tirto.id - Dalam upaya memperkuat pertukaran budaya Indonesia–Jepang melalui pendekatan kreatif, lima fotografer Indonesia menghadirkan pameran bertajuk “Exposure: Unravelling the Coffee Culture” yang diselenggarakan pada 14–20 Februari 2026 di kawasan Fujikawaguchiko, Jepang. Pameran ini menjadi ruang dialog visual yang mengeksplorasi budaya kopi Indonesia serta pertemuannya dengan budaya kopi Jepang.
Pameran ini menghadirkan karya lima fotografer, yaitu Stevanus Awang, Rukii Naraya, Girvan Bhagaskara, Alvin Fauzie, dan Leontius Jesse. Dengan latar belakang dan perspektif yang beragam, para fotografer berkumpul dalam satu ruang kolaboratif, mencerminkan semangat lintas negara dalam membaca kopi sebagai medium pertukaran budaya.
Diselenggarakan di lima venue berbeda di area Fujikawaguchiko: Boku no Kohi, Cafe Dina, Coffee Roaster Moore, Kodachi Cafe, serta exhibition space Boku no Kohi. Pameran ini menghadirkan pengalaman yang menyatu dengan ekosistem kedai kopi lokal. Format multi-venue ini memungkinkan pengunjung menikmati karya fotografi sembari merasakan atmosfer kopi secara langsung.
Melalui pendekatan fotografi dokumenter dan konseptual, pameran ini mengangkat berbagai sisi budaya kopi Indonesia, mulai dari angkringan, starling (warung kopi keliling), hingga individu-individu yang berperan aktif memperkenalkan kopi Indonesia di Jepang. Tidak hanya berhenti pada budaya lokal, karya-karya yang dipamerkan juga merekam perjalanan kopi Indonesia dari hulu ke hilir, termasuk proses distribusi, konsumsi, hingga transformasi dan akulturasi dalam lanskap budaya kopi Jepang.
“Pameran ini bukan hanya tentang kopi sebagai komoditas, tetapi tentang kopi sebagai ruang perjumpaan. Ada cerita tentang perjalanan, identitas, dan bagaimana dua budaya saling memahami melalui kopi,” ujar Stevanus Awang, salah satu fotografer dalam pameran tersebut.
Sebagai bagian dari pembukaan, masing-masing fotografer turut menggelar workshop yang dihadiri oleh masyarakat lokal, pengunjung kafe, serta komunitas Indonesia yang tinggal di sekitar lokasi pameran. Antusiasme pengunjung terlihat dari diskusi aktif dan respons positif terhadap materi yang disampaikan.
Salah satu peserta workshop menyampaikan apresiasinya, “Saya senang bisa mengikuti workshop ini karena informasinya sangat menarik dan tidak bisa ditemukan di tempat lain.” Pengunjung lainnya mengaku tertarik dengan konsep angkringan yang hangat dan bersahabat, serta menyatakan keinginannya untuk merasakan langsung pengalaman tersebut di Indonesia.
Selama pelaksanaannya, pameran ini telah dikunjungi oleh ratusan pengunjung, mulai dari wisatawan, penikmat kopi lokal, hingga komunitas kreatif. Kehadiran beragam latar belakang pengunjung menunjukkan bahwa kopi mampu menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan budaya.
Sebagai kelanjutan dari rangkaian acara, pameran ini akan hadir di Tokyo pada 22 Februari 2026, bertempat di Kopi Kalyan Tokyo. Dalam eksibisi satu hari penuh ini, seluruh karya akan ditampilkan kembali untuk menyapa audiens di ibu kota. Melengkapi pameran visual, acara ini juga akan menghadirkan sesi workshop pada hari yang sama, memberikan ruang bagi pengunjung untuk berdiskusi lebih dalam mengenai narasi budaya dan cerita di balik setiap karya.
Secara lebih luas, pameran ini memperkenalkan kekayaan budaya kopi Indonesia kepada publik Jepang, sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi kreatif Indonesia memiliki daya saing global melalui pendekatan visual dan naratif yang kuat.
Melalui “Exposure: Unravelling the Coffee Culture”, kopi tidak hanya disajikan sebagai minuman, tetapi sebagai medium pertukaran budaya yang baik, inklusif, dan relevan bagi pecinta kopi dari kedua negara.
Masuk tirto.id





























