tirto.id - Para perantau di Medan yang berasal dari Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatra Utara, dirundung rasa cemas. Mereka tidak dapat menghubungi keluarga di kampung. Jaringan telepon dan akses internet di dua daerah tersebut putus total setelah banjir dan longsor menerjang sejak beberapa hari lalu.
Rahman Sulaiman Nasution (27), perantau asal Kabupaten Tapanuli Tengah, terakhir kali berkomunikasi dengan keluarganya pada Selasa (25/11/2025) malam. Saat itu, permukiman di Desa Ujung Batu, Kecamatan Barus sudah terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa. Rahman sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
“Sampai saat ini keluarga saya belum ada yang bisa dihubungi. Terakhir kali saya berhubungan dua hari lalu,” ujarnya kepada kontributor Tirto, Kamis (27/11/2025).
Guna memudahkan pendataan dan pengiriman bantuan, Rahman dan rekan-rekannya saat ini membuka posko untuk menggalang donasi. Sejauh ini, sudah tercatat 140 warga asal Kabupaten Tapanuli Tengah yang melapor.
Menurut Rahman, bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah kali ini merupakan yang terparah setidaknya sejak 27 tahun terakhir. Sebelumnya, daerah tersebut tidak pernah mengalami dampak yang begitu parah meski diguyur hujan selama berhari-hari.
“Jadi selama saya hidup di Tapanuli Tengah, walaupun banjir dua hari berturut-turut, sebelum-sebelumnya tidak ada kejadian seperti ini. Saya kira ini banjir terparah selama 27 tahun terakhir. Karena itulah kami tergerak menggalang bantuan seperti donasi,” ujarnya.
Rahman menduga penyebabnya banjir dan longsor parah yang menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah dan sekitarnya tidak dari faktor penurunan fungsi hutan yang ada di sekitar daerah tersebut.
“Kalau menurut saya pribadi, ini karena perusakan lingkungan. Seperti eksploitasi hutan yang berlebihan. Karena yang saya lihat beberapa sungai di hulu itu ada material batang kayu yang sudah bersih, gelondongan,” ujarnya.
Selain Rahman, nasib sama juga dialami Ryan Juskal (36), perantau asal Kota Sibolga yang saat ini berdomisili di Kota Medan. Ia terakhir kali berkomunikasi dengan ibunya pada dua hari lalu melalui panggilan aplikasi WhatsApp. Sampai hari ini, ia belum dapat lagi menelepon keluarganya untuk menanyakan kabar.
“Dua hari lalu terakhir kali. Saat ini saya belum bisa menghubungi keluarga lagi. Saya mohon doa agar semua baik-baik saja,” ujar Ryan.
Seperti Aceh dan Sumatra Barat, banjir disertai longsor juga menerjang sejumlah daerah Sumatra Utara sejak beberapa hari lalu. Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Tapanuli Utara. Bencana kemudian meluas ke daerah lain. Termasuk Kota Medan dan sekitarnya.
Di kawasan Tapanuli Raya, banjir membawa gelondongan kayu dan lumpur lalu menyebabkan kerusakan pada sejumlah jembatan utama penghubung sejumlah daerah maupun provinsi. Akses jalan putus total, termasuk jaringan telepon, listrik dan internet yang menyebabkan komunikasi lumpuh.
General Manager Region Network Operations & Productivity Sumbagut Telkomsel, Nurdianto, menyampaikan permohonan maaf kepada atas terjadinya penurunan kualitas jaringan di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.
Saat ini, beberapa titik jaringan transport mengalami dampak bencana serta pemadaman listrik masif. Hal itu berdampak pada penurunan kualitas jaringan Telkomsel di sejumlah titik.
“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dan berupaya melakukan percepatan pemulihan jaringan agar pelanggan dapat kembali menikmati layanan komunikasi dengan lancar,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa (25/11/2025).
Sejauh ini, belum ada data pasti tentang jumlah korban meninggal dunia dan pengungsi akibat banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra Utara.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terakhir kali menyampaikan perkembangan tentang jumlah warga yang terdampak pada Rabu (26/11/2025). Di Kabupaten Tapanuli Selatan, banjir dan longsor telah menyebabkan delapan orang meninggal dunia, 58 luka-luka dan 2.851 warga mengungsi.
Sementara berdasarkan data Polda Sumatra Utara, bencana yang melanda pada 24-26 November 2025 telah menyebabkan total korban mencapai 175 orang. Rinciannya 34 orang meninggal dunia, 77 orang luka ringan, 11 orang luka berat dan 52 orang lagi masih dalam upaya pencarian. Sedangkan jumlah pengungsi tercatat 1.168 jiwa.
Berdasarkan laporan Tropical Cyclone Warning Center Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat dua sistem cuaca signifikan yang memicu terjadinya cuaca ekstrem di Provinsi Sumatra Utara pada 25 November 2025.
Keduanya yakni Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B yang terpantau di Selat Malaka. Kedua sistem ini memengaruhi peningkatan curah hujan dan angin kencang di Sumatera bagian utara.
Penulis: Nanda Fahriza Batubara
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































