Pemenang Asian Games 2018 Sesungguhnya Adalah... Jokowi

Oleh: Lalu Rahadian - 4 September 2018
Dibaca Normal 1 menit
Ajang olahraga empat tahunan ini melambungkan nama Jokowi setahun sebelum pemilihan presiden.
tirto.id - Asian Games 2018 dianggap sukses, setidaknya dari sisi perolehan medali yang bisa melewati target. 31 atlet memperoleh medali emas, padahal target awal cuma 20 medali emas. Indonesia jadi juara empat di bawah Cina, Jepang, dan Korea Selatan.

Selain para atlet, "juara" lain dalam ajang olahraga empat tahunan ini adalah Joko Widodo. Alasannya sederhana, Jokowi adalah Presiden RI ketika Asian Games 2018. Ajang olahraga terbesar se-Asia ini hanya terpaut satu tahun dari Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019.

The Washington Post, media massa terhormat asal Amerika Serikat, mempublikasikan artikel berjudul Asian Games stir Indonesia’s pride, boost Jokowi’s campaign. Meminjam pernyataan Syamsuddin Haris, analis politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, WP menyebut keberhasilan Asian Games mendongkrak popularitas Joko Widodo dalam pemilihan presiden tahun depan.

Artikel ini lantas disalin-tempel media lain semisal Associated Press dan South China Morning Post.

Ismail Fahmi, analis media sosial, juga menyebut kalau pemenang Asian Games secara "politis" memang Joko Widodo.

Hal itu ia simpulkan setelah melihat persebaran kata kunci "Jokowi" dan tagar "2019TetapJokowi" yang lebih dekat dengan kata "Asian Games" dan "Closing Ceremony", ketimbang tagar "2019GantiPresiden" di sosial media, yang dianalisa lewat aplikasi Drone Emprit.


Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia Aditya Perdana mengatakan kesuksesan Asian Games 2018 yang berbanding lurus dengan popularitas Jokowi adalah wajar belaka.

"Dugaan saya kalau ada yang survei elektabilitas Pak Jokowi hari ini bisa jadi berubah, lebih naik," katanya kepada Tirto, Selasa (4/9/2018).

Menurut Aditya, keberhasilan pemerintah menyelenggarakan Asian Games 2018 nyaris tak bisa diserang dengan isu apa pun oleh kubu oposisi. Citra positif dari ajang olahraga itu sudah meluas dan diakui masyarakat.

Gerak cepat pemerintah mencairkan uang bonus bagi atlet juga mempersempit kemungkinan serangan dari kubu oposisi.

"Biasanya kan menunggu 1-2 bulan. Orang juga melihat tidak disangka bahwa ini bisa diselesaikan dengan baik," kata Aditya. Bonus bagi atlet diberikan pada 2 September 2018, hari yang sama ketika upacara penutupan berlangsung. Foto-foto buku tabungan para atlet dengan saldo miliaran rupiah tersebar cepat.


Apa yang bisa dilakukan pihak lain adalah mendompleng keberhasilan Asian Games, demikian kata Aditya. Satu contoh adalah apa yang diupayakan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lewat Twitter. Di sana dia mengatakan: "Tahun 2011 dulu Indonesia juga sukses besar selenggarakan Sea Games & jadi juara pertama. Setelah itu, kita berjuang dan berhasil jadi tuan rumah Asian Games 2018 ini," kata SBY, Senin (3/9/2018).

Infografik HL Indepth Asian Games 2018


Akan Dikampanyekan


Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal PDI-Perjuangan, sadar kalau memang ada sentimen positif seperti ini di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, ia ingin Asian Games 2018 jadi salah satu capaian Jokowi yang diumumkan ke publik ketika kampanye nanti selain, misalnya, pembangunan infrastruktur.

"Kiai Ma'ruf Amin menjelaskan, Pak Jokowi ini praktis baru bekerja tiga tahun capaiannya seperti itu [...] Apalagi nanti kalau rakyat memberikan kepercayaan lima tahun yang akan datang? Akan terjadi akselerasi," kata Hasto, di Posko Pemenangan Jokowi-Ma'ruf, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Ketua DPP PDIP Andreas Pareira mengatakan kalau keuntungan bagi Jokowi hanya "bonus" dari kerja keras selama ini.

"Kalau sukses artinya bonus untuk pemerintahan pak Jokowi. Menjadi lebih fenomenal karena bukan hanya sukses pelaksanaan tapi juga prestasinya. Jokowi melukis ulang sejarah kesuksesan Bung Karno pada Asian Games 1962," kata Andreas kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
(tirto.id - Politik)

Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Rio Apinino
DarkLight