Menuju konten utama
Liputan Haji 2026

Mobilitas di Mina Tinggi, Jemaah Haji Jangan Memaksakan Diri

Mobilitas di Mina tinggi karena jemaah akan berjalan kaki dari tenda ke jamarat untuk melempar jumrah.

Mobilitas di Mina Tinggi, Jemaah Haji Jangan Memaksakan Diri
Jemaah haji dari seluruh dunia melontar jumrah aqabah pada 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Rabu (27/5/2026). Abdul Aziz/MCH 2026.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jemaah haji Indonesia mabit di Mina selama tiga hari, yakni sejak 10 Dzulhijjah dan selama hari tasyrik. Mobilitas di Mina juga sangat tinggi karena jemaah akan berjalan kaki dari tenda ke jamarat untuk melempar jumrah.

"Biasanya di Mina itu lebih meletihkan. Karena mobilitasnya tinggi," kata Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, saat meninjau jemaah haji di sepanjang jalur jamarat, pada Rabu malam (27/5/2026).

Dahnil mengatakan sejak jemaah sampai di Mina pada Rabu (27/5/2026) pagi, ia sudah dua kali keliling di tenda-tenda jemaah dan menemukan sejumlah temuan menarik. Misalnya, di hari pertama biasanya banyak jemaah yang tersesat mencari tenda.

"Hari pertama mereka sedang pengenalan lokasi," kata Dahnil.

Jemaah haji akan berada di Mina minimal tiga hari bagi yang mengambil nafar awal. Namun, bagi jemaah yang mengambil nafar tsani, berdiam diri atau mabit di Mina bisa empat hari, yaitu pada 10 Dzulhijjah dan di hari-hari tasyrik 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Selama di Mina, kata Dahnil, aktivitas jemaah sangat tinggi, berbeda dengan wukuf di Arafah maupun saat mabit di Muzdalifah yang hanya berdiam diri. Selama di Mina, jemaah akan bolak-balik jalan kaki ke jamarat untuk melontar jumrah. Setidaknya dari tenda ke jamarat berjalan kaki minimal 7 km pulang pergi.

Karena itu, kata Dahnil, bila jemaah tidak mampu, lebih baik diwakilkan kepada jemaah yang kuat. "Jangan memaksakan diri," kata Dahnil.

Saat mengecek jemaah di tenda Mina, Dahnil juga menemukan sejumlah kejadian unik, karena beragam kebiasaan jemaah. Misalnya ada yang tak tahan dingin AC, ada juga yang tak tahan panas. Jemaah yang tidak tahan dingin AC, akhirnya tidurnya memilih di luar tenda.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama