tirto.id - Pakar kebencanaan dan ahli geofisika Universitas Syiah Kuala (USK), Nazli Ismail, menilai lubang raksasa akibat gerakan tanah di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, bukan fenomena sinkhole atau lubang runtuhan.
Material pasir vulkanik ini, menurut Nazli, pada proses geologi tertentu dapat berkembang menjadi batu pasir. Namun, selama material tersebut belum mengalami pemadatan, kondisi tanah menjadi sangat rentan terhadap gangguan lingkungan.
Tanah berpasir yang gembur mudah kehilangan daya ikat ketika dipicu oleh pergerakan, baik akibat gempa bumi maupun oleh air hujan dengan intensitas tinggi.
Curah hujan tinggi yang terjadi pada akhir tahun lalu, termasuk yang dipengaruhi oleh siklon senyar, dinilai mempercepat pelepasan ikatan tanah. Kondisi tersebut menyebabkan tanah runtuh dan membentuk jurang besar.
Tanpa adanya proteksi, fenomena ini berpotensi terus berulang dan meluas, terutama pada musim penghujan. Oleh karena itu, Nazli menegaskan fenomena lubang besar di Pondok Balek tidak dapat dikategorikan sebagai sinkhole.
“Secara sekilas kita lihat di sana, itu bukan bagian dari sinkhole, Karena kalau sinkhole itu terjadi penurunan tanah akibat dari daerah-daerah kars,” kata Nazli, Rabu (4/2/2026).
Meski Aceh Tengah dan Bener Meriah termasuk kawasan kars, jelas dia, material penutup di lokasi tersebut berupa pasir vulkanik, sehingga mekanisme kejadiannya berbeda dengan sinkhole.
Ia mengingatkan jika pemerintah tidak serius dalam melakukan proteksi dan mitigasi, perluasan gerakan tanah akan terus terjadi.
“Tanpa ada proteksi, mitigasi, itu pasti akan terjadi perluasan. Karena kita tahu sekitar situ kan semua tanah berpasir,” tambahnya.
Selain hujan, kondisi saat ini juga diperburuk oleh pergerakan air tanah. Aliran air dari kawasan yang lebih tinggi menuju area rendah menyebabkan penurunan daya ikat tanah, bahkan runtuhan dapat terjadi meski tanpa hujan.
Faktor lain yang memperbesar risiko adalah keberadaan jalan di sekitar lokasi, getaran kendaraan dapat memicu longsoran lanjutan.
Nazli menyarankan untuk membangun tanggul guna menahan pergerakan tanah, meski membutuhkan biaya besar.
Sebagai solusi jangka menengah dan panjang, ia menekankan pentingnya reboisasi untuk meningkatkan daya ikat tanah berpasir. Pemerintah daerah dinilai dapat melibatkan masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas dalam kegiatan penanaman pohon.
Menurut Nazli, reboisasi berbasis partisipasi masyarakat menjadi solusi paling realistis untuk kondisi saat ini.
"Pemerintah daerah bisa mengajak masyarakat, community base untuk melakukan reboisasi di situ. Itu membuat masyarakat sadar bahwa sekeliling mereka itu ada ancaman," tutupnya.
Luasan area terdampak lubang raksasa itu pada 2022 tercatat sekitar 28.000 meter persegi. Kini, meningkat menjadi 30.172 meter persegi. Data tersebut tercantum dalam surat resmi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh Nomor 500.10.5.3/162 tertanggal 27 Januari 2026.
Wilayah Aceh Tengah diketahui didominasi oleh batuan vulkanik dan endapan vulkanik yang sebagian besar berupa pasir hasil aktivitas gunung api di masa lalu.
============
Kontributor: Nadim
Penulis: Nadim
Masuk tirto.id

































