tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat, uang primer (M0) adjusted pada Desember 2025 mencapai Rp2.367,8 triliun atau tumbuh 16,8 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan November 2025 yang sebesar 13,3 persen, dengan posisi M0 adjusted saat itu tercatat Rp2.136,2 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perkembangan M0 adjusted pada Desember 2025 dipengaruhi oleh pemberian insentif likuiditas melalui pengendalian moneter adjusted.
Insentif likuiditas tersebut merujuk pada penyesuaian perhitungan jumlah uang beredar, seperti M0 dan M2, yang dilakukan Bank Indonesia untuk memperhitungkan dampak pemberian likuiditas, termasuk Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM), kepada perbankan.
“Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 Adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),” ungkap Ramdan dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (8/1/2026).
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia pada 16 Desember 2025 meningkatkan besaran insentif likuiditas bagi perbankan yang menurunkan suku bunga kredit lebih cepat melalui interest rate channel, dari maksimal 0,5 persen menjadi 1,0 persen dari dana pihak ketiga (DPK). Sementara itu, insentif likuiditas untuk penyaluran kredit melalui lending channel tetap besar, yakni maksimal 4,5 persen dari DPK.
Hingga 16 Desember 2025, total insentif KLM yang telah dikucurkan Bank Indonesia mencapai Rp388,1 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada bank BUMN sebesar Rp177,1 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) Rp169,5 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp34,6 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,0 triliun.
Secara sektoral, insentif KLM mengalir ke sektor-sektor prioritas, antara lain pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estat dan perumahan, serta UMKM, koperasi, inklusi, dan pembiayaan berkelanjutan.
“Untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit/pembiayaan perbankan dalam rangka optimalisasi intermediasi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian, yang berlaku efektif pada 16 Desember 2025, sebagai berikat: 1. Mempertahankan besaran insentif KLM paling tinggi sebesar 5,5 persen dari DPK,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16–17 Desember 2025 secara daring, Rabu (17/12/2025).
Selain itu, Bank Indonesia juga menyesuaikan besaran insentif KLM yang bersumber dari penyaluran kredit atau pembiayaan ke sektor-sektor tertentu yang ditetapkan bank sentral (lending channel) dari sebelumnya maksimal 5 persen menjadi 4,5 persen dari DPK.
Penyesuaian juga dilakukan pada insentif yang berasal dari penetapan suku bunga kredit atau persentase imbal hasil pembiayaan yang sejalan dengan arah suku bunga kebijakan Bank Indonesia (interest rate channel), dari semula maksimal 0,5 persen menjadi 1,0 persen.
Di sisi lain, pertumbuhan M0 adjusted pada Desember 2025 juga didorong oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted serta uang kartal yang diedarkan. Giro bank umum tercatat tumbuh 35,1 persen menjadi Rp979,86 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang sebesar Rp725,23 triliun.
Sementara itu, uang kartal yang diedarkan mencapai Rp1.359,9 triliun, meningkat dibandingkan posisi Desember 2024 yang sebesar Rp1.204,5 triliun.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































