Pengamat: Jokowi Sebut Mobile Legends untuk Dekati Milenial

Oleh: Alfian Putra Abdi - 14 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Namun, narasi yang dibangun Jokowi terkait e-sports dan industri gim belum tentu memengaruhi elektabilitas.
tirto.id - Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo berjanji merangkul kalangan gamer guna mendongkrak ekonomi kreatif di sektor olahraga elektronik atau e-sport. Hal itu Jokowi sampaikan dalam sesi tanya jawab debat ke-5 Pilpres 2019 kemarin, Sabtu (14/4/2019).

Menurut Jokowi, anak muda yang menggeluti profesi sebagai atlet e-sport jumlahnya cukup banyak. Ia berjanji akan memperbaiki infrastruktur pendukung guna pengembangan e-sport tersebut.

"Pemerintah membangun infrastruktur digital. Baik broadband dengan kecepatan tinggi, Palapa ring, 4G. Sehingga anak-anak muda kita memiliki infrastruktur dalam mengembangkan profesinya sebagai gamers," kata Jokowi saat debat.

Tak hanya itu, Jokowi juga berjanji akan mendukung generasi muda Indonesia untuk membuat gim sendiri agar tidak sekedar menjadi konsumen. "Membangun ekosistem yang nyaman bagi mereka berusaha membuat gim dan ini saya kira sebuah peluang yang besar bagi industri gim di Indonesia."

Jokowi melihat nilai ekonomi dalam industri gim tumbuh sangat pesat. Jokowi mencatat pada 2017 saja perputarannya mencapai Rp11-12 triliun, di mana pertumbuhan per tahunnya mencapai 25 sampai 30 persen.

"Oleh sebab itu, jangan sampai kita terlewat merespons setiap perubahan-perubahan yang ada," ujarnya.


Dalam sesi tanya jawab debat tersebut, Jokowi lebih dulu bertanya kepada paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno soal perkembangan e-sports, khususnya Mobile Legend. Jokowi bertanya apa yang akan Prabowo-Sandiaga lakukan untuk mengembangkan segmen ini.

Namun, Prabowo menjawab dengan mengaitkannya ke hal lain dan di luar konteks. Prabowo menekankan kebutuhan mendasar bagi petani, nelayan, dan buruh harus diutamakan.

"Digital-digital itu bagus, tapi rakyat kita butuh swasembada pangan," kata Prabowo.

Sementara itu, Sandiaga menjawab sesuai pokok persoalan. Menurutnya, fungsi pemerintah adalah memfasilitasi para pegiat e-sports. "Jangan sampai Indonesia hanya fokus untuk diserbu produk impor, termasuk produk e-sports," kata Sandiaga.

Direspons Positif Asosiasi E-sports

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Indonesia eSports Association (IeSPA) Eddy Lim merespons positif wacana mengembangkan e-sports. Menurut Eddy, ketika pemerintahan ke depan fokus meningkatkan kualitas dunia digital dalam revolusi industri 4.0, itu sama saja dengan meningkatkan e-sports itu sendiri.

"Karena e-sports ini adalah bagian dari dunia digital itu sendiri. Digitalnya semakin maju, misalnya internetnya semakin baik, maka e-sports akan semakin baik pula," kata Eddy kepada reporter Tirto, Minggu (14/4/2019).

Eddy menjelaskan, relasi e-sports dengan industri gim saling berkaitan. Ia berpendapat jika industri gim ditingkatkan, maka e-sports juga ikut berkembang.

"Bisa juga para atlet ini ketika sudah tak lagi menjadi atlet, mereka akan menjadi pengamat atau bahkan membuat startup gimnya sendiri. Ini sisi industrinya," ujarnya.


Terlepas dari motif politis, Eddy menganggap pembahasan e-sports dan industri gim dalam debat terakhir sebagai angin segar.

Asosiasi yang dimpimpin Edy menaungi 500 atlet e-sports yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Rata-rata usia mereka berkisar antara 21 sampai 23 tahun.

Sementara berdasarkan data yang dihimpun Indonesia Esports Premier League (IESPL), jumlah pemain video gim di Indonesia pada 2019 mencapai 50 juta orang.

Belum Tentu Memengaruhi Elektabilitas

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai Jokowi sedang berupaya mengasosiasikan diri sebagai sosok pemimpin yang memahami perkembangan zaman dengan membicarakan e-sports. Jokowi juga berupaya membangun narasi bahwa dirinya memahami kebutuhan generasi milenial.

"Hal-hal seperti ini yang mau disasar oleh Jokowi, yang hendak mengasosiasikan dirinya sebagai pemimpin yang update terhadap perkembangan zaman dan memihak kebutuhan pasar segmentasi generasi milenial," kata Adi kepada reporter Tirto, Minggu (14/4/2019).

Namun, menurut Adi, narasi yang dibangun Jokowi terkait e-sports dan industri gim belum tentu memengaruhi elektabilitas. Ia mengatakan hal itu disebabkan belum meratanya perkembangan e-sports dan industri gim di daerah.

"E-sport ini kalau mau jujur hanya menyasar kaum milenial perkotaan, lantas bagimana dengan yang di pedesaan," ujarnya.

Padahal menurut Adi, masih banyak anak muda di pedesaan yang menjalani hidup secara konvensional seperti berkebun, bertani, dan nelayan.

"Harus ada segmentasi berbeda, karena e-sport ini hanya tersegmentasi pada generasi milenial perkotaan saja," kata dia.

Atas dasar itu, menurutnya perlu juga wacana untuk menyinergikan aktivitas kelompok muda di desa dengan berbasis digital. Ia mencontohkan penggunaan teknologi digital untuk mempermudah proses produksi atau jual beli hasil panen.

Baca juga artikel terkait DEBAT PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight