Menuju konten utama

Peta Gunung Slamet & Lokasi Terakhir Syafiq Pendaki yang Hilang

Temukan peta Gunung Slamet lengkap dan lokasi terakhir Syafiq, pendaki asal Magelang yang hilang. Informasi jalur pendakian & update pencarian terbaru.

Peta Gunung Slamet & Lokasi Terakhir Syafiq Pendaki yang Hilang
Gunung Slamet terlihat dari arah Desa Pamijen, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Sabtu (12/8/2023). ANTARA/Sumarwoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Operasi pencarian Syafiq Ridhan Ali Razan, seorang pendaki berusia 18 tahun asal Magelang, yang hilang di Gunung Slamet resmi ditutup pada Rabu, 7 Januari 2026. Ini lokasi terakhir Syafiq sebelum dinyatakan hilang dan peta Gunung Slamet.

Setelah lebih dari seminggu upaya tim SAR dalam mencari Syafiq belum membuahkan hasil. Syafiq hilang saat mendaki bersama temannya, Himawan Choidar Bahran, pada Sabtu, 27 Desember 2025, melalui jalur Dipajaya, Pulosari, Pemalang.

Mereka memulai pendakian pada malam hari dan berencana turun ke basecamp pada keesokan harinya, Minggu, 28 Desember 2025.

Namun hingga malam hari, keduanya belum kembali. Himawan ditemukan keesokan harinya di sekitar Pos 9 dalam kondisi cedera kaki, sedangkan Syafiq tidak diketahui keberadaannya.

Menurut kesaksian Himawan, keduanya berpisah karena Himawan cedera, dan Syafiq turun lebih dulu untuk mencari bantuan. Dua saksi mata terakhir melihat Syafiq di sekitar Pos 3, namun jalur yang ditempuhnya ternyata salah sehingga ia hilang.

Peta Gunung Slamet dan Jalur Pendakian Resmi

Gunung Slamet merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Jawa Tengah sekaligus gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Semeru, dengan ketinggian sekitar 3.428 mdpl. Gunung ini dikenal sebagai “atap Jawa Tengah” dan membentang di lima kabupaten, yaitu Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes.

Untuk mendaki Gunung Slamet, terdapat beberapa jalur pendakian resminya, yaitu:

1. Jalur Bambangan (Purbalingga)

Jalur Bambangan merupakan jalur pendakian Gunung Slamet yang paling populer dan paling ramai digunakan pendaki. Basecamp-nya terletak di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, dengan akses yang relatif mudah dari Purwokerto.

Jalur ini dikenal sebagai rute tercepat menuju puncak karena jarak dari batas vegetasi ke puncak lebih pendek dibanding jalur lain.

Medannya diawali hutan tropis yang teduh dan landai, namun semakin ke atas berubah menjadi tanjakan terjal berbatu dan berpasir. Tantangan utama jalur Bambangan adalah minimnya sumber air yang hanya bersifat musiman serta kepadatan pendaki saat akhir pekan atau musim liburan. Area berkemah yang paling direkomendasikan berada di Pos 5 Samhyang Rangkah.

2. Jalur Dipajaya (Pemalang)

Jalur Dipajaya berlokasi di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, dan sering dijadikan alternatif saat jalur Bambangan terlalu ramai. Karakter jalur ini relatif mirip dengan Bambangan, namun suasananya lebih tenang karena jumlah pendaki lebih sedikit.

Jalur Dipajaya akan bertemu dengan jalur Bambangan di sekitar ketinggian 2.440 mdpl sebelum Pos 3 Pondok Cemara. Sama seperti Bambangan, sumber air di jalur ini sangat terbatas dan bersifat musiman, sehingga pendaki disarankan membawa persediaan air yang cukup sejak awal pendakian.

3. Jalur Permadi Guci (Tegal)

Jalur Permadi Guci berada di kawasan wisata pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal, dan menjadi favorit karena memiliki fasilitas yang lebih lengkap dibanding jalur lain.

Keunggulan utama jalur ini adalah keberadaan sumber air permanen, toilet, dan musala di Pos 4 Ranu Amreta yang juga menjadi lokasi berkemah paling ideal.

Jalur pendakian di awal relatif landai, namun tantangan sesungguhnya muncul saat summit attack karena jarak menuju puncak lebih panjang, dengan trek pasir dan batuan lepas yang curam.

Pengelola bahkan menyediakan tali tampar untuk membantu pendaki di jalur terjal. Karena berada di lereng barat, jalur ini cenderung lebih dingin dan lebih lama terkena sinar matahari.

4. Jalur Baturraden Lestari (Banyumas)

Jalur Baturraden Lestari merupakan jalur resmi yang relatif baru, dibuka pada Mei 2025, dengan basecamp di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Banyumas.

Jalur ini menawarkan pengalaman pendakian yang panjang dan tenang karena titik awalnya berada di ketinggian rendah sekitar 800–900 mdpl.

Pengelola menyarankan pendakian dilakukan selama 3 hari 2 malam agar pendaki bisa menikmati vegetasi rapat khas Gunung Slamet tanpa terburu-buru.

Jalur ini juga mengusung konsep konservasi, dengan kuota pendaki harian yang dibatasi serta program ekowisata seperti birdwatching. Sumber air tersedia di beberapa pos, terutama di Pos 2 Sintok dan Pos 4 Katik.

5. Jalur Gunung Malang (Pemalang)

Jalur Gunung Malang dikenal sebagai salah satu jalur yang relatif ramah bagi pendaki pemula. Basecamp-nya berada di wilayah Clekatakan, Kabupaten Pemalang, dengan medan yang tidak terlalu ekstrem dibanding jalur lain.

Jalur ini menawarkan trek hutan yang cukup landai dan suasana yang tenang, sehingga cocok untuk pendaki yang baru pertama kali mencoba mendaki Gunung Slamet. Meski demikian, fasilitas dan informasi jalur masih terbatas sehingga pendaki tetap perlu persiapan matang dan navigasi yang baik.

6. Jalur Kaliwadas (Brebes/Purbalingga)

Jalur Kaliwadas menawarkan pengalaman pendakian yang lebih sunyi dan bernuansa spiritual. Jalur ini dapat diakses dari Dusun Kaliwadas di Brebes atau dari Desa Serang, Purbalingga.

Sepanjang jalur, pendaki akan melewati hutan lebat dengan beberapa titik yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat, seperti Ranu Tuk Suci dan Sumur Pengantin. Dengan waktu tempuh sekitar 10–11 jam menuju puncak, jalur Kaliwadas cocok bagi pendaki yang mencari ketenangan dan pengalaman menyatu dengan alam, meski tetap membutuhkan stamina dan manajemen logistik yang baik.

7. Jalur Cemara Sakti

Jalur Cemara Sakti berawal dari Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, dan dikenal memiliki medan yang relatif nyaman dengan fasilitas yang cukup memadai. Jalur ini melewati hutan lebat dan trek berbatu dengan tanjakan bertahap, salah satunya tanjakan khas yang dijuluki “Polisi Tidur”.

Dengan waktu tempuh sekitar 9–10 jam dan melewati sembilan pos, jalur Cemara Sakti cocok bagi pendaki pemula hingga menengah yang menginginkan pendakian santai namun tetap menantang.

Baca juga artikel terkait PENDAKI HILANG atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra