tirto.id - Di kampung dan kawasan miskin kota, kita sering menjumpai dua gambaran yang tampak bertolak belakang. Ada perempuan yang aktif berbicara di forum warga, memimpin kelompok, atau mendorong perubahan secara terbuka. Ada pula perempuan yang memilih diam—tidak tampil di rapat, tidak bersuara lantang, tidak berada di garis depan. Gambaran ini kerap dibaca secara sederhana: yang satu dianggap progresif dan sadar, yang lain pasif dan tertinggal.
Pembacaan semacam ini keliru—dan berisiko menyesatkan.
Dalam pengalaman saya bekerja bersama komunitas perempuan, perbedaan antara yang “aktif” dan yang “diam” jarang berkaitan dengan kesadaran atau kepedulian. Ia lebih sering berkaitan dengan cara membaca risiko dan ruang aman yang tersedia untuk bertindak.
Aktivisme, Risiko, dan Harga Visibilitas
Aktivisme sering dipahami sebagai keberanian tampil di ruang publik. Namun bagi banyak perempuan miskin, visibilitas bukan sesuatu yang netral. Ia memiliki harga. Bersikap terlalu vokal bisa berarti konflik di rumah, cap melawan adat, atau tertutupnya akses bantuan sosial.
Ilmu pembangunan mengingatkan bahwa pilihan manusia tidak pernah berdiri di ruang hampa. Amartya Sen (1999) menunjukkan bahwa agensi selalu bekerja dalam batas-batas tertentu—dibentuk oleh kondisi ekonomi, relasi kuasa, dan norma sosial. Karena itu, diam tidak selalu berarti pasrah. Dalam banyak konteks, diam justru merupakan strategi rasional ketika pilihan yang tersedia sangat terbatas.
Setiap hari, perempuan miskin melakukan kalkulasi risiko yang rumit. Kapan aman berbicara, kapan harus menunggu, dan kapan perubahan bisa didorong tanpa menimbulkan bahaya baru. Sebagian perempuan bisa tampil di depan karena memiliki bantalan sosial: dukungan keluarga, status tertentu, atau jaringan yang memberi perlindungan. Sebagian lainnya memilih jalur sunyi karena berada di zona risiko tinggi, di mana satu langkah keliru bisa berdampak panjang bagi dirinya dan anak-anaknya.
Menyebut pilihan ini sebagai “pasif” berarti gagal membaca kecerdasan adaptif yang bekerja di baliknya.
Perlawanan Sunyi dan Perubahan yang Bertahan
Ilmuwan politik James C. Scott menyebut praktik semacam ini sebagai perlawanan sehari-hari—bentuk perubahan yang tidak selalu dramatis, tetapi konsisten dan bertahan. Dalam kehidupan perempuan miskin, perlawanan ini hadir dalam bentuk-bentuk kecil: mengatur keuangan agar anak perempuan tetap sekolah, membangun tabungan informal dengan sesama perempuan, atau menghindari praktik merugikan tanpa konfrontasi terbuka.
Perubahan sosial sering kali tidak dimulai dari podium atau spanduk. Ia tumbuh dari dapur, halaman rumah, dan percakapan antaribu. Justru karena tidak mencolok, perubahan ini sering luput dari perhatian kebijakan, padahal di sanalah nilai-nilai baru mulai mengakar.
Pilihan untuk diam juga kerap lahir dari pengalaman pahit. Banyak perempuan belajar—dari pengalaman sendiri atau orang lain—bahwa bersuara bisa berujung pada hukuman sosial atau kekerasan. Judith Herman (1992) menjelaskan bahwa individu yang hidup dalam lingkungan tidak aman mengembangkan strategi bertahan berbasis kewaspadaan. Diam, dalam konteks ini, bukan ketidakberdayaan, melainkan bentuk pengetahuan tentang risiko.
Membaca Ulang Makna Keberanian dan Pendekatan Pembangunan
Keberanian tidak selalu berbentuk suara keras. Dalam banyak konteks, keberanian justru hadir dalam kemampuan bertahan, memilih waktu, dan menjaga kehidupan tetap berjalan sambil perlahan menggeser batas-batas lama. Perempuan yang memilih jalur sunyi sering kali tidak sedang menunda perubahan, melainkan memastikan perubahan itu tidak menghancurkan kehidupan yang sedang mereka jaga. Di sanalah keberanian bekerja—bukan sebagai ledakan, tetapi sebagai daya tahan.
Sayangnya, banyak program sosial dan pembangunan komunitas masih bias pada suara yang paling keras. Perempuan yang vokal kerap dipilih sebagai “agen perubahan”, sementara yang bergerak sunyi dianggap belum siap atau belum berdaya. Padahal, perubahan yang berkelanjutan justru membutuhkan keduanya: mereka yang membuka ruang di depan, dan mereka yang menjaga agar perubahan itu bisa hidup dalam keseharian. Tantangan pembangunan hari ini bukan sekadar memperbanyak suara, melainkan merancang pendekatan yang mampu mengenali, melindungi, dan memperkuat perlawanan sunyi perempuan—agar kehidupan tetap berjalan, sambil batas-batas lama perlahan bergeser. []
Penulis adalah adalah CEO CARE Indonesia. Ia memiliki lebih dari 25 tahun pengalaman di bidang aksi kemanusiaan, kebijakan pembangunan, serta isu gender dan lingkungan.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id





























