Meraih Rezeki dari Ziarah di Hari Raya

Oleh: Arya Vidya Utama - 25 Juni 2017
Dibaca Normal 2 menit
TPU tertua di Kota Bandung biasanya dipadati pengunjung pada hari Lebaran.
tirto.id - Awan mendung bergelayut di atas langit Kota Bandung. Arus keluar-masuk pemudik mulai terlihat di jalan-jalan protokol, termasuk di Jalan Pajajaran. Di jalan inilah terdapat sebuah Taman Pemakaman Umum (TPU) Muslimin Sirnaraga, sebuah kompleks pemakaman muslim tertua di Kota Bandung. Lokasinya dekat dari Bandar Udara Husein Sastranegara, bahkan antara sisi barat TPU Sirnaraga dengan landas pacu bandara hanya dibatasi Jalan Citepus.

Tidak diketahui siapa yang kali pertama menamakan TPU ini dengan nama Sirnaraga. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “sirna” memiliki arti hilang atau lenyap, sedangkan kata “raga” memiliki arti “tubuh”. Secara harfiah, Sirnaraga memiliki arti “raga yang lenyap”, begitu cocok dengan fungsinya sebagai tempat peristirahatan terakhir raga-raga tak bernyawa yang lenyap di dalam tanah.

Saat baru memrakirkan motor di dekat pintu masuk, seorang ibu yang mengenakan masker menegur dan meminta tolong. “Mas, bisa tolong saya? Saya enggak bawa uang, udah capek jalan dari Pasar Ciroyom,” ujarnya sambil agak memelas. Setelah menerima sejumlah uang, ia berjalan menjauhi pintu masuk. Beberapa langkah menuju pintu masuk, seorang pria bertopi yang berjualan bunga tabur berujar “Ah A, dia mah udah biasa minta uang kayak gitu,” sambil tersenyum.

Ia mengenalkan dirinya dengan nama Didi. Selain berjualan bunga tabur, ia juga memiliki usaha tambal ban yang bersebelahan dengan jongko bunga tabur. Hari itu H-3 Idulfitri, tetapi hanya ia yang terlihat berjualan bunga tabur. Meja lain yang biasanya diisi para penjual bunga terlihat kosong.

“Nanti baru ramai pas hari Lebaran sampai hari ketujuh. Tukang bunga bakal ngejajar di dekat sini,” ujarnya. Menurut pengakuan Pak Didi, di hari-hari ramai itu ia bisa menerima pendapatan hingga 10 kali lipat dibanding hari-hari biasanya. Ya, momen Hari Raya Idulfitri menjadi puncak penjualan bunga tabur yang biasa ia jual.

Saat sedang asik berbincang, Pak Didi kedatangan pengendara motor yang mengalami bocor ban. Sebelum pria paruh baya itu pamit dan kemudian mempersiapkan peralatan menambal ban, ia menyarankan untuk masuk ke kompleks makam, melihat langsung kondisi TPU Sirnaraga menjelang Hari Raya Idulfitri.

Peristirahatan Tokoh

Sesuai dengan apa yang diutarakan Pak Didi, kondisi TPU Sirnaraga menjelang Hari Raya Idulfitri memang tidak terlalu ramai. Di jalan utama makam dekat pintu masuk terlihat warga sekitar yang sedang beraktivitas. Hanya terlihat satu atau dua orang saja yang datang untuk berziarah.

Di ujung jalan terlihat sebuah makam berpagar hitam dengan plakat besar yang bertuliskan nama “Rd Gatot Mangkoepradja”. Ia adalah tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang juga kawan dekat Presiden Sukarno. Keduanya bersama Maskun dan Supriadinata pernah dijebloskan ke dalam Penjara Banceuy dan diadili di Gedung Landraad. Saat diadili itulah Presiden Sukarno membacakan pledoinya yang terkenal: Indonesia Menggugat.

TPU Sirnaraga menjadi peristirahatan terakhir beberapa dan tokoh dan artis nasional. Selain Gatot, ada juga Soeratin Sosrosrosoegondo (Ketua Umum PSSI pertama) dan Milica Adjie, istri dari Letnan Jenderal Ibrahim Adjie. Sedangkan dari kalangan artis, ada nama Nita Tilana yang juga kakak dari Armand Maulana serta ada Poppy Mercury, penyanyi terkenal era 90-an.

Infografik Rezeki di hari raya

Rezeki Menyambut Idulfitri

Tak jauh dari makam Gatot Mangkoepradja, terlihat kesibukan yang dilakukan para penjaga makam. Dua orang penjaga makam sedang mengecat makam sebuah keluarga, dengan pengawasan seorang pria berkemeja. Tiga orang lain sedang menyikat makam agar terlihat bersih. Di seberang mereka terlihat seorang pria yang berusia sekira 30-an tahun sedang memotong rumput di atas makam.

Sambil membawa sapu lidi dan gunting rumput, seorang penjaga makam menghampiri sambil bertanya dalam bahasa Sunda, “Milarian makam saha, Kang? (Mencari makam siapa, Kang?)”. Setelah menjelaskan maksud kedatangan, ia kemudian menyambut jabatan tangan sambil mengenalkan namanya. “Saya Deni, penjaga makam di blok sekitar sini” ujarnya.

Kesibukan para penjaga makam seperti ini memang sudah biasa, terutama saat menjelang Hari Raya Idulfitri. Tanpa diminta, mereka rutin membersihkan makam-makam di blok yang menjadi tanggung jawabnya.

“Kadang keluarga juga yang khusus minta buat bersihin atau ngecat makam kayak yang di sana. Mereka kontak langsung, da soalnya udah pada punya nomor masing-masing penjaga makam di bloknya,” ujar Pak Deni dengan logat Sunda.

TPU Sirnaraga biasanya ramai dua kali dalam setahun, keduanya terkait dengan puasa dan libur Hari Raya Idulfitri. “Sebelum ziarah Lebaran, di sini juga rame pas lagi munggahan,” ujarnya. Namun, menurut Pak Deni, keramaiannya masih kalah dibanding saat Idulfitri, yang bikin peziarah kesulitan berjalan di lingkungan pemakaman.

“Soalnya yang dari luar kota pada ngahajakeun (menyengajakan) datang, mumpung mudik mungkin,” tambahnya.

Pendapatnya tersebut merupakan hasil pengamatannya sendiri. Kebetulan juga Pak Deni adalah warga asli di lingkungan sekitar makam, maka saat Hari Raya Idul Fitri tiba ia selalu berada di TPU Sirnaraga untuk bertugas.

Saat ditanya seberapa besar peningkatan pendapatannya saat Hari Raya Idul Fitri tiba, ia menolak untuk menjawabnya secara lebih rinci. “Yang pasti mah lebih gede, Kang. Besarnya tergantung dari berapa banyak makam yang diurus di satu blok itu,” jawab Pak Deni sambil agak malu-malu.

Deru suara mesin dari maskapai penerbangan domestik sejenak menghentikan obrolan yang tengah berlangsung. Pak Deni kemudian meminta izin untuk pamit. “Puntennya Kang, saya mau lanjut bersihin makam lagi,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait IDUL FITRI 2017 atau tulisan menarik lainnya Arya Vidya Utama
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Arya Vidya Utama
Penulis: Arya Vidya Utama
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti