tirto.id - Sering mendengar keributan kucing berantem? Bagi cat lover, melihat kucing peliharaannya berkelahi adalah hal yang biasa, bahkan kucing liar pun sering bertengkar atau sekadar saling menggeram ketika berpapasan. Namun, kenapa kucing suka berkelahi?
Kucing dikenal sebagai hewan yang menggemaskan dan penuh tingkah lucu, tapi di balik sikap manisnya, mereka juga kerap terlihat saling beradu tanpa mengenal waktu, termasuk saat malam hari.
Suara kucing berantem malam hari tentunya sangat mengganggu ketenangan. Perilaku ini pun sering membuat pemilik kucing bertanya-tanya, apakah hal tersebut wajar atau justru merupakan tanda adanya masalah tertentu.
Sebelum membahas alasan di balik kebiasaan tersebut, penting untuk memahami bahwa dunia kucing memiliki bahasa, insting, dan dinamika sosial yang berbeda dari manusia, sehingga apa yang terlihat sebagai “berantem” belum tentu selalu bermakna negatif.
Alasan Ilmiah Mengapa Kucing Suka Berantem

Kucing berantem adalah hal yang biasa terjadi, tapi apa yang terlihat seperti pertengkaran bagi manusia bisa saja merupakan wujud dari insting alami, respons emosional, atau persaingan. Berikut beberapa alasan kucing berantem yang patut dketahui:
1. Agresi Bermain (Play Aggression)
Tidak semua interaksi kasar antar kucing adalah pertempuran sungguhan, beberapa berasal dari agresi bermain. Kucing yang kurang bersosialisasi saat kecil atau kurang stimulasi fisik cenderung “bermain terlalu serius”.Mereka mengejar, menabrak, atau menggigit sesama kucing dengan intensitas yang bisa terlihat seperti serangan. Ini biasanya sering terjadi pada anak kucing atau kucing muda yang belum pernah memiliki teman bermain kucing lain sehingga belum belajar batas perilaku bermain.
Namun, perbedaan antara bermain dan berantem bisa dilihat dari bahasa tubuhnya. Saat bermain, gerakan biasanya lebih longgar, cakaran atau gigitan terlihat lebih lembut.
Sedangkan pertarungan nyata ditandai dengan telinga yang rata, bulu mengembang, dan pupil yang melebar, tanda bahwa salah satu atau kedua kucing merasa stres atau terancam.
2. Agresi karena Takut (Fear Aggression)
Salah satu alasan ilmiah lain kucing berantem adalah respon terhadap rasa takut. Ketika kucing merasa terancam (misalnya oleh kucing baru yang tiba-tiba masuk rumah tanpa sesi perkenalan yang tepat) ia mungkin memilih menyerang daripada melarikan diri.Respons ini adalah bentuk pertahanan dan perlindungan diri, dan perilaku tersebut bisa tampak seperti agresi tanpa provokasi. Kucing yang secara alami pemalu atau kurang percaya diri sering menunjukkan perilaku ini apabila takut/terancam.
Kucing penakut mungkin awalnya menghindari kontak, mengambil posisi defensif dengan membeku dan berjongkok rendah ke tanah. Namun, saat tekanan emosional meningkat, mereka bisa melancarkan serangan untuk mengusir “ancaman”, dan Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang tersisa dari naluri liar kucing.
3. Agresi Teritorial (Territorial Aggression)
Kucing adalah hewan teritorial dan naluri ini sangat kuat pada kucing. Mereka memiliki kecenderungan untuk mempertahankan area yang mereka anggap milik mereka, misalnya tempat tidur favorit atau sumber makanan.Kucing berantem bisa disebabkan karena merasa wilayahnya terancam. Perkelahian ini biasanya merupakan gabungan dari naluri teritorial, dorongan untuk menunjukkan status atau dominasi, serta konflik antar kucing.
Dalam konteks hewan peliharaan, situasi seperti ini sering terjadi saat ada kucing baru yang masuk rumah. Bisa juga muncul perlahan antara dua kucing yang saling kenal, tapi seiring waktu memiliki ketegangan yang meningkat dan terbentuk posisi sosial antar kucing.
Selain itu, kucing cenderung mengklaim area dan benda tertentu sebagai miliknya, terutama yang mereka anggap penting atau bernilai. Tempat rebahan favorit, kotak pasir, mainan, perhatian dari pemilik, hingga makanan dan minuman bisa menjadi sumber konflik.
4. Agresi Teralihkan (Redirected Aggression)
Kucing juga bisa berantem bukan karena mereka merasa satu sama lain sebagai ancaman, tapi karena ada sumber stres lain dan mereka keliru menyalurkan emosinya.Agresi ini terjadi ketika kucing merasa terancam oleh pemicu eksternal yang tidak bisa ia jangkau, lalu melampiaskannya pada target yang salah. Hal ini sering terjadi dindalam rumah dengan lebih dari satu kucing peliharaan.
Sebagai contoh, seekor kucing di rumah melihat kucing asing di luar jendela atau mendengar suara keras yang mengejutkan. Namun, si kucing tidak bisa menghadapi langsung sumber gangguan tersebut.
Ini membuat emosi kucing jadi menumpuk dan sulit dikendalikan. Karena perasaan terancam tersebut tidak bisa diluapkan langsung kepada sumber masalahnya, kucing akan melampiaskannya kepada sasaran terdekat yang sering kali adalah kucing lain yang tinggal bersamanya di dalam rumah.
5. Perbedaan Hierarki dan Status Sosial
Dalam sebuah rumah atau lingkungan dengan banyak kucing, mereka secara alami akan membentuk hierarki sosial untuk menentukan posisi masing-masing dalam kelompok.Berbeda dengan manusia, hierarki kucing bersifat sangat dinamis dan kompleks. Posisi ini bisa berubah seiring waktu, misalnya karena ada kucing baru yang masuk ke rumah atau saat kucing yang lebih muda mulai mencapai usia kematangan sosial.
Konfrontasi pun bisa terjadi sebagai cara menegaskan posisi masing-masing. Proses ini juga mirip dengan “negosiasi” posisi dalam kelompok sosial demi menetapkan kembali posisi mereka dalam kelompok.
Hierarki ini sangat erat kaitannya dengan penguasaan sumber daya. Kucing yang merasa memiliki posisi lebih tinggi dalam hierarki mungkin akan menunjukkan perilaku dominan seperti menghalangi akses kucing lain ke kotak pasir, tempat makan, atau tempat tidur favorit.
Konflik mengenai hierarki ini biasanya muncul jika sumber daya di dalam rumah terbatas sehingga kucing merasa perlu bersaing untuk menunjukkan siapa yang berkuasa atas wilayah tersebut.
Cara Mencegah atau Mengatasi Kucing Berantem

Memiliki kucing lebih dari satu di rumah bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, tapi ketika konflik atau perkelahian muncul, suasana rumah bisa menjadi tegang. Melihat kucing kesayangan saling berkelahi tentu membuat pemiliknya cemas.
Untungnya, ada beberapa cara untuk mencegah atau mengatasi kucing berantem, mulai dari penataan lingkungan, pengaturan sumber daya, hingga teknik perilaku yang bisa membantu meredakan ketegangan antar kucing.
1. Pastikan Fasilitas "Satu Kucing Satu Alat"
Kucing adalah hewan yang sangat menghargai privasi dan hak milik. Perkelahian sering terjadi karena mereka harus berebut sumber daya penting seperti kotak pasir, mangkuk makanan, atau tempat tidur.Jika fasilitas ini terbatas, kucing yang lebih dominan akan merasa perlu untuk "mengusir" kucing yang lain. Jadi, untuk mengurangi persaingan antar kucing, penting agar setiap kucing memiliki sumber daya sendiri.
Usahakan untuk meletakkan sumber daya seperti piring makan di lokasi yang berbeda. Memberikan ruang pribadi yang cukup dapat membantu mengurangi risiko konflik karena rasa saling berebut sekaligus memberi mereka pilihan untuk menjaga jarak saat merasa tidak nyaman.
2. Perkenalan Kucing Baru yang Tepat
Jika membawa kucing baru ke rumah, perkenalan harus dilakukan secara perlahan demi mencegah konflik. Ketika dua kucing bertemu terlalu cepat tanpa adaptasi yang memadai, hal ini bisa memicu rasa terancam dan agresi.Mulailah dengan memisahkan mereka di ruangan berbeda selama beberapa hari dan biarkan mereka mengenal satu sama lain melalui pertukaran bau sebelum benar-benar bertemu.
Misalnya dengan kain yang diusap ke masing-masing kucing atau memberikan kain bekas tidur kucing A ke kucing B dan sebaliknya. Setelah terbiasa dengan aromanya, pertemukan mereka secara bertahap dengan pembatas seperti pagar bayi atau pagar kawat mesh.
Pertemuan seperti ini juga bisa sambil diberi camilan lezat agar kucing mengasosiasikan keberadaan satu sama lain dengan hal positif. Ini memberi mereka waktu untuk saling menerima tanpa merasa terpojok/terancam.
3. Gunakan Diffuser Feromon
Terkadang, ketegangan di antara kucing disebabkan oleh stres lingkungan yang tidak kasat mata. Penggunaan diffuser feromon dapat membantu menciptakan suasana yang lebih damai. Alat ini menyebarkan aroma sintetis yang meniru feromon alami kucing yang memberikan sinyal rasa aman dan nyaman.Feromon ini membantu menurunkan tingkat kecemasan pada kucing yang merasa terancam dan melembutkan sikap kucing yang agresif. Meskipun manusia tidak bisa mencium aromanya, bagi kucing, ini adalah pesan visual bahwa lingkungan mereka aman sehingga tidak merasa perlu untuk bersikap defensif.
4. Sterilisasi
Sterilisasi adalah salah satu cara paling efektif untuk meredam agresi pada kucing. Kucing yang tidak disteril memiliki dorongan hormonal yang kuat untuk menjaga wilayah (teritorial) dan mencari pasangan. