi, serta mengembangkan proyek pembangunan perkotaan berkelanjutan.
Sebagai Shepherd ASCN, pada tahun ini Indonesia mengusung isu pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai agenda strategis kawasan. Safrizal mengatakan Indonesia menawarkan pendekatan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam mengurangi sampah sejak dari sumber.
Pendekatan tersebut dijalankan melalui Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dan dipadukan dengan percepatan pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WTE) di berbagai daerah.
"Pendekatan ini diharapkan menjadi model kolaborasi regional dalam mewujudkan kota yang lebih bersih, tangguh, dan rendah emisi," jelas Safrizal.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengundang seluruh anggota ASCN menghadiri Indonesia International Smart City Expo and Forum (IISMEX) 2026 yang akan berlangsung pada 11-13 Agustus 2026 di Jakarta.
Dalam rangkaian acara tersebut juga akan digelar Waste-to-Energy Forum untuk berbagi pengalaman, membangun kemitraan, serta membahas pembiayaan proyek pengelolaan sampah perkotaan.
Safrizal menegaskan pembangunan kota cerdas tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga bertujuan memperkuat tata kelola pemerintahan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, menjaga keberlanjutan lingkungan, dan mendorong kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan penunjukan Banyuwangi sebagai pusat pelaksanaan forum daring ASCN Annual Meeting untuk delegasi Indonesia dilakukan atas arahan Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian. Menurut Ipuk, keputusan tersebut mempertimbangkan rekam jejak Banyuwangi dalam pengembangan smart city.
"Ini memang juga instruksi dari Mendagri, terutama Pak Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan yang menunjuk Banyuwangi sebagai tuan rumah. Mungkin juga karena melihat kesiapan Banyuwangi dan progres yang telah dilakukan. Banyuwangi sudah menjadi bagian dari ASEAN Smart Cities Network sejak 2015, sehingga banyak perkembangan yang telah dicapai," jelas Ipuk.
Ia menjelaskan, implementasi smart city di Banyuwangi tidak hanya berorientasi pada digitalisasi layanan, tetapi juga berfokus menjawab persoalan mendasar masyarakat, terutama pengentasan kemiskinan.
"Saat ini fokus Banyuwangi adalah pengentasan kemiskinan. Karena itu kami memperkuat pelayanan publik yang cepat, berbasis dampak kepada masyarakat, serta memperluas pelayanan melalui desa-desa," ujarnya.
Ipuk menambahkan sektor pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas pembangunan daerah. Selain meningkatkan layanan rumah sakit, puskesmas, dan posyandu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memberi perhatian pada pengelolaan sampah, perbaikan gizi, serta percepatan penanganan stunting.
"Untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dibutuhkan digitalisasi, basis data yang akurat, serta kolaborasi dengan berbagai komunitas. Jadi program-program pemerintah tidak hanya mengandalkan APBD, tetapi juga melibatkan masyarakat agar manfaatnya semakin luas," lanjut Ipuk.
Dengan menjadi pusat pelaksanaan forum daring ASCN 2026 bagi delegasi Indonesia, posisi Banyuwangi juga semakin kuat sebagai salah satu daerah yang konsisten mengembangkan smart city berbasis pelayanan publik sekaligus contoh penerapan transformasi digital yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan warga.
tirto.id merupakan salah satu media di Indonesia yang telah tersertifikasi IFCN (International Fact Checking Network).
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































