Menuju konten utama

OJK: Tambahan Likuiditas Rp100 T untuk Beli SBN Hanya Sementara

Kebijakan fiskal yang diberikan oleh Kemenkeu tersebut utamanya membantu menjaga likuiditas perbankan di tengah dinamika ekonomi saat ini.

OJK: Tambahan Likuiditas Rp100 T untuk Beli SBN Hanya Sementara
Warga mencari informasi mengenai Surat Berharga Negara (SBN) jenis Sukuk Tabungan Seri ST010 di Jakarta, Kamis (18/3/2023). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

tirto.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons positif kebijakan penambahan likuiditas perbankan sebesar Rp100 triliun yang diinisiasi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Tambahan likuiditas itu bahkan diperbolehkan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN).

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menilai bahwa pemanfaatan dana tersebut untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) bersifat sementara atau temporary.

Menurutnya, kebijakan fiskal yang diberikan oleh Kementerian Keuangan tersebut utamanya membantu menjaga likuiditas perbankan di tengah dinamika ekonomi saat ini.

"Nah kalau saya sih welcome aja ya tentu saja kebijakan fiskal yang diberikan oleh Menteri Keuangan kepada kita itu membantu likuiditas tentu saja," ujar Dian usai Pengucapan Sumpah Jabatan Anggota Komisioner OJK di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Menurutnya, tambahan likuiditas ini juga berperan dalam menekan biaya bunga. Dian menjelaskan, kondisi saat ini menunjukkan bahwa special rate telah mengalami penurunan yang signifikan sehingga persaingan antarbank dalam memperebutkan dana tidak lagi terlalu ketat.

"Nah itu yang sangat membantu aja sehingga kecenderungan nanti mengikuti BI rate itu akan bisa tercapai dengan lebih cepat gitu kira-kira," jelasnya.

Mengenai pemanfaatan dana tersebut untuk membeli SBN, Dian menyebut bahwa hal itu merupakan langkah temporary investment atau investasi sementara. Ia bilang bahwa fungsi utama bank tetaplah menyalurkan kredit.

"Ya kalau SBN itu kan hanya temporary. Istilahnya temporary investment. Masa dibiarkan nganggur kan lebih baik kan diinvestasikan berapa persen pun. Tetapi tujuan akhir sebuah bank itu adalah memberikan kredit," ucapnya.

Dian membandingkan imbal hasil SBN yang saat ini berada di kisaran enam persen dengan penyaluran kredit yang dapat menghasilkan bunga di atas 9 hingga 10 persen. Dengan demikian, ketika permintaan kredit sudah cukup tinggi, bank akan lebih memilih menyalurkan dana tersebut ke sektor riil.

"Kalau misalnya demandnya sudah cukup tinggi nanti tidak akan lagi dipakai. Ya mungkin itu dicairkan kan gitu. Nah jadi memang kalau temporary nggak ada masalah kalau menurut saya. Itu kan ada upaya bank, bank tidak boleh menganggurkan uangnya kan," paparnya.

Lebih lanjut, Dian menilai pembelian SBN oleh perbankan juga memberikan manfaat bagi negara karena turut mendukung pembiayaan fiskal.

"Dan saya kira juga kalau dia beli SBN itu kan membantu negara sebetulnya. Balik lagi membantu negara juga untuk pembiayaan fiskal gitu kan. Jadi gitu saya kira," tuturnya.

Adapun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menambah penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah ke perbankan sebesar Rp100 triliun sebelum Lebaran 2026.

Purbaya menjelaskan, kebijakan itu juga merupakan bagian dari upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dengan terus memantau pergerakan indikator di pasar.

“Kalau bond yield naik 0,1 persen, saya sudah perhatikan ada apa ni? Naik 0,4 persen pasti likuiditas di bank kurang,” ujarnya dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Rabu (25/3/2026).

“Saya cek, oh betul bank kurang. Saya tambah lagi masukin ke sistem,” imbuh Purbaya.

Baca juga artikel terkait LIKUIDITAS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto