Pablo Picasso dan Seni yang Tak Patuh pada Apa Pun

Oleh: Dea Anugrah - 27 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Harga karya-karya Picasso stabil mahal. Pasar menyukainya, tak peduli ia adalah seniman yang sangat produktif. Picasso menghasilkan lebih dari 20 ribu karya seni dan hampir 2.000 di antaranya adalah lukisan.
tirto.id - Majalah The New Yorker, dalam edisi gabungan 11 dan 18 Agustus 2014, menampilkan sebuah cerita pendek berjudul "Picasso" karya César Aira. Cerita itu dibuka dengan sebuah permasalahan. Penutur cerita, yang mengaso di taman setelah berkeliling melihat koleksi Museum Picasso, tanpa sengaja membebaskan jin dari botol minuman kemasan. Jin itu meminta si penutur memilih satu hadiah: sebuah lukisan karya Pablo Picasso atau diubah menjadi Pablo Picasso.

Salah satu lukisan termahal di dunia, Women of Algiers (Version O), adalah karya Picasso. Pada 2015 balai lelang Christie's New York menjualnya seharga 179 juta dolar Amerika Serikat. Lima tahun sebelumnya, lukisan Picasso yang berjudul Nude, Green Leaves and Bust laku dengan harga 104 juta dolar di rumah lelang yang sama. Le Reve, yang menampilkan perempuan muda terlelap di kursi, dibeli seharga 155 juta dolar pada 2013. Daftar itu bisa berlanjut sampai 2 halaman lagi.

Pendeknya, harga karya-karya Picasso stabil mahal. Pasar menyukainya, tak peduli ia adalah seniman yang sangat produktif. Situs pablopicasso.org mencatat bahwa ia menghasilkan lebih dari 20 ribu karya seni dan hampir 2.000 di antaranya adalah lukisan.

Pakar sejarah desain dan ilmu kuratorial Sarah Lichtman menyampaikan kepada The Guardian pada 12 Mei 2015: tren belanja karya seni memang sedang terpusat pada periode modern, di mana Picasso merupakan salah satu eksponen terpentingnya, dengan harga yang akan naik pada setiap musim lelang dan membikin reputasi senimannya makin mengkilap.

Dengan demikian, mendapat sebuah lukisan Picasso secara cuma-cuma ialah keberuntungan besar. Atau, dalam kata-kata narator cerita Aira: “Dengan harga saat ini … satu lukisan sudah cukup untuk membuatku makmur dan hidup tenang, menulis novel-novelku, bersantai, dan membaca.”

Tapi, bagaimana dengan pilihan yang satu lagi, yakni menjadi Picasso? Jika dapat menciptakan dan memiliki dan menjual seluruh karya Picasso, mengapa hanya memilih salah satu?

Lagi pula, “Siapa yang tak ingin menjadi Picasso?” kata si narator, merenung. “Apakah ada nasib manusia sepanjang sejarah modern yang lebih membikin iri? Bahkan keistimewaan kekuasaan duniawi tertinggi tak sebanding dengan yang dipunyai Picasso. Perang dan peristiwa politik bisa melucuti kekuasaan semacam itu, sementara kekuasaan Picasso, melampaui presiden dan raja mana pun, tidak tergoyahkan.”

Kekuasaan terbesar Picasso ialah legasi atau warisannya. Kebanyakan manusia di dunia ini, Anda tahu, dilupakan segera setelah kematian. Sebagian bahkan sudah diperlakukan seperti stiker atau gantungan kunci semasa hidupnya. Tapi, Pablo Picasso, yang telah mati selama 43 tahun, dibicarakan seolah-olah ia masih berada di atas, bukan di dalam, tanah. Dua hari lalu dunia merayakan ulang tahunnya yang ke-135. Jejak sebesar itu tentu hanya mungkin ditinggalkan oleh hidup yang besar pula.

Salah satu ciri utama seniman yang baik, dari bidang apa pun, ialah semangat untuk mencoba bentuk-bentuk ekspresi baru. Seniman yang gampang puas dan menganggap diri telah sampai pada puncak, sehebat apa pun bakatnya, hanya akan mandek dan menghasilkan karya-karya yang membosankan. Sekarang, bayangkan bauran sebuah bakat luar biasa dan kerja keras mencari bentuk terbaik yang tak kenal henti. Itulah Picasso.

Infografik Picasso


Keunggulan bakat Picasso tampak saat ia berumur 13 tahun. Saat itu, ayah sekaligus guru melukisnya yang pertama, Jose Ruizy Blanco, takjub pada ketepatan teknik dalam sketsa merpati bikinan sang anak. Konon, ketakjuban itu sampai membuatnya berhenti melukis. Setahun kemudian Picasso mulai menyelenggarakan pameran dan menjual karya-karyanya.

Pada periode itu jugalah Picasso memperoleh pendidikan seni formal. Mula-mula di sekolah seni rupa Barcelona tempat ayahnya mengajar. Kemudian, pada usia 16 tahun, di Royal Academy of San Fernando, Madrid. Tetapi Picasso agaknya tak senang bersekolah. Ia rajin membolos sejak awal, dan tak kesulitan menyerap inspirasi dari luar kelas, terutama dari karya-karya El Greco dan Caravaggio. Sejumlah elemen dalam karya keduanya—warna, tungkai-tungkai yang dipanjangkan, serta wajah-wajah yang memancarkan kesan mistik—meninggalkan gema dalam oeuvre Picasso.

Perhentian si seniman muda yang berikutnya ialah Paris. Di kota itulah ia menciptakan karya-karya yang kelak digolongkan para kritikus ke dalam musim kreatif pentingnya yang pertama, The Blue Period atau Periode Biru. Dalam rentang 1901 hingga 1904, Picasso menciptakan banyak lukisan monokromatik dalam nuansa biru dan biru-hijau, yang hanya sesekali dihangatkan oleh warna-warna lain. Karya-karya itu seringkali menampilkan kaum jembel, para pelacur, orang-orang lanjut usia, dan kebutaan.

Di kemudian hari, Picasso menerangkan kecenderungan tersebut: “Saya mulai melukis dengan warna biru setelah mengetahui kematian Casagemas.” Carlos Casagemas, seorang pelukis Catalan, adalah sahabat Picasso sejak remaja. Ia mati bunuh diri di Paris pada 1901.

Periode berikutnya, 1904 hingga 1906, adalah The Rose Period atau Periode Mawar. Pada waktu itu, Picasso kerap menggunakan warna-warna oranye dan merah muda. Ia melukis penampil sirkus, badut, dan pemain pantomim. Di masa itu pulalah Picasso mulai mengembangkan gaya khasnya. Alih-alih memotret orang-orang secara spesifik, lukisan-lukisan Periode Mawar mengkarakterisasi mereka. Itu merupakan langkah pertama Picasso dalam mendekati seni abstrak.

Pada 1907 sampai 1909, Picasso, Henri Matisse, dan pelukis-pelukis lain dalam Mahzab Paris memadukan penampakan figur manusia dalam patung-patung Afrika dengan gaya lukisan-lukisan pascaimpresionisme Edouard Manet, Paul Cezanne, dan Paul Gauguin. Hasilnya: kesan gepeng, warna-warna mencolok, serta ornamen yang menyerupai pecahan kaca. Sekalipun tidak mengerti kegunaan patung-patung Afrika Barat dan Tengah itu, mereka mengenali aspek spiritual dari komposisinya dan menyuntikkannya dalam karya-karya mereka.

Kemudian, bersama Georges Braque, Picasso merintis aliran Kubisme. Ia menganalisis bentuk-bentuk alamiah dan mereduksinya ke dalam bagian-bagian geometris dasar pada bidang dua dimensi. Untuk pewarnaan, Picasso kerap menggunakan skema monokromatik yang terdiri dari abu-abu, biru, dan oker. Alih-alih warna, lukisan dalam gaya ini memanfaatkan bentuk-bentuk seperti silinder, bola, corong, dan sebagainya untuk menampilkan dunia. Tapi, berbeda dari rekan-rekannya, Picasso tak mencebur ke dalam seni abstrak murni. Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan “dimensi ketiga” seperti Piet Mondrian, misalnya.

Picasso mulai melukis dengan gaya Neoklasik pada 1918, meninggalkan pelukis-pelukis yang membuntuti dia ke jalur Kubisme. Sepuluh tahun kemudian, ia beralih lagi ke Surealisme. Pada masa yang belakangan itulah ia menciptakan Guernica, lukisan cat minyak berukuran mural yang mengungkapkan keganasan perang dan penderitaan penduduk kota Guernica yang dibom oleh pesawat-pesawat Jerman dalam Perang Sipil Spanyol.

“Tidak ada lukisan yang dibikin hanya untuk menghiasi apartemen,” katanya, dalam sebuah wawancara tentang seni dan politik di periode tersebut. “Lukisan menyerang dan bertahan sekaligus.”

Kelak, menjelang akhir hidupnya, Picasso melukis seperti kanak-kanak. Ia menganggap seni kanak-kanak sebagai rumah bagi orisinalitas dan kemurnian, jauh dari cemaran pretensi. Ia berkata, “Saya sanggup melukis seperti Raphael sejak kanak-kanak, tapi perlu seumur hidup untuk belajar melukis seperti anak-anak.”

Goenawan Mohamad, dalam “Rivera” yang diterbitkan Tempo pada 08 Agustus silam, merangkum perjalanan kreatif Picasso tersebut: “Seninya tak pernah bersedia mengikuti formula, tak pernah patuh pada apa pun.” Barangkali, itulah yang menjadikan dia besar, yang membuat bayang-bayangnya tak tersingkirkan hingga saat ini.

Baca juga artikel terkait LUKISAN atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Dea Anugrah