Novel "Cabul" yang Memicu Debat Moral di Amerika dan Inggris

Oleh: Andrian Pratama Taher - 7 November 2016
Dibaca Normal 5 menit
Karya D.H. Lawrence yang berjudul Lady Chatterley’s Lover berkali-kali coba dibungkam melalui sensor dan pengadilan. Di Amerika, Inggris, sampai Jepang, novel tersebut dianggap bermasalah dan sampai dibawa ke pengadilan. Seberapa cabul sebenarnya novel Lady Chatterley’s Lover? Apa kaitannya dengan Pilpres Amerika?
tirto.id - Lady Chatterley, Hilary Clinton, dan Perubahan di Amerika

Karya D.H. Lawrence yang berjudul Lady Chatterley’s Lover mengalami sensor dan penolakan dari publik Amerika. Terbit pada 1928, 88 tahun sebelum Hilary Clinton berhasil maju sebagai kandidat Presiden Amerika, novel Lawrence itu ditolak karena dianggap terlalu vulgar dan menampilkan sosok perempuan yang berani mengambil sikap, menikmati hidup, termasuk merayakan kenikmatan seksual secara bebas.

Novel tersebut membuat geger banyak orang dan dipermasalahkan di banyak negara. Novel ini berisi kisah cinta dan hubungan gelap perempuan kelas atas bernama Lady Chatterley dengan gamekeeper, Olliver Mellors ini. Ini kisah lintas kelas sosial, antara perempuan elit dengan laki-laki kelas bawah. Plus diperkaya dengan deskripsi adegan seksual yang pada masanya dianggap kelewat rinci dan vulgar

Ya, belum terlalu lama (untuk ukuran sejarah Amerika) perempuan di negeri Paman Sam sangat sulit mengekspresikan dirinya, dengan tolok ukur karakter Lady Chatterley, kini Hilary Clinton sedang bersiap menyongsong sejarah hebat. Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi kaum perempuan Amerika. Jika Hilary dapat mengalahkan Donald Trump, ia dengan sendirinya akan mencatatkan diri sebagai perempuan pertama yang menjadi presiden di negeri Paman Sam.

David Herbert Richard Lawrence memang bukan warga Amerika. Ia pengarang kelahiran Nottinghamshire, Inggris. Novel Lady Chatterley’s Lover sendiri mula-mula terbit di tanah asal sang pengarang, Inggris, pada 1928. Lawrence menerbitkan karyanya itu secara mandiri. Itu dilakukan karena ia ingin karyanya terbit tanpa sensor. Martin Secker selaku penerbit menolak keinginan Lawrence. Bagi Martin, novel Lawrence terlalu vulgar sehingga berbahaya jika tidak disunting, terutama menghilangkan bagian-bagian yang dirasanya vulgar.

Akibat penolakan tersebut, Lawrence memutuskan menerbitkan edisi pertama Lady Chatterley’s Lover tanpa hak cipta namanya pada Juli 1928 di Italia. Ia menerbitkan Lady Chatterley’s Lover secara terbatas, yakni sekitar 1000 eksemplat.

Begitu Lady Chatterley’s Lover terbit, karya tersebut langsung menyedot perhatian publik. Karya ini mulai menyebar hingga ke luar negeri secara ilegal. Satu bulan berselang pasca penerbitan, petugas bea cukai Amerika Serikat menyita sejumlah eksemplar novel Lady Chatterley’s Lover. Selain di Amerika, novel Lady Chatterley’s Lover versi tanpa sensor juga ditemukan oleh satuan kepolisian Inggris, Scotland Yard.

Reaksi keras yang menyerang Lawrence mulai bermunculan. Cerita yang erotis, kisah cinta yang gelap dan terlarang antara perempuan kelas elit dengan laki-laki dari kelas rendahan, menjadi faktor utama. Terutama kaum bangsawan, atau para elit, tidak menyukai novel tersebut karena dianggap mengkampanyekan sikap moral yang buruk. Novel Lawrence tidak pantas dibaca karena menggambarkan perempuan terhormat yang mau-maunya menjalin cinta, hingga hubungan seksual, dengan laki-laki yang pekerjaannya adalah pelayan.

Mengadili Novel

Penolakan terhadap Lady Chatterley’s Lover pun sampai ke pengadilan. Dalam penelusuran tirto.id, awal mula karya ini berurusan dengan meja hijau dimulai di Amerika. Pada 1944, karya ini dinyatakan sebagai karya cabul oleh pengadilan Amerika tak lama setelah versi tanpa sensornya diterbitkan Dial Press, salah satu penerbit Amerika. Sebelumnya, Lady Chatterley's Lover sudah diterbitkan di Amerika oleh penerbit terkemuka, Alfred A. Knopf, pada 1928, tak lama dari penerbitan edisi perdana di Italia. Hanya saja, penerbitan versi Alfred Knopf ini tidak dipermasalahkan karena sudah menghilangkan bagian-bagian yang dianggap vulgar.

Pada 1959, penerbit Grove menerbitkan versi tanpa sensor di Amerika Serikat. Ini memicu perdebatan yang lumayan seru. Lady Chatterley's Lover, bersama Tropic of Cancer dan Fanny Hill, sudah cukup lama dihalang-halangi peredarannya. Namun pada 1959, berkat bantuan Barney Rosset dan pengacara Charles Rembar, novel itu dapat terbit oleh Grove Press yang dimiliki oleh Rosset. Versi ini dilengkapi dengan pendapat yang lengkap dari Hakim Banding di pengadilan, Frederick van Pelt Bryan, yang membela Lady Chatterley's Lover.

Penerbitan versi tanpa sensor di Amerika itu mendorong Penguin Books untuk melakukannya di Inggris. Dan mereka menerbitkan versi tanpa sensor untuk pembaca Inggris pada 1960. Dengan segera, Penguin didakwa telah melanggar Obscent Publication Act, beleid yang dirilis pada 1959 yang mencoba mengatur material-material yang dianggap cabul.

Lady Chatterley's Lover versi tanpa sensor dianggap melanggar karena berkali-kali memuat kata-kata yang dianggap cabul, seperti “fuck” (entot) dan “cunt” (memek) dan memuat banyak sekali adegan-adegan seks. Bagian-bagian itulah yang selama ini disensor di wilayah Kerajaan Inggris (dan masih berlaku di silabus pendidikan sampai pertengahan 1980an).

Penguin mengerahkan banyak sekali intelektual dan akademisi untuk membuktikan bahwa novel ini adalah karya sastra yang baik dan punya kualitas literer. Dalam persidangan, hakim John Mervyn Guthrie Griffith-Jones meminta publik untuk mendefinisikan apakah buku ini tergolong buku cabul serta baik untuk dikonsumsi publik. Dalam persidangan, pihak pembela, Gerald Gardiner, menilai buku tersebut tidak melanggar peraturan dan tidak mengajak orang untuk menjadi jahat.

Proses persidangan yang dikenal dengan kasus R v Penguin Books Ltd., ini berjalan cukup lama. Sekitar 35 orang saksi ahli dipanggil untuk menilai karya Lawrence dari sisi artistik, sosial, dan moral. Selama persidangan, dua komentar kuat menjadi pertimbangan, yakni Uskup Wolwich Dr. John Robinson serta pengajar dan sosiolog Richard Hoggard.

John menilai, Lady Chatterley’s Lover hanyalah refleksi dari hubungan seksual yang lebih sakral. Untuk komentarnya itu, John mendapat cibiran lantaran ia menilai buku ini layak dibaca oleh masyarakat. Sementara sosiolog Richard Hoggard menilai buku ini merupakan karya yang tidak diciptakan sesuai dengan ketentuan masyarakat saat itu. Kemudian secara retoris, Hoggart pun menilai karya ini sebagai "highly virtuous if not puritanical".

Setelah beragam pemeriksaan, pengadilan pun resmi menjatuhkan keputusan pada 2 November 1960. Pengadilan memutuskan bahwa Lady Chatterley's Lover yang diterbitkan oleh Penguin Books “tidak bersalah” dan memungkinkan versi tanpa sensor terbit secara luas.

Ini keputusan yang menggemparkan. Keputusan itu dianggap sebagai, di antaranya oleh Graham Lord, “Bunyi terompet pertama dari masyarakat permisif, momen yang membuat banyak orang percaya bahwa moralitas, tata prilaku, dan kehidupan keluarga di Britania secara serius mulai ambruk”.

Selain di Inggris dan Amerika, usaha mencegah penyebaran Lady Chatterley’s Lover pun terjadi di Jepang. Pada 1950, terjemahan bahasa Jepang tanpa sensor terbit di Jepang. Sei Ito, salah seorang seniman dan penerjemah, menejermahkan Lady Chatterley’s Lover tanpa sensor. Tindakan tersebut membuat Sei harus menjalani persidangan di Jepang.

Persidangan ini menjadi kontroversial karena dimulai pada 8 Mei 1951 dan baru berakhir pada 18 Januari 1952. Di Jepang, penerjemah dan penerbit edisi tanpa sensor dinyatakan bersalah. Gara-gara penerjemahahan Lady Chatterley’s Lover, Ito harus membayar denda 100.000 yen serta penerbit terjemahan Lady Chatterley’s Lover juga didenda sebesar 250.000 Yen.

Kontroversi Lady Chatterley’s Lover sebagai karya cabul yang harus dilarang terus berlanjut. Pemerintah Australia bukan hanya sempat melarang penerbitan buku Lady Chatterley’s Lover, tetapi juga melarang penerbitan buku yang membahas persidangan Lady Chatterley’s Lover, yakni The Trial of Lady Chatterley. Meskipun dilarang, buku ini tetap beredar di Australia setelah ada sekelompok orang yang berusaha menyelundupkan salinan novel tersebut.

Infografik Lady Chatterley's lover


Membongkar Kemunafikan Kaum Konservatif

Kemunculan karya Lady Chatterley’s Lover pada 1928 itu memang kontroversial. Namun, tidak disangkal lagi bahwa novel tersebut ikut membuka diskursus publik tentang batasan-batasan moral.

Di Amerika, Lady Chatterley’s Lover pernah menjadi karya yang haram untuk dibaca. Kisah tersebut tidak hanya sekadar harus disensor, bahkan sebaiknya tidak diperkenankan masuk atau dibaca oleh masyarakat Amerika. Bagi kaum elit Amerika, nilai-nilai erotis hingga vulgar yang diceritakan oleh Lawrence sangat tidak bermoral dan tidak baik bagi masyarakat Amerika.

Senator Reed Smoot, salah seorang senator dari Utah, merupakan salah seorang elit Amerika yang menolak keras peredaran Lady Chatterley’s Lover. Polemik terjadi saat ia menanggapi rencana amandemen Smoot-Hawley Tarriff Act yang digagas Senator Bronson Cutting. Senator Utah yang juga merupakan tokoh penting The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, gereja Mormon yang dikenal konservatif, menyatakan Lady Chatterley’s Lover sebagai buku impor yang sangat tidak cocok dibaca. Ia menyebut dua karya lain yang sama bejatnya dengan novel Lawrence yaitu Tropic of Cancer karya Henry Miller dan Fanny Hill: Memoirs of A Woman of Pleasure karya John Cleland.

“Aku tidak akan membuang waktu selama 10 menit untuk membaca atau melihat Lady Chatterley’s Lover, baik halaman pembuka maupun bagian luar buku. Buku ini sangat menjijikkan! Buku ini ditulis oleh pria dengan pikiran yang sakit dan jiwa begitu hitam; ia akan mengaburkan bahkan kegelapan neraka!” ujar Reed yang merupakan tokoh Partai Republik dalam artikel “Decencey Squabble”.

Bukan hal mengherankan jika Reed berkata hal tersebut. Kala itu, pada 1930, Partai Republik memang tengah memegang kekuasaan lantaran Herbert Hoover , kader terbaik Partai Republik, menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Partai Republik yang memegang nilai-nilai konservatif seperti keluhuran, nilai agama, dan nilai-nilai moral, tentu resisten dengan Lady Chatterley’s Lover yang lebih menggambarkan kebebasan perempuan, termasuk kebebasan seksual.

Karya Lady Chatterley’s Lover juga dipercaya berperan dalam kemunculan gerakan pembebasan seksual (sexual liberation) yang digagas The New Leftist. Dari sisi para pendukung pembebasan seksual, mereka sudah bosan terkurung atau terjebak dengan apa yang dipropagandakan sebagai nilai-nilai Amerika. Mereka tidak ingin sesuatu yang bersifat tradisional menghambat untuk mengambil keputusan lantaran setiap orang mempunyai hak untuk mengontrol diri mereka sendiri, baik fisik maupun pikiran.

Gerakan ini terus bergaung hingga tahun 1980-an. Sejak 1960-an hingga tahun 1980-an, gerakan pembebasan seksual tidak hanya membahas hak perempuan tapi juga berbicara tentang hak untuk mencintai seseorang, baik lain jenis maupun sesama jenis. Bahkan mereka juga mulai mendesakkan kebebasan untuk memilih sikap untuk aborsi atau tidak.

Beberapa agenda di atas sudah menuai hasil. Kini Amerika bahkan sudah mengizinkan pernikahan sesama jenis. Namun bukan berarti semua tuntutan sudah dipenuhi. Konservatifisme di Amerika belum sepenuhnya kalah. Isu aborsi, misalnya, masih menjadi pokok persoalan yang terus saja memicu perdebatan.

Bahkan keraguan terhadap Hilary karena jenis kelaminnya pun bukannya sudah benar-benar raib. Masih banyak yang tidak percaya, terutama dari konstituen Partai Republik, bahwa perempuan dapat memimpin negara adi daya, sanggup menjadi pengambil keputusan strategis dalam situasi genting dan darurat, misalnya soal tombol penggunaan hulu ledak nuklir.

Dari sisi perkembangan nasib novel Lady Chatterley’s Lover, perkembangan moralitas di Amerika dan Inggris tetap saja memicu perdebatan. Masih lazim pementasan teater atau versi film yang diadaptasi dari novelnya Lawrence itu dilakukan dengan semangat berhati-hati.

Pada September 2015, misalnya, adaptasi Lady Chatterley's Lover oleh BBC masih dianggap “tidak jujur” menggabarkan adegan-adegan aslinya. Seperti dilaporkan Daily Mail, banyak penonton yang kecewa karena versi BBC juga masih merawat semangat sensor dalam adaptasinya. BBC mungkin tidak berniat menyensor, tapi versi akhir yang disaksikan para penonton oleh beberapa kalangan, masih merujuk laporan Daily Mail, lebih mirip Teletubbies karena tidak cukup menghadirkan ketelanjangan.

Begitulah. Barat yang selama ini dianggap sangat bebas dan merdeka, penuh kebejatan moral dan sebagainya, toh masih mengalami pergulatan yang belum sudah terkait isu-isu moral. Kontestasi antara tradisionalisme-konservatifisme dan nilai-nilai baru masih terus berlangsung.

Baca juga artikel terkait SASTRA atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Zen RS