Nasib Wisata Pantai di Banten dan Lampung Setelah Tsunami Menerjang

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 27 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tsunami Selat Sunda juga berdampak pada sektor wisata di Banten dan Lampung. Banyak objek wisata jadi rusak dan sepi pengunjung.
tirto.id - Tsunami Selat Sunda yang menghantam pesisir Banten dan Lampung Sabtu malam (22/12) pekan lalu turut berimbas pada sektor pariwisata. Puluhan hotel, vila, serta objek penunjang wisata lainnya di dua provinsi tersebut terkena dampak berupa kerusakan dan sepi pengunjung.

Kawasan Anyer dan Tanjung Lesung di Banten bahkan lumpuh total selama masa tanggap darurat yang dimulai sejak Ahad dini hari (23/12).

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Guntur Sakti mengatakan sejauh ini jumlah kerugian di sektor pariwisata belum dapat dikalkulasi. Tim Tourism Crisis Center (TCC) Kemenpar yang diketuainya masih terus memutakhirkan data sampai masa tanggap darurat berakhir.

TCC Kemenpar mencatat, Pantai Anyer, Pantai Ciputih, Pantai Cinangka, Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang, dan Pantai Carita merupakan destinasi wisata di Banten yang terpapar tsunami cukup parah. Khusus di Kabupaten Pandeglang, TCC Kemenpar mencatat sebanyak 69 hotel dan vila serta 60 restoran dan toko, rusak. Selebihnya, 50 penginapan dan hotel di Carita memang terhindar dari kerusakan, namun tidak ada yang menginap di sana.

Sejumlah fasilitas seperti dermaga di sekitar Pantai Carita juga rusak cukup parah. Kondisi serupa juga terjadi di dermaga Tanjung Lesung dan berakibat kapal tidak dapat berlabuh. Tak hanya itu, di tempat yang sama, sekitar 350 kapal dan perahu nelayan juga rusak.

Menurut TCC Kemenpar, tsunami juga menghantam beberapa pulau kecil seperti Pulau Sebesi, Pulau Sekepel, dan Pulau Legund. Sedangkan di Provinsi Lampung, wilayah pariwisata yang terkena dampak adalah pantai di Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Rajabasa, yang berada pesisir Kota Kalianda, Lampung Selatan.

Di Kecamatan Kalianda, tercatat Pantai Maja, Pantai Kedu, Pantai Ketang, Pantai Laguna Kalianda, Pantai Bagus, Pantai Tanjung Beo, Pantai Sappenan, Hutan Mangrove Grand Elty, Pantai Kalianda Resort, Pantai Merak Belantung, Pantai Marina, Pantai Teluk Nipah menjadi wilayah wisata yang terdampak tsunami. Di wilayah Kalianda ini, dermaga Boom juga hancur.

Sedangkan di Kecamatan Rajabasa, ada Pantai Kahai, Pantai Kunjir, Pantai Way Muli, Pantai Wartawan de Mansion, Pantai Banding, Pantai Canti, Pantai Batu Kapal yang mengalami dampak kerusakan tsunami.


Guntur menuturkan, setidaknya ada tiga hotel yang rusak di Lampung Selatan, yakni Hotel Wartawan de Mansiona, Hotel Grand Elty Krakatoa, dan Kahaii Beach Resort.

"Mengenai taksiran kerugian belum bisa kami beri tahu. Masih dalam fase tanggap darurat," jelas Guntur kepada reporter Tirto, Rabu (26/12/2018).

Guntur mengakui bencana tsunami Selat Sunda menyebabkan kunjungan wisatawan turun drastis. "Menjelang libur akhir tahun ini masyarakat sudah cerdas untuk tidak menjadikan daerah terdampak sebagai pilihan tempat berwisata," katanya.

Terkait pemulihan, Guntur mengatakan kementeriannya akan fokus pada aspek sumber daya manusia dan pemasaran. Menurutnya, pemerintah perlu mengembalikan motivasi dan semangat para pelaku usaha lokal dan masyarakat, segera setelah masa tanggap darurat berakhir.

"Itu akan dilakukan melalui upaya trauma healing," katanya.

Hingga laporan ini diturunkan, Kemenpar telah menghentikan sementara promosi wisata di Banten dan Lampung Selatan. Namun, pemasaran akan kembali dilanjutkan setelah pemulihan, dengan fokus memulihkan citra pariwisata wilayah yang bersangkutan.

Perlunya Sistem Peringatan Dini

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani mengatakan wilayah yang terdampak tsunami secara langsung mengalami penurunan kunjungan lantaran terjadi kerusakan tempat penginapan. Ia mencatat, di wilayah Tanjung Lesung ada sekitar 20 hotel berukuran besar dan kecil yang rusak.


Hariyadi memperkirakan dibutuhkan waktu minimal enam bulan untuk pemulihan. Konsekuensinya, aktivitas wisata di Tanjung Lesung akan vakum selama masa itu.

Di luar Tanjung Lesung, Hariyadi mengaku belum menerima laporan terkait pembatalan pemesanan hotel. Menjelang Tahun Baru 2019, di wilayah sekitar pesisir Banten, belum ada penarikan pemesanan yang signifikan. Ia menilai itu lantaran sebagian besar masyarakat baru akan mengunjungi penginapan sekitar 2-3 hari sebelum tahun baru.

"Kalau untuk Tanjung Lesung memang drop-nya gara-gara musibah. Soalnya hotel juga rusak. Tapi Anyer dan wilayah lain masih berjalan [perhotelannya]," ucap Hariyadi.

Belajar dari kejadian ini, Hariyadi mendesak pemerintah menyediakan sensor peringatan dini tsunami di kawasan wisata pantai. Selain itu, kata dia, metode evakuasi hingga fasilitasnya juga perlu disediakan pemerintah, demi menjaga kepercayaan wisatawan untuk tetap mau berkunjung. Ia mencontohkan Jepang sebagai negara yang juga memiliki potensi tsunami cukup tinggi.

"Kalau pemerintah bisa bikin itu [sistem peringatan dini dan pencegahan], maka pengunjung akan memiliki rasa aman karena itu berpengaruh pada rasa percaya wisatawan," imbuh Hariyadi.

PENGINAPAN TERDAMPAK TSUNAMI SELAT SUNDA
Sebuah penginapan luluh lantah akibat diterjang tsunami, di kawasan Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/ama.


Belum Dapat Diprediksi


Peneliti Muda Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Ahmad Solikin mengatakan longsor di lereng gunung api ke laut sejauh ini belum dapat diprediksi secara tepat. Karena itu, ia meminta masyarakat waspada dan mengurangi aktivitas di area pantai pesisir Banten dan Lampung selama hal itu masih mungkin terjadi.

Belum lagi, kata Ahmad, alat yang dimiliki PVMBG hanya mampu melihat aktivitas gunung api. Mengenai longsor, ia mengaku PVMBG belum punya alat yang dapat memetakan.

"Kalau untuk longsor belum ada (alatnya) dan sejauh ini belum bisa kami beritahu (prediksinya)," ucap Ahmad.

Mengenai apakah pesisir Banten dapat menjadi lokasi wisata yang aman, Ahmad bilang hal itu masih dikaji lebih jauh. Ia menegaskan, untuk saat ini lebih baik tidak ada aktivitas apa pun di pesisir pantai Banten dan Lampung.

"Sejauh ini secara potensi masih perlu kami pelajari. Jadi kami belum tahu juga potensinya seperti apa di kemudian hari," ucap Ahmad.

Baca juga artikel terkait TSUNAMI SELAT SUNDA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abul Muamar