Menuju konten utama

Kronologi Satu Keluarga Meninggal di Temanggung Saat Glamping

Satu keluarga asal Ambawara meninggal saat glamping di Temanggung. Dugaan awal karena makanan, namun ditemukan indikasi kuat akibat keracunan gas.

Kronologi Satu Keluarga Meninggal di Temanggung Saat Glamping
Ilustrasi glamping. foto/IStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Empat anggota keluarga yang berasal dari Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, ditemukan meninggal dunia di dalam tenda glamping di kawasan wisata alam Posong, Temanggung, pada Rabu (28/5/2026). Polisi mengungkap kronologi lengkap penemuan jasad mereka dan dugaan awal yang jadi penyebabnya..

Korban diketahui merupakan pasangan suami istri, Muhamad Ali Munawar (52) dan Maghfirah (43), bersama dua anak mereka, Alvino Evan Hakim (16) dan Bagas Amar Hakiki (21). Bagas merupakan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2022.

Awalnya, penyidik menduga kematian satu keluarga tersebut dipicu keracunan makanan. Namun, hasil pemeriksaan awal di lokasi mengarah pada kemungkinan keracunan gas dari alat masak portable maupun asap barbeque yang terperangkap di dalam tenda akibat minimnya sirkulasi udara.

Kronologi Tewasnya Satu Keluarga Saat Glamping di Posong Temanggung

Pada Selasa malam (26/5), satu keluarga asal Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang -- yaitu Muhamad Ali Munawar bersama istri dan dua anak mereka -- berangkat berwisata ke kawasan wisata alam Posong di Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 22.00 WIB menggunakan mobil Honda Jazz RS putih bernomor polisi H-1609-PT. Setelah melakukan registrasi, keluarga tersebut diantar petugas menuju Tenda Glamping Safari Nomor 3 sekitar untuk bermalam.

Pada malam itu, keluarga diketahui sempat melakukan kegiatan barbeque dan menggunakan gas portable untuk memasak di area glamping di kawasan dataran tinggi berhawa dingin tersebut.

Keesokan harinya, Rabu (27/5) sekitar pukul 09.00 WIB, seorang petugas glamping datang untuk mengantarkan sarapan kepada para korban. Namun saat dipanggil dari luar tenda, tidak ada jawaban sama sekali. Petugas mengira para penghuni masih beristirahat sehingga tidak langsung membuka tenda.

Sekitar pukul 11.45 WIB, petugas kembali mendatangi lokasi untuk mengingatkan waktu check out sekaligus melakukan persiapan pembersihan area glamping. Akan tetapi, kondisi tetap sama dan tidak terdengar respons dari dalam tenda.

"Pada keesokan harinya, Rabu (27/5) sekitar pukul 11.45 WIB, petugas wisata sempat mengingatkan para korban untuk segera melakukan proses checkout karena lokasi area perkemahan akan dibersihkan. Namun, saat itu tidak ada respons dari dalam tenda," kata Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra dikutip Antara (28/5/2026).

Karena merasa curiga, petugas akhirnya membuka pintu tenda sekitar pukul 15.45 WIB. Saat itulah keempat anggota keluarga ditemukan sudah meninggal dunia dalam kondisi tubuh kaku.

Penemuan tersebut segera dilaporkan kepada pihak pengelola wisata dan diteruskan kepada kepolisian. Tim Inafis Polres Temanggung, personel Polsek Parakan, Polsubsektor Kledung, tim Resmob hingga tenaga medis dari Puskesmas Kledung kemudian datang ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menemukan kondisi tenda masih rapi dan tidak terdapat tanda-tanda kekerasan pada tubuh para korban. Posisi tangan para korban diketahui saling menggenggam, sedangkan mulut beberapa korban ditemukan berbusa. Temuan ini membuat polisi menduga para korban meninggal akibat keracunan atau kemungkinan hipotermia karena suhu dingin di kawasan Posong.

Pada tahap awal penyelidikan, polisi menduga kematian satu keluarga tersebut disebabkan keracunan makanan. Dugaan itu muncul karena korban diketahui membawa sendiri bahan makanan dan perlengkapan barbeque.

Polisi kemudian mengamankan sejumlah sampel makanan, termasuk hidangan barbeque, untuk diperiksa di Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah. Selain itu, autopsi terhadap jenazah dilakukan oleh dokter forensik RSUD Temanggung bersama Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Tengah guna memastikan penyebab pasti kematian.

Namun, dalam perkembangan penyelidikan berikutnya, dugaan keracunan makanan mulai terbantahkan. Iptu Komang Mahendra, menjelaskan bahwa tidak ditemukan bekas muntahan maupun tanda-tanda perlawanan pada tubuh korban. Menurutnya, ciri-ciri tersebut lebih mengarah pada keracunan gas.

Polisi kemudian menemukan adanya gas portable yang digunakan korban saat memasak dan menduga gas dari alat tersebut maupun asap hasil pembakaran barbeque terperangkap di dalam tenda karena ventilasi yang kurang baik.

Dugaan semakin menguat karena setelah selesai barbeque, korban diduga langsung tidur dengan kondisi pintu tenda tertutup rapat sehingga sirkulasi udara tidak berjalan maksimal. Polisi menyebut ada dua kemungkinan sumber gas, yakni dari tabung gas portable atau asap hasil pembakaran barbeque beredar di dalam tenda.

Gejala yang dialami korban lebih menyerupai keracunan gas karbon monoksida atau karbon dioksida. Pasalnya korban akan merasa lemas, mengantuk, lalu kehilangan kesadaran tanpa sempat melakukan perlawanan. Di sana juga tidak ditemukan muntahan dan tidak ada perlawanan

Hingga kini, kepolisian masih menunggu hasil resmi laboratorium forensik dan autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian empat anggota keluarga tersebut. Sementara itu, polisi telah memeriksa sedikitnya empat orang saksi yang berada di lokasi wisata saat kejadian berlangsung.

"Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum berani mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan, begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng," kata Mahendra.

Baca juga artikel terkait KASUS KERACUNAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar