Menuju konten utama

Moody's Khawatir Risiko Fiskal RI, Istana: Defisit Masih Terjaga

Prasetyo menekankan, alih-alih mengubah kebijakan belanja, pemerintah tetap fokus untuk menjaga agar fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

Moody's Khawatir Risiko Fiskal RI, Istana: Defisit Masih Terjaga
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Sabtu (31/1/2026) malam. tirto.id/Naufal Majid

tirto.id - Lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody’s Ratings menurunkan rating Indonesia dari sebelumnya stable menjadi negative, dengan peringkat dipertahankan pada level Baa2. Penurunan rating ini dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah hal, salah satunya karena ada risiko fiskal di balik jor-joran belanja pemerintah untuk mendorong pertumbuhan.

Dengan dibarengi oleh rendahnya penerimaan negara, Moody’s khawatir defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tahun lalu ditutup di angka 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan semakin melebar. Padahal, undang-undang memberikan batasan defisit hanya sebesar 3 persen terhadap PDB.

“Perkembangan ini berpotensi untuk mengurangi investasi langsung asing dan melemahkan stabilitas makroekonomi, fiskal dan pasar keuangan,” tulis lembaga tersebut dalam laporannya, dikutip Senin (9/2/2026).

Merespon hal tersebut, Istana memastikan bahwa setahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak melanggar ada batas-batas kebijakan fiskal, termasuk soal defisit. Dengan demikian, pemerintah juga tidak akan mengubah kebijakan belanja yang telah ditetapkan, setelah rilisnya laporan penurunan rating Indonesia oleh sejumlah lembaga pemeringkat tersebut.

“Enggak (ada kebijakan belanja yang diubah). Kan selama ini juga tidak ada yang dilanggar. Batasan defisit juga masih terjaga,” tutur Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026).

Alih-alih mengubah kebijakan belanja, saat ini yang dilakukan pemerintah adalah tetap fokus untuk menjaga agar fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Tujuan ini akan dicapai dengan menggenjot kinerja sektor riil atau industri, mendorong realisasi belanja pemerintah di awal tahun anggaran, dan beragam cara lainnya.

“Yang penting kita berkonsentrasi supaya fundamental ekonomi kita kuat, sektor riil kita genjot, belanja pemerintah di awal tahun juga semaksimal mungkin kita dorong. Jadi, kita optimis dengan pengelolaan kita. Komunikasi terus dilaksanakan terkait hal itu,” tandas Prasetyo.

Baca juga artikel terkait PEMERINTAHAN PRABOWO-GIBRAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher