Nasionalisme dan Imaji Kejayaan dalam Arsitektur Gelora Bung Karno

Oleh: Renalto Setiawan - 18 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Stadion Utama Gelora Bung Karno dipilih sebagai tempat upacara pembukaan Asian Games 2018. Dalam imajinasi Sukarno, stadion itu adalah lambang kejayaan bangsa.
tirto.id - Di samping Pintu Satu Senayan, Maria Rosantina meratakan lapangan tenis yang berjejer dan menyulapnya menjadi stadion bisbol. Maria adalah salah satu arsitek renovasi kompleks Gelora Bung Karno. Desain stadion tersebut dianggap sebagai kesuksesan tersendiri dan mendapat sertifikasi dari Federasi Bisbol Asia (BFA). Tak hanya berpenampilan unik, stadion tersebut juga terhubung dengan bangunan-bangunan lain di kompleks Gelora Bung Karno.

Di dekat lapangan bisbol itu, arsitek lain, Adi Purnomo, merenovasi Stadion Tennis Indoor dan Stadion Tennis Outdoor hingga tampak gagah daripada sebelumnya. Sementara Tennis Outdoor tampak elegan dengan single seat serba hitam, Tennis Indoor terlihat misterius. Tidak seperti gedung-gedung di sekitarnya yang strukturalis, Adi justru menutup Stadion Tennis Indoor dengan kawat hingga menyentuh atap. Alasannya: ia ingin menghindari ekspresi strukturalis yang gamblang.

Sementara itu, di Pintu Timur, wajah Istora menjadi lebih “segar” daripada sebelumnya. Seorang arsitek bernama Boy Bhirawa diserahi tanggung jawab atas renovasi gedung tersebut. Boy tidak mau Istora tampak seperti kuil tua yang tergerus waktu. Semua yang mengganggu struktur asli Istora ia babat. Istora pun menjadi lebih ekspresif.

Untuk memperlihatkan bahwa Istora adalah salah satu gedung tertua di GBK (diresmikan 20 Mei 1961), ia menanam rumput tinggi kemerahan di sekeliling gedung. “Saya memilih rumput yang tinggi kemerahan ini untuk memberi kesan ‘tua dan terbengkalai’, agar sesuai dengan usia Istora,” tuturnya.

Luas Gelora Bung Karno saat ini memang berubah. Semula Gelora Bung Karno mempunyai tanah sebesar 240 hektar. Sekarang, luas lahannya cuma 100 hektar. Yang menarik, meski gedung-gedung lama direnovasi, gedung baru dibangun, dan luas lahannya berubah, inti dari kompleks Gelora Bung Karno tak mengalami perubahan: Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tetap menjadi pusatnya.

Sebagus-bagusnya gedung-gedung lain di kompleks Gelora Bung Karno, 8 koridor yang terdapat di dalamnya semua mengarah ke SUGBK. Secantik-cantiknya gedung-gedung itu dipermak, mereka seolah-olah hanya menjadi pelengkap keindahan SUGBK.

Barangkali, arti penting SUGBK bisa mengingatkan kita terhadap penggagasnya, Presiden Sukarno, saat berada di Lapangan Ikada pada 19 September 1945. Hari itu, ia dikelilingi rakyat Indonesia untuk membulatkan tekad kemerdekaan.

Dan di SUGBK pula, sore ini, Sabtu (18/8/2018), upacara pembukaan Asian Games 2018 digelar.


Perwujudan Nasionalisme sekaligus Internasionalisme

Dalam Soccer in Sun and Shadow (1995), Eduardo Galeano menulis bahwa “tidak ada yang lebih kosong daripada stadion kosong.” Baginya, sebuah tribun yang ditinggalkan para penonton adalah kesunyian paling sunyi. Galeano tak sepenuhnya benar. Di Jakarta, sekosong apa pun tribun, selama SUGBK masih berdiri, ia akan tetap “bersuara”. Ia berbicara tentang tetek-bengek kebanggaan bangsa, tentang kejayaan di tingkat nasional hingga internasional.

