STOP PRESS! Pengacara Hadirkan Empat Ahli di Sidang Praperadilan Setnov

Milenial Tua Versus Milenial Muda

Milenial Tua Versus Milenial Muda
Ilustrasi milenial muda dan milenial tua berdiri. Getty Images/iStockphoto
Reporter: Aulia Adam
14 Mei, 2017 dibaca normal 2 menit
Sebuah generasi bisa membelah diri dengan dua karakteristik berbeda, ada yang tua dan muda. Generasi milenial jadi contoh bagaimana sebuah generasi tak melulu satu karakter, dan menentukan minat mereka masing-masing.
tirto.id - Suka tidak suka, mereka yang lahir sejak 1981 hingga pertengahan 1990-an, meski rentang waktu kelahirannya terpaut jauh, mereka adalah kelompok milenial atau Generasi Y. Jesse Singal yang lahir pada1983, sadar kalau dia termasuk kategori tersebut.

“Tapi, semakin banyak aku mendengar tentang milenial, semakin aku tak mengenali diriku,” ungkap Singal.

Senior editor di New York Magazine ini bercerita tentang keresahannya tersebut dalam  tulisan berjudul Jangan Panggil Aku Milenial—Aku Si Milenial Tua. Ia coba menyuarakan sejumlah problema yang dirasakan milenial seusianya. Ihwal-ihwal yang selama ini tak mendapat sorotan yang cukup. Misalnya, tentang bagaimana milenial digambarkan begitu akrab dengan teknologi oleh media.

“Aku menge-tweet banyak sekali, tentu saja. Tapi aku tak pernah main  Instagram, bahkan pikiran tentang mempelajari Snapchat saja membuatku kepengin tidur siang yang panjang dan damai,” tulis Singal.

Ia tak sendiri, Juliet Lapidos juga pernah menuliskan keluhan serupa di The New York Times lebih dulu. “Labelnya terasa tak tepat. Aku tak merasa sama dengan bocah-bocah yang digambarkan Time sebagai narsistik teknologi,” ungkap Lapidos.

Emelie McCombs  dari Elite Daily bahkan menyusun sejumlah hal yang membedakan dirinya dengan deskripsi-deskripsi generalisasi tentang milenial. Di antaranya: kebiasaannya memakai jam weker atau beker, meskipun juga masih memasang alarm di iPhone-nya, kebiasaan memasang DVD yang dibelinya sejak masih SMA untuk mendengar musik, lebih senang menonton televisi ketimbang di laptop, punya tumpukan bacaan yang dicetak, bukan kacaan elektronik, dan lebih kenal dengan Devon Sawa dan Taylor Thomas ketimbang Bella Thorne atau Cameron Dallas.

Milenial Tua Versus Milenial Muda

Sesuai dengan teori generasi yang pertama kali dicetuskan Karl Mannheim, manusia dalam beberapa dekade terakhir diklasifikasikan berdasarkan rentang waktu tertentu sesuai dengan masa sosio-sejarah yang dilewatinya. Menurut Mannheim, manusia-manusia yang melewati suatu lingkup waktu tertentu pada akhirnya akan saling memengaruhi dan memiliki karakteristik serupa. Itu sebabnya, mereka yang disebut milenial adalah generasi yang pernah melewati milenium kedua: artinya pernah hidup di zaman pra-internet dan pos-internet.

Namun apa yang dirasakan Singal, Lapidos, dan McCombs tampaknya membuka diskusi baru. Faktanya, mereka yang lahir sebagai generasi awal milenial punya sejumlah karakteristik yang berbeda dengan milenial-milenial masa akhir.

Menurut Jean Twenge, psikolog dari Universitas Negeri San Diego, ada dua peristiwa besar yang akhirnya jadi musabab terpecahnya karakteristik generasi ini. Pertama, krisis moneter 2008, selanjutnya adalah meningkatnya penggunaan ponsel pintar di waktu yang berdekatan.

Para generasi awal milenial sempat hidup di zaman kedudukan ekonomi yang optimistis, sementara generasi milenial gelombang berikutnya tumbuh di kala perekonomian dunia tengah buruk. Hal itu membuat mereka jadi lebih realistis dan getir memandang masa depan.

Di saat yang sama, perkembangan teknologi terutama di sektor ponsel pintar terus berkembang. Kebanyakan milenial tua baru menggunakan ponsel ketika umurnya 20-an, sementara gelombang milenial berikutnya telah menggunakan teknologi itu sejak usia dini. Hal ini juga berpengaruh pada tabiat milenial muda yang lebih lengket pada media sosial.

Bagi Singal, Lapidos, McCombs, dan sejumlah milenial tua lainnya, digeneralisasikan sebagai apa yang bukan bagian diri mereka sendiri tentu saja sebuah ketidakuntungan.

Pada dasarnya, teori generasi hadir membantu para produsen mengetahui tabiat para konsumen atau pasarnya. Curahan hati para milenial tua yang diwakili Singal, Lapidos, dan McCombs tentu saja bisa jadi bahasan baru para ahli pemasaran: bahwa tak bisa merumuskan karakteristik milenial pada satu rentang umur tertentu saja. Dengan kata lain, pangsa pasar yang tak terlalu lengket dengan teknologi juga masih besar.

Jumlah mereka yang berumur 33 sampai 37 tahun cukup besar. Mereka kini bahkan jadi orang tua dari generasi selanjutnya yang dinamai Generasi Alfa. Artinya, perputaran ekonomi dunia besar terjadi di kalangan mereka. Mulai dari mereka yang ingin membeli rumah, mencicil mobil, membeli asuransi pendidikan anak,  hingga menabung untuk masa tua.

“Demi kebaikan bersama teman-teman dan saudara-saudara milenial tua dan milenial muda, mari berhenti bertingkah seolah kita berada di perahu yang sama,” ungkap Singal.

Para milenial tua seperti Singal, Lapidos, McCombs bisa menjadi cerminan untuk lebih jeli dalam menyasar sebuah pasar.

Baca juga artikel terkait MILENIAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - aad/dra)

Keyword