tirto.id - Kesultanan Pajang sedang menghadapi krisis besar ketika Sultan Hadiwijaya mendapat ancaman dari Arya Penangsang, adipati Jipang yang menuntut kekuasaan atas Jawa. Perseteruan itu semakin meruncing setelah sejumlah tokoh penting di sekitar keluarga kerajaan tewas. Pajang pun berada di ambang perang.
Dalam situasi itu, tiga tokoh dari Sela membela Hadiwijaya. Mereka menyusun siasat untuk menghadapi Penangsang dan akhirnya membawa kemenangan. Mereka adalah Ki Penjawi, Ki Pemanahan, dan Ki Juru Martani.
Sebagai imbalan, menurut Sudrajat dalam "Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati dalam Historiografi Babad" (2008), Hadiwijaya memberikan wilayah Pati kepada Ki Penjawi, dan Alas Mentaok (wilayah yang kelak menjadi pusat kekuasaan Mataram) kepada Ki Pemanahan. Sementara Ki Juru Martani mengabdi cukup lama di Mataram sebagai penasihat kerajaan.
Pada mulanya, hubungan Pati dan Mataram berjalan beriringan. Hubungan keduanya bahkan sempat diperkuat oleh perkawinan. Namun, beberapa dekade kemudian, keturunan Ki Penjawi dua kali mengangkat senjata menghadapi Mataram.
Ki Penjawi dan Awal Pati-Mataram
Wilayah Pati, dengan Pelabuhan Juwana di pesisir utaranya, telah lama terhubung dengan jalur perdagangan. Ki Penjawi membangun kekuasaan di sebuah wilayah yang sudah memiliki jaringan politik dan ekonomi sendiri. Sementara itu, Pemanahan menghadapi keadaan berbeda di Alas Mentaok. Mataram bermula dari sebuah permukiman kecil di tengah hutan belantara.
Dari sinilah Pati dan Mataram mulai tumbuh di bawah dua keluarga yang kemudian terhubung melalui perkawinan.
Ki Penjawi lalu mewariskan kekuasaannya kepada putranya, Wasis Jayakusuma, yang kelak dikenal sebagai Adipati Pragola I. Di sisi lain, keturunan Pemanahan meneruskan kekuasaan di Mataram.
Hubungan kedua keluarga tetap berlanjut melalui perkawinan. Sutawijaya, putra Ki Pemanahan, menikahi Waskitajawi, putri kandung Ki Penjawi. Sutawijaya kemudian bergelar Panembahan Senapati dan Waskitajawi memiliki gelar Ratu Mas.
Bahkan ketika generasi berikutnya mulai memegang kekuasaan, kedua wilayah itu masih dapat berdiri dalam satu barisan. Pada 1590, pasukan Pati ikut bersama Mataram dalam ekspedisi menghadapi Madiun.
Beberapa tahun kemudian, hubungan itu berubah. Panembahan Senapati mulai memperluas pengaruh Mataram. Dari pedalaman, kekuasaan itu bergerak menuju wilayah-wilayah yang sebelumnya memiliki penguasa sendiri. Pati masih mempertahankan kepentingannya di pesisir utara.
Perlahan, kepentingan dua wilayah yang pernah berjalan bersama mulai berjarak.
Pragola I Melawan Mataram
Jayakusuma tidak langsung menjadi lawan Mataram. Setelah menggantikan Ki Penjawi sebagai penguasa Pati, ia masih berada dalam hubungan baik dengan Mataram. Ketika Panembahan Senapati bergerak menundukkan Madiun, pasukan Pati ikut bergabung. Jayakusuma berada di barisan yang sama dengan pasukan Mataram.
Sesudah Madiun jatuh, hubungan kedua penguasa perlahan berubah. Dalam Serat Babad Pati karya K.M. Sosrosumarto dan S. Dibyosudiro (1980), disebutkan bahwa Senapati membawa Retno Dumilah, putri penguasa Madiun, ke lingkungan Mataram. Jayakusuma merasa kehadiran putri Madiun itu dapat mengancam kedudukan kakaknya, Waskitajawi, yang menjadi permaisuri Senapati.
Serat Babad Pati bahkan menyimpan cerita yang lebih personal. Senapati dikisahkan menukar secara paksa kuda kesayangan Jayakusuma dengan sapi jantan miliknya yang bernama Pragola. Dari kisah inilah nama Pragola kemudian melekat pada adipati Pati tersebut.
Ada pula cerita lain. Dalam Babad Tanah Djawi dan Serat Kandha yang dikutip H.J. de Graaf dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1985:106), Jayakusuma dikisahkan meninggalkan sebuah pertemuan agung secara tiba-tiba. Ia disebut jengkel karena perkawinan Senapati dengan putri Madiun berlangsung ketika banyak pertumpahan darah masih terjadi.
Pada saat yang sama, persoalan yang lebih besar sedang berkembang di pesisir. Pada 1598 dan 1599, pasukan Mataram menyerang Tuban, meskipun kota pelabuhan itu mampu bertahan. De Graaf menduga Pragola I mungkin melihat serangan tersebut sebagai ancaman terhadap wilayah kekuasaannya sendiri di pesisir.
Pati memiliki kepentingan di kawasan utara Pergunungan Kendeng. Ketika Mataram terus memperluas pengaruhnya, persoalannya tidak lagi hanya menyangkut hubungan dua keluarga. Ada wilayah yang diperebutkan dan ada batas kekuasaan yang mulai berubah.
Ketegangan akhirnya pecah sekitar tahun 1600. Pragola I membawa pasukan dalam jumlah besar dari Pati menuju Mataram. Menurut de Graaf, salah satu tuntutannya berkaitan dengan penguasaan tanah-tanah di sebelah utara Pergunungan Kendeng. Dari sudut pandang Mataram, gerakan itu menjadi ancaman terhadap kekuasaan Senapati.
Pasukan Pati bergerak ke selatan dan mencapai wilayah Prambanan. Di sekitar Kali Dengkeng, Pragola I berhadapan dengan Panembahan Senapati sendiri. Pertempuran sengit pun terjadi sampai Pragola I dipaksa mundur.
Sumber-sumber tentang akhir hidup Pragola I tidak sepenuhnya jelas. De Graaf mencatat bahwa Senapati sendiri meninggal pada 1601 dan tidak ada kepastian apakah Pragola I masih hidup setelah kematian Senapati.
Dalam SeratBabad Pati, kisahnya jauh lebih dramatis. Sudrajat menunjukkan bahwa sumber tersebut memiliki cerita tersendiri mengenai pertempuran Pragola I dan para pengikutnya. Namun, Sudrajat juga menekankan bahwa sejarah hubungan Pragola I dan Senapati masih menyisakan banyak persoalan karena sumber tertulis dari luar tradisi Jawa sangat terbatas.
Yang jelas, perang tahun 1600 mengubah hubungan Pati dan Mataram. Dua kekuatan yang pernah berdiri dalam satu barisan menghadapi Madiun kini telah berhadapan di medan perang.
Pragola I gagal mempertahankan tuntutannya. Mataram tetap berdiri, sementara hubungan dua keluarga yang sebelumnya diikat oleh kerja sama dan perkawinan memasuki babak baru.
Kekerabatan yang Berakhir di Medan Perang
Kekalahan Pragola I tidak memutus hubungan Pati dan Mataram. Pada generasi berikutnya, kedua keluarga justru kembali terhubung melalui perkawinan.
Menurut de Graaf, Pragola II kemungkinan merupakan putra Pragola I. Serat Kandha menyebutnya sebagai cucu Ki Penjawi. Ia muncul ketika Mataram sudah jauh lebih kuat dibanding masa Panembahan Senapati. Dalam tradisi yang berkembang kemudian, istrinya disebut Raden Ajeng Tulak, saudara Sultan Agung Hanyakrakusuma. De Graaf sendiri lebih berhati-hati dan hanya mencatat kemungkinan bahwa Pragola II menikahi saudara perempuan Sultan.
Pada masa Sultan Agung, Mataram semakin memperluas kekuasaannya. De Graaf mengutip Serat Kandha yang menyebut Pragola II ikut berada dalam lingkungan ekspedisi Mataram ke Madura. Namun, ketika Mataram bersiap menggempur Surabaya, Pragola II justru sedang berselisih dengan pembesar Jepara hingga pasukannya dikerahkan. Pati kemudian berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, Pragola II memiliki hubungan dengan keluarga penguasa Mataram. Di sisi lain, ia tetap menjadi adipati Pati dengan kepentingan politiknya sendiri.
Ketegangan akhirnya pecah pada 1627. Dalam kisah yang dicatat sejumlah sumber Jawa, nama Tumenggung Endranata muncul sebagai tokoh yang menyampaikan laporan mengenai Pragola II kepada Sultan Agung. Ia digambarkan sebagai seorang pejabat yang memperkeruh hubungan antara penguasa Mataram dan adipati Pati. Pengerahan pasukan Pragola II ke Jepara disebutnya sebagai rencana pemberontakan pada Mataram.
Namun, terlepas dari bagaimana kisah itu diceritakan, keputusan Sultan Agung sudah diambil.
"Mendengar laporan Tumenggung Endranata, Sultan Agung langsung murka dan beberapa hari kemudian memerintahkan untuk menggempur Pati," tulis Ahmadi dalam Sejarah Pati (2013:33).
Pragola II enggan mundur. Ia mengerahkan kekuatan untuk mempertahankan wilayahnya. Pertempuran berakhir dengan kekalahan Pati. Pragola II tewas, dan kekuasaan Pati akhirnya jatuh ke tangan Mataram.
Menurut de Graaf, Sultan Agung kemudian menanyakan alasan pemberontakan itu kepada Raden Ajeng Tulak, janda Pragola II yang juga adiknya sendiri. Setelah mengetahui kebenarannya, Sultan Agung memerintahkan para abdinya untuk mengeksekusi Tumenggung Endranata.
Ki Penjawi memperoleh Pati setelah membantu kemenangan yang mengubah politik Jawa. Keturunannya kemudian dua kali berhadapan dengan Mataram. Padahal kedua keluarga itu pernah menjadi sekutu, terhubung melalui perkawinan, bahkan saling membantu dalam ekspedisi militer. Konflik muncul ketika kepentingan politik keduanya tidak lagi sejalan.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























