STOP PRESS! Jadi Saksi di Sidang E-KTP Hari Ini, Setnov Sibuk Acara HUT Golkar

Mereka yang Memanfaatkan Telegram Selain Teroris

Mereka yang Memanfaatkan Telegram Selain Teroris
Ilustrasi aplikasi Telegram. FOTO/intmassmedia.com
Reporter: Ahmad Zaenudin
19 Juli, 2017 dibaca normal 4 menit
Telegram merupakan aplikasi yang memilih jalan open source dan berbeda dibandingkan para pesaingnya. Penggunaannya bisa untuk tujuan positif sampai negatif.
tirto.id - Nama Telegram jadi buah bibir di Indonesia semenjak pemerintah memblokir Telegram, sejak Jumat (14/7/2017). Alasannya karena Telegram dapat membahayakan keamanan negara akibat tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme. 

Padahal, merujuk unggahan kanal ISIS Watch di layanan Telegram, dari awal Juli hingga Selasa (18/7), pihak Telegram telah memblokir 3.517 kanal-kanal yang bersinggungan dengan kelompok ISIS. Makhluk apa sebenarnya Telegram?

Telegram, selayaknya WhatsApp, adalah layanan pesan instan yang cukup digemari masyarakat. Data yang dirilis Statista mencatat, per Januari 2017, layanan tersebut memiliki 100 juta pengguna aktif bulanan di dunia. Dengan pengguna sebesar itu, Telegram masuk ke dalam 10 besar aplikasi pesan instan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat.

Dalam layanan Telegram, mereka setidaknya menawarkan dua jenis chat. Pertama ialah chat biasa dan kedua merupakan chat khusus bernama “secret chat”. Secret chat merupakan fitur pesan yang memiliki tingkat keamanan tinggi seperti digunakannya end-to-end encryption, menjanjikan tidak ada jejak yang ditinggalkan, memiliki fitur self-destruction, hingga tidak mengizinkan aksi forward pada pesan tersebut.

Bila salah satu lawan bicara men-screen-capture percakapan, notifikasi bahwa lawan bicara melakukan tindakan tersebut akan dikirim. Selain chat, Telegram pun memiliki layanan lain seperti “channels” yang merupakan suatu fitur broadcast messages.
Selain WhatsApp dan Signal, Telegram masuk daftar 10 besar sebagai aplikasi pesan instan dengan keamanan terbaik versi Techradar di 2017. Selain itu, mengutip karya ilmiah buatan Tole Sutikno yang berjudul WhatsApp, Viber and Telegram: Which is the Best for Instant Messaging dan dimuat dalam International Journal of Electronical and Computer Engineering, menerangkan bahwa Telegram, khususnya “secret chat” memenuhi semua kriteria keamanan yang termuat dalam jurnal tersebut. Secret chat dari Telegram, berhasil lolos pada kriteria seperti “apakah pesan komunikasi terenkripsi saat transit,” “apakah enkripsi telah dilakukan audit independen,” dan kriteria-kriteria lainnya.

Hal-hal tersebut, cukup menjadi alasan mengapa Telegram disukai oleh kalangan Teroris. Namun tentu saja, aksi pemblokiran terhadap Telegram, meskipun bertujuan untuk menutup ruang gerak pelaku terorisme, juga berdampak pada masyarakat luas. Terutama bagi mereka yang memanfaatkan Telegram untuk hal-hal yang positif. “Safenet pake telegram juga, apakah safenet jadi teroris juga,” ungkap Damar Juniarto, aktivis dari Safenet mengomentari diblokirnya Telegram oleh Kemenkominfo.

Secara lebih mendalam, meskipun serupa dengan WhatsApp, Telegram memakai jalan berbeda dibandingkan aplikasi milik Facebook tersebut. Telegram, merujuk pemberitaan The Verge, dioperasikan sebagai organisasi nirlaba, aplikasi pesan instan tersebut memang tidak dirancang menjadi mesin penghasil uang bagi penciptanya.

Baca juga: Siapa Sebenarnya Pavel Durov Pendiri Telegram?


“Telegram tidak dimaksudkan memperoleh pendapatan, (Telegram pula) tidak akan menjual (slot) iklan atau menerima investasi dari luar,” ungkap Telegram dalam sebuah pernyataannya.

Telegram mengungkapkan bahwa “kami tidak membangun suatu basis pengguna, kami membangun (aplikasi) pesan instan bagi masyarakat.” Dan dalam sebuah postingan di akun resmi Twitter mereka, Telegram mengaku akan membuka keran donasi jika Telegram kekurangan uang untuk menjalankan operasional mereka.

Salah satu bukti bahwa mereka benar-benar tidak meniatkan diri mencari pendapatan adalah dengan disebarluaskannya source code aplikasi milik mereka kepada publik. Source code, merupakan suatu kumpulan kode-kode pemrograman yang membangun suatu aplikasi. Telegram, mempublikasikan berbagai source code mereka kepada publik. Salah satunya ialah source code aplikasi bagi perangkat pintar berbasis Android yang bisa diakses melalui situsweb berbagi kode pemrograman GitHub.

Source code, adalah nyawa sebuah perusahaan teknologi, ibarat sebuah resep rahasia milik sebuah waralaba makanan global. Dalam keterangan yang dipublikasikan di situsweb resmi mereka, upaya membuka source code secara luas tujuannya untuk memungkinkan masyarakat umum, melakukan audit terhadap keamanan aplikasi pesan instan tersebut.

“Kami mempublikasikan kode Android, iOS, web dan aplikasi desktop (Windows, OSX, dan Linux) milik kami. (Tujuannya) kode tersebut memungkinkan peneliti keamanan mengevaluasi implementasi end-to-end encryption milik kami (yang ada di aplikasi Telegram),” ungkap Telegram.

Niatan Telegram untuk memungkinkan masyarakat mengaudit sisi keamanan mereka bisa jadi tepat. Merujuk pemberitaan Wired, Linux memiliki bug atau celah kemananan paling sedikit dibandingkan sistem operasi lain. Hal tersebut bisa terjadi karena Linux, memiliki sifat open source. Siapapun, jika memiliki kemampuan, bisa ikut membantu mengembangkan Linux. Kemungkinan, hal demikianlah yang hendak dicapai oleh Telegram.

Mereka yang Memanfaatkan Telegram Selain Teroris

Selain mempublikasikan kode pemrograman untuk umum, Telegram pula membuka Aplication Programming Interface (API) mereka pada publik. API, secara sederhana, mengutip ReadWrite, merupakan kumpulan set persyaratan yang mengatur bagaimana suatu aplikasi bisa berinteraksi dengan aplikasi lainnya. Atau, API pula bisa didefinisikan sebagai seperangkat protokol yang menjadi fondasi untuk membuat aplikasi lain, dalam beragam platform.

Login dengan akun Facebook” yang sering terpampang di berbagai situsweb adalah salah satu implementasi dari API. Facebook misalnya, merilis API untuk digunakan oleh pengembang aplikasi lainnya. Jelas, Facebook tak sembarangan merilis API mereka. Dengan merilis API Facebook, perusahaan tersebut seakan bisa mendikte aplikasi-aplikasi lain yang memanfaatkan API mereka. Selain itu, dengan digunakannya API milik Facebook, perusahaan itu bisa “mengintip” informasi-informasi terkait suatu layanan atau aplikasi yang menggunakan API mereka.

Berbeda dibandingkan Facebook, Telegram merilis API yang jauh lebih dalam dibandingkan Facebook atau perusahaan lainnya yang merilis API mereka. Memanfaatkan API yang dirilis Telegram, pengembang bisa membuat klien sendiri, sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, memanfaatkan API yang dirilis pihak Telegram, pengembang bisa membuat chat bot untuk kepentingan mereka sendiri. Chat bot, secara sederhana, merupakan robot komputer yang bekerja secara otomatis sesuai dengan instruksi yang telah diberikan sebelumnya.

Dondy Bappedyanto, CEO Biznet Gio, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang layanan Cloud Service Provider memanfaatkan API Telegram untuk membuat bot di aplikasi tersebut. “Kita kan bikin bot, bot-nya kayak orang chatting biasa. Cuman kita bisa suruh dia melakukan sesuatu, apa gitu,” ungkap Dondy.

Selain itu, Dondy mengungkapkan bahwa API Telegram, berbeda dengan API layanan serupa lainnya. Ia mengatakan, “salah satu platform yang membuka API-nya cuma Telegram. Ya ada (aplikasi lain yang membuka API), cuman nggak se-open Telegram. Telegram enak tuh buat developer buat benar-benar ngembanginnya (program buatan mereka dengan menggunakan API Telegram).”

Senada dengan apa yang diungkapkan Dondy, pemilik situsweb ilmukomputer.com, Romi Satrio Wahono, mengungkapkan bahwa Telegram, bukan sekedar aplikasi biasa. Telegram telah berubah menjadi suatu platform.

“Kita bisa bikin bot, bot itu kayak aplikasi di dalam Telegram. Jadi Telegram tuh sudah kayak platform (bukan aplikasi pesan instan semata),” ucap Romi.

Ia menerangkan, “sosial media yang tersisa untuk open source kan memang tinggal Telegram, kalau mau dikatakan. WhatsApp nggak, LINE banyak iklan.”

API yang dirilis Telegram, memiliki banyak manfaat yang bisa dikembangkan. Romi menggunakan API Telegram untuk mencari literatur.

“Sampai kita bisa searching literatur, sekarang banyak yang (memanfaatkannya untuk) fintech. (API Telegram) yang membuat berbagai kreativitas di sana. Ke depannya memanfaatkan API Telegram bisa mengakses layanan e-banking pakai bot,” ujar Romi mengungkapkan keunggulan API Telegram.

Langkah pemerintah memblokir Telegram, meskipun memiliki tujuan untuk menghalau teroris, juga berdampak bagi kegiatan-kegiatan positif lain yang memanfaatkan layanan tersebut. Komunikasi antara pihak Telegram dan Kemenkominfo sangat diperlukan untuk menghentikan polemik pemblokiran Telegram yang masih terjadi. Pengguna aplikasi ini sejatinya bukan hanya segelintir teroris.



Baca juga artikel terkait TELEGRAM atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - zae/dra)

Keyword