Menuju konten utama
8 Februari 1971

Mengenal Nasdaq, Bursa Elektronik Pertama di Dunia

Mengenal indeks Dow Jones, S&P dan Nasdaq, tiga indikator yang menjadi barometer pelaku pasar di berbagai belahan dunia.

Mengenal Nasdaq, Bursa Elektronik Pertama di Dunia
Ilustrasi Mozaik Bursa Saham Elektronik Nasdaq. tirto.id/Tino

tirto.id - Di pasar saham Amerika Serikat, ada tiga indeks yang menjadi indikator utama dari pergerakan pasar yaitu indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), indeks Nasdaq dan indeks Standard&Poor’s 500. Indeks-indeks saham ini mencerminkan pergerakan harga saham di bursa.

Indeks lain yang dicermati para investor adalah indeks Nasdaq. Indeks Nasdaq merupakan indeks pada bursa kedua terbesar setelah bursa New York yaitu bursa Nasdaq. Baik bursa New York maupun Nasdaq terletak di New York City.

Bursa Nasdaq tercatat sebagai bursa elektronik pertama waktu itu. Ia beroperasi perdana pada 8 Februari 1971. Indeks utamanya adalah Nasdaq Composite yang berisi sekitar 3.000 saham yang tercatat di bursa Nasdaq. Emiten yang masuk ke indeks Nasdaq terdiri atas berbagai macam perusahaan pada berbagai macam sektor, kecuali sektor keuangan.

Indeks ini disusun berdasarkan metode kapitalisasi, bobot setiap saham pada indeks tergantung dari kapitalisasinya. Setiap kuartal ada penyesuaian saham-saham dalam indeks ini.

Porsi terbesar pada indeks Nasdaq adalah sektor teknologi. Saham-saham teknologi berbobot sekitar 54% pada indeks ini. Oleh sebab itu, indeks Nasdaq sering menjadi acuan untuk pergerakan saham-saham teknologi. Sektor lainnya adalah sektor konsumen, seperti saham-saham restoran, peritel dan pariwisata.

Karena lebih banyak bobot saham teknologi, indeks Nasdaq dianggap lebih berisik dibandingkan dengan indeks S&P yang terdiri atas berbagai macam saham dari berbagai sektor. Di sisi lain, potensi penguatannya cukup besar.

Kenaikan dan penurunan indeks sangat terkait dengan naik turunnya sektor teknologi. Ketika terjadi pecah gelembung dotcom pada tahun 2000, indeks Nasdaq turun tajam.

Selain Nasdaq yang banyak dijujug untuk saham-saham teknologi, bagaimana kisah tentang dua indeks penting lain?

Infografik Mozaik Bursa Saham Nasdaq

Infografik Mozaik Bursa Saham Elektronik Nasdaq. tirto.id/Tino

Dow Jones yang Jadi Acuan

Salah satu indeks yang paling banyak dilihat oleh para investor, fund manager, dan juga analis adalah indeks Dow Jones Industrial Average. Tidak hanya mereka yang bertransaksi di Wall Street saja tetapi juga di bursa manapun di seluruh dunia.

Indeks Dow Jones merupakan indeks tertua dan indeks yang paling dikenal. Indeks ini pertama kali diperkenalkan oleh para editor dari harian The Wall Street Journal, yang induk perusahannya adalah Dow Jones & Co.

Pencipta indeks Dow Jones adalah para editor dari Wall Street Journal dan pendiri Dow Jones & co Charles Dow. Dia bekerja sama dengan ahli statistic Edward Jones. Indeks itu diberi nama seperti nama mereka.

Indeks ini pertama kali dihitung pada 26 Mei 1896 dan dipublikasikan di Customer’s Afternoon Letter, bukan di Wall Street Journal. Pada saat itu, hanya ada 12 perusahaan yang masuk ke dalam perhitungan indeks. Pada tahun 1928, indeks diperluas menjadi 30 emiten.

Susunan indeks Dow Jones pada pertama kali: American Cotton Oil American Sugar American Tobacco Chicago Gas Distilling & Cattle Feeding General Electric Laclede Gas National Lead North American Tennessee Coal and Iron U.S. Leather pfd. U.S. Rubber

Indeks Dow Jones dirancang untuk menggambarkan perekonomian AS. Ketika diluncurkan, indeks itu berisi 12 emiten yang terdiri atas 4 perusahaan kereta api, perusahaan kapas, gas, gula, tembakau dan minyak. General Electric merupakan salah satu perusahaan tertua yang merupakan anggota indeks sejak diluncurkan hingga 2016.

Seiring dengan pergerakan ekonomi AS yang semakin mengarah menjadi industri, emiten-emiten dalam indeks Dow Jones pun berubah. Semakin sedikit perusahaan yang terkait dengan komoditas, digantikan oleh perusahaan konsumen dan teknologi. Saham konstituen indeks Dow Jones juga berasal dari bursa Nasdaq, tidak hanya dari bursa New York saja seperti Apple.

Indeks Dow Jones merupakan indeks yang dihitung berdasarkan harga saham. Nilai Dow Jones tidak semata-mata merupakan harga dari masing-masing saham tetapi jumlah harga yang dibagi dengan bilangan pembagi tertentu. Jika ada perubahan harga saham karena pembagian dividen, stock split akan memengaruhi nilai indeks. Sehingga indeks Dow Jones terus mengalami perubahan.

Ada beberapa kriteria agar sebuah saham dapat masuk menjadi konstituen atau penghuni indeks Dow Jones. Di antaranya adalah perusahaan tersebut haruslah merupakan perusahaan yang sangat besar dan merupakan pemimpin pasar pada industrinya.

Indeks lainnya yang juga menjadi acuan adalah S&P 500. Isinya 505 saham yang diterbitkan oleh 500 emiten besar. Kapitalisasi emiten yang masuk sebagai konstituen pada indeks ini minimal senilai 6,1 miliar dolar AS. Indeks ini merupakan indikator untuk mencerminkan kinerja saham-saham dari perusahaan berkapitalisasi besar.

Indeks ini diperkenalkan oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s pada 1 Januari 1957 pada posisi 386. Isi indeks yang cukup beragam mencerminkan keadaan perekonomian AS juga seperti indeks Dow Jones. Dari tahun 1969 hingga awal tahun 1981, indeks S&P secara bertahap turun, menjadi di bawah 300. Pada periode ini, perekomian AS memang tidak begitu menggembirakan.

Saham yang masuk ke dalam indeks S&P diperhitungkan oleh Komite Indeks S&P yang terdiri atas analis dan ekonom S&P. Beberapa perusahaan yang termasuk di dalam indeks ini antara lain adalah Apple, Microsoft, Amazon dan Facebook.

Indeks S&P 500 lebih disukai dipakai sebagai ukuran saham di AS karena anggotanya lebih banyak dibandingkan indeks Dow Jones yang hanya 30 saham saja. Selain itu, ada perbedaan perhitungan signifikan dari kedua indeks tersebut. Indeks S&P menggunakan metodologi kapitalisasi pasar, sehingga membuat bobot perusahaan berkapitalisasi besar lebih banyak. Sementara indeks Dow Jones disusun berdasarkan bobot harga, semakin mahal harga saham semakin besar bobotnya di indeks.

Baca juga artikel terkait NASDAQ atau tulisan lainnya dari Yan Chandra

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Yan Chandra
Penulis: Yan Chandra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti