Menuju konten utama

Menkes Targetkan 10.000 Puskesmas Punya X-Ray dalam 3 Tahun

Menkes Budi Gunadi menargetkan 10.000 puskesmas dilengkapi X-Ray dalam 2-3 tahun guna memperkuat layanan primer dan deteksi dini berbagai penyakit.

Menkes Targetkan 10.000 Puskesmas Punya X-Ray dalam 3 Tahun
Petugas merapikan ruangan poli umum Puskesmas Miangas, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sabtu (9/5/6/2026). Presiden Prabowo Subianto mengatakan akan memperbaiki puskesmas di seluruh Indonesia, termasuk daerah perbatasan dan terpencil agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.

tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menargetkan sebanyak 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia akan dilengkapi alat X-Ray dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat layanan kesehatan primer agar lebih banyak kasus penyakit dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

Budi mengatakan penguatan layanan kesehatan primer diperlukan untuk mengurangi beban rumah sakit sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.

“X-Ray kita rencana akan deploy dalam 2 tahun 3 tahun ke depan ke 10.000 puskesmas,” kata Budi dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi IX DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Menurut Budi, pemanfaatan alat X-Ray tidak hanya ditujukan untuk mendeteksi penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), tetapi juga berbagai penyakit lain yang selama ini umumnya ditangani di rumah sakit.

“Terutama untuk penyakit menular tapi X-Ray ini selain untuk TBC juga bisa melihat kalau ada masalah tulang ya, kalau ada juga masalah-masalah dari penyakit dalam juga kita bisa gunakan,” ujarnya.

Rencana distribusi alat X-Ray merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan yang sedang dijalankan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Pemerintah berupaya menurunkan berbagai layanan diagnostik dan penanganan penyakit ke tingkat puskesmas agar masyarakat tidak selalu harus dirujuk ke rumah sakit.

Selain X-Ray, tambah Budi, Kemenkes juga telah memperluas penggunaan ultrasonografi (USG) di puskesmas. Jika sebelumnya alat tersebut lebih banyak digunakan untuk pemeriksaan kehamilan, kini pemerintah mulai mengembangkannya untuk mendukung skrining kanker payudara serta deteksi penyakit hati.

“Jadi USG yang dulu dilakukan di rumah sakit, sekarang dilakukan di puskesmas. Dulu hanya bisa untuk wanita hamil, sekarang kita sedang masukkan juga untuk skrining kanker payudara,” kata Budi.

Kemenkes juga berencana memperluas distribusi alat elektrokardiogram (EKG) ke puskesmas guna meningkatkan deteksi dini penyakit jantung. Selain itu, pemerintah akan mendorong layanan trombolisis untuk penanganan serangan jantung agar dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“EKG kita akan bagikan supaya kalau ada serangan jantung itu bisa dideteksi lebih dini ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI)-nya. Dan kita akan dorong layanan seperti trombolisis itu diturunkan ke puskesmas,” ujar Budi.

Menurut dia, penguatan sarana kesehatan primer menjadi penting karena tingginya beban penyakit di masyarakat yang tidak mungkin seluruhnya ditangani rumah sakit. Oleh karena itu, pemerintah berupaya meningkatkan kompetensi dokter umum sekaligus memperkuat fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Bapak/Ibu, pergeseran dari kompetensi-kompetensi layanan ini ke layanan primer karena melihat dari beban penyakit yang demikian banyak sehingga tidak memberikan pressure rumah sakit,” kata Budi.

Ia menegaskan, strategi tersebut sejalan dengan praktik yang diterapkan di berbagai negara, di mana sebagian besar persoalan kesehatan masyarakat diselesaikan di layanan primer, sementara rumah sakit dan dokter spesialis berfokus pada kasus-kasus yang lebih kompleks.

Baca juga artikel terkait PUSKESMAS atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dipna Videlia Putsanra