tirto.id - Fenomena proses geologi di desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, terus mengalami perkembangan signifikan. Berdasarkan surat resmi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh Nomor 500.10.5.3/162 tertanggal 27 Januari 2026, luasan gerakan tanah yang pada 2022 tercatat sekitar 28.000 meter persegi, kini telah berkembang menjadi 30.172 meter persegi.
Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa longsoran telah mencapai badan jalan utama dan terus bergerak ke arah utara. Kondisi ini menyebabkan akses jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah terputus total, sehingga pemerintah setempat terpaksa membuka jalan elak atau pintas sebagai jalur alternatif sementara.
Surat yang ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, mengungkapkan bahwa penyebab utama longsor berasal dari kondisi geologi yang tidak stabil.
“Kombinasi batuan vulkanik (tufa dan pasir) yang rapuh, diperparah oleh gerusan aliran air bawah tanah dan kemiringan tebing yang curam, menjadi pemicu utama ketidakstabilan lereng,” kata Taufik seperti yang dikutip dalam surat tersebut, Senin (2/2/2026).
Selain mengancam infrastruktur jalan, longsoran ini juga berdampak serius terhadap kawasan pemukiman warga di sekitarnya. Jarak longsoran tercatat hanya sekitar 450 meter dari pemukiman dan aliran sungai Kampung Segene Balik. Sementara itu, jarak ke pemukiman Kampung Pondok Balik sekitar 600 meter, dan ke pemukiman terdekat di wilayah Kabupaten Bener Meriah sekitar 500 meter.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah mengambil sejumlah langkah pengamanan.
Juru Bicara Pemerintah Aceh Tengah, Mustafa Kamal, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemasangan rambu peringatan dan pembatas di sekitar lokasi longsor, serta melakukan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat.
"Kami sudah mengambil langkah pengamanan," ujarnya Senin (2/2/2026).
Selain itu, langkah teknis juga dilakukan melalui pemantauan retakan baru, pembuatan drainase untuk mengendalikan aliran air, serta penguatan tebing dengan penanaman vegetasi penyangga. Dari sisi aksesibilitas, jalur lalu lintas dialihkan sementara agar menjauhi titik longsor yang dinilai berisiko tinggi.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menilai penanganan jangka panjang membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Pemkab berharap adanya intervensi berupa kajian geologi mendalam, bantuan relokasi pemukiman dan lahan warga yang terancam, serta pemindahan permanen infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan telekomunikasi.
Selain itu, pembangunan akses jalan aspal baru yang aman dan berada di luar zona rawan sinkhole juga dinilai mendesak guna menjamin keselamatan masyarakat dan kelancaran aktivitas ekonomi antarwilayah.
=======
Kontributor: Nadim
Penulis: Nadim
Masuk tirto.id


































