tirto.id - Dua anak harimau Benggala koleksi Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo), Huru dan Hara, dilaporkan mati akibat serangan virus Panleukopenia. Kematian satwa berusia delapan bulan ini memicu reaksi keras dari Pemerintah Kota Bandung. Wali Kota Muhammad Farhan langsung menginstruksikan evaluasi total terhadap tata kelola dan sistem biosekuriti di kawasan konservasi tersebut.
Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Eri, mengatakan kedua bayi harimau ini terjangkit virus Panleukopenia dikenal sangat berbahaya, terutama bagi satwa berusia muda.
“Secara umum, keduanya terinfeksi panleukopenia. Berbagai upaya sudah dilakukan secara maksimal, namun hasil akhirnya berkata lain,” kata Eri di Bandung, Kamis (26/3/2026).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh BBKSDA Jabar secara maksimal. Eri menyebut, penanganan dilakukan secara kolaboratif oleh tim lintas instansi, mulai dari Rumah Sakit Hewan Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, sampai tim medis dari kebun binatang.
“Kedua anak harimau ini bukan sekadar satwa tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung,” ujarnya.
Eri pun membeberkan, kedua bayi harimau tersebut hasil perkawinan Sahrulkan dan Jelita yang lahir 12 Juli 2025. Bayi harimau berusia delapan bulan ini dilaporkan mati dengan waktu berbeda, anak harimau bernama Hara dilaporkan mati, pada Selasa (24/3/2026). Sementara kembarannya, Huru, mati pada Kamis (26/3/2026) pagi meski sempat memperlihatkan gejala perbaikan.
Eri bilang, kondisi Huru kembali menurun drastis hingga akhirnya tidak tertolong. Peluang hidup biasanya meningkat, sebut dia, jika satwa mampu bertahan lebih dari 48 hingga 72 jam.
Dia menjelaskan, gejala yang muncul pada kedua harimau antara lain muntah, diare, sampai adanya darah pada feses indikasi kuat infeksi virus yang menyerang sistem pencernaan serta imunitas.
Mengenai penularan, Eri menyebut, virus itu berasal dari berbagai faktor, termasuk lingkungan sekitar. Menurutnya, satwa usia muda memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi. Dugaan penularan dari induk juga masih dalam tahap pendalaman.
“Kami belum bisa memastikan apakah ada satwa lain yang terjangkit. Saat gejala muncul, anakan langsung diisolasi ke kandang karantina dan ditangani secara intensif,” tutur dia.
Dokter hewan BBKSDA Jabar, Agnisa menyebutkan telah melakukan pemeriksaan melalui rapid test serta analisis sampel feses menunjukkan hasil positif panleukopenia pada kedua anakan harimau tersebut. Ia juga memastikan diagnosis telah dilakukan secara cepat dan akurat.
“Begitu gejala muncul, kami langsung melakukan pemeriksaan. Hasilnya mengonfirmasi bahwa keduanya positif terjangkit virus panleukopenia,” jelas dia.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan akan melakukan evaluasi menyeluruh usai kematian dua anak harimau akibat virus panleukopenia di Kebun Binatang Bandung.
Farhan mengatakan, akan melakukan penguatan biosekuriti, terutama di area Kebun Binatang Bandung yang berdekatan dengan permukiman dan tingginya mobilitas pengunjung.
“Kasus ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,” jelas Farhan
Pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk mengevaluasi tata kelola serta sistem kesehatan satwa. Ia menilai, meski standar perawatan telah dijalankan, celah pencegahan penyakit masih perlu diperbaiki guna meminimalkan risiko infeksi di masa depan.
“Saya sangat prihatin dan sedih, tapi ini menjadi perhatian serius agar ke depan bisa kita antisipasi dengan lebih baik,” terangnya.
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