Pada 1958, Federasi Asian Games menunjuk Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games keempat yang diselenggarakan pada 1962. Unggul dua suara dari kandidat terdekat, Jakarta berhasil mengalahkan dua kota unggulan, yaitu Taipei (Taiwan) dan Karachi (Pakistan). Namun, status Jakarta saat itu sempat diragukan. Indonesia baru 13 tahun merdeka dan Jakarta tidak memiliki infrastruktur memadai untuk melangsungkan kejuaraan olahraga internasional.

Sukarno tak ambil pusing dengan perkara itu. Menurut Robin Hartono, yang saat ini tengah mempelajari kritik, kuratorial, dan praktik konseptual arsitektur di Columbia Graduate School of Architecture, Planning and Preservation, dalam buku Arsitektur Gelora Bung Karno 2018, Sukarno menganggap bahwa membangun bangsa harus dilakukan dari luar dan dari dalam, bahwa nasionalisme tidak dapat dipisahkan dari internasionalisme. Karena itu, Asian Games 1962 bisa menjadi kesempatan untuk menunjukkan eksistensi Indonesia kepada dunia.


Untuk memperlancar agendanya, Sukarno secara jeli memanfaatkan status Indonesia sebagai negara non-blok. Dengan begitu, ia bisa tetap mencari keuntungan dari negara-negara yang terlibat dalam Perang Dingin. Nanda Widyarta, dosen arsitektur UI, dalam seminar bertajuk "Arsitektur Gelora Bung Karno 2018" di Perpustakaan Nasional, Kamis, 9 Agustus 2018, menyebut "Sukarno adalah seorang pragmatis—siapa yang mau akan dirangkul untuk keperluan Asian Games."

Sukarno mendapat uang dari Jepang lewat program pampasan perang untuk membangun Hotel Indonesia. Hotel ini digunakan untuk menyambut kontingen dari negara-negara peserta Asian Games. Selain itu, stasiun televisi Jepang Nihon Hoso Kyosai (NHK) juga membantu TVRI melalui pembangunan infrastruktur transimsi televisi dan pelatihan teknik untuk menyiarkan Asian Games secara langsung. Amerika Serikat juga terlibat. Berkat bantuan Paman Sam, Jakarta Bypass bisa dibangun dari pelabuhan tua Jakarta hingga ke lokasi Asian Games.


Selain Amerika dan Jepang, Uni Soviet (saat ini Rusia) juga digandeng Sukarno. Bahkan, keterlibatan Uni Soviet cukup besar. Negara komunis itu memberikan pinjaman lunak sebesar 12,5 juta dolar dan mengirim tenaga ahli untuk membantu pembangunan infrastruktur Asian Games. Para tenaga ahli Uni Soviet inilah yang diberi tantangan berat dari Sukarno untuk menjadikan SUGBK sebagai pusat infrastruktur olahraga.

“Stadion ini dirancang secara spektakuler untuk menciptakan kebanggaan bangsa... [Sukarno] menjadikannya sebuah suar bagi dunia baru yang ia bayangkan,” kata Robin Hartono dalam bukunya.


Untuk membuat stadion yang membanggakan, Sukarno tak main-main. Ia insinyur sipil yang tahu banyak soal rancang-merancang bangunan dan pernah bekerja di biro arsitektur. Ia menginginkan desain yang modern dan tak aus dihajar zaman.

Sukarno juga menginginkan seluruh tribun ditutupi atap, tanpa tiang penyangga yang mengganggu, sehingga para penonton bisa terhindar dari hujan dan sengatan panas matahari, sekaligus dapat menonton dengan nyaman. Padahal, saat itu belum ada stadion di dunia yang mempunyai atap seperti diinginkannya.

Para arsitek Uni Soviet sempat keberatan dengan keinginan Sukarno. Seperti terungkap dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno (2004), mereka berpendapat bahwa desain itu tidak lazim. Namun, Sukarno tetap memaksa. Akhirnya, datanglah pencapaian rekayasa struktur paling rumit di dunia saat itu: sistem atap “temugelang”—sebuah atap kantilever dengan struktur oval yang terhubung dan membentuk gelang raksasa.


Bagaimana dengan tiang penyangga?

Tiang penyangga dihubungkan langsung ke tiang penyangga tribun. Agar kuat menahan beban tribun sekaligus atap, pada bagian atas tiang penyangga diperkuat dengan "batang V”. Kelak, batang tersebut menjadi bagian penting yang harus direnovasi menjelang Asian Games 2018. Menurut Timmy Setiawan, arsitek ahli bangunan olahraga, yang juga menjadi pembicara dalam seminar "Arsitektur Gelora Bung Karno 2018", “batang v” mulai keropos karena terlalu sering terkena air kencing dari para penonton.

Stadion Utama Gelora Bung Karno kemudian dibuka pada 12 Juli 1962. Stadion itu benar-benar gagah, sekaligus mampu menampung 100 ribu penonton jika dipadatkan. Saat pembukaan Asian Games 1962, SUGBK bahkan mampu menampung 120 ribu penonton.

Soal stadion itu, Sukarno tak bisa menutupi kebanggannya. Saat meresmikan kompleks Gelora Bung Karno pada 19 Juli 1962, seperti dilansir dalam Sport, Nationalism and Orientalism: The Asian Games (2007), Sukarno mengatakan, “Sekarang, saya akan bertanya kepada Anda semuanya [rakyat Indonesia]: Apakah Anda bangga dengan stadion ini? Apakah Anda bangga dengan stadion besar ini, yang dimiliki oleh Indonesia?”



Infografik Stadion GBK Rev


Apakah SUGBK menjiplak Stadion Luzhniki?

Dalam seminar "Arsitektur Gelora Bung Karno 2018", Timmy Setiawan sempat memperlihatkan foto Stadion Luzhniki pada 2001. Dalam gambar tersebut, dilihat dari luar, struktur bangunan stadion tak terlihat, tertutupi tembok dan kaca yang tampak terpola. Setelah memperlihatkan gambar itu, ia lalu mengatakan, “Stadion Luzhniki tidak mirip dengan Stadion Gelora Bung Karno.”

Timmy tentu tak sembarangan mengeluarkan pendapat. Meski sama-sama dibangun orang Uni Soviet, secara desain Luzhniki sebenarnya memang berbeda dengan SUGBK.

Stadion Luzhniki diresmikan pada 31 Juli 1956, lebih tua enam tahun daripada SUGBK. Seperti SUGBK, Luzhniki juga dibangun di area kompleks olahraga. Meski begitu, sewaktu pertama kali dibangun, Luzhniki tidak mempunyai atap. Stadion itu baru dipasangi atap pada 1996.

Baca semua informasi terkait Asian Games 2018 yang dihimpun Tirto dalam kanal khusus:

Setelah dibangun, bentuk atap Luzhniki memang mirip dengan bentuk atap SUGBK. Namun, seiring perkembangannya, desain atap Luzhniki semakin berbeda dengan SUGBK. Sementara atap kantilever SUGBK sangat menonjol strukturnya, desain atap Luzhiniki justru semakin ditutupi.

Yang menarik, demi kepentingan Piala Dunia 2018, Stadion Luzhniki juga pernah dirombak total pada 2013. Sementara itu, ekspresi asli SUGBK justru kian menonjol setelah rampung direnovasi beberapa waktu lalu. Itu artinya, saat SUGBK berdiri kokoh untuk terus menantang zaman, Stadion Luzhniki justru berubah-ubah untuk menyesuaikan diri dengan zaman.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Ivan Aulia Ahsan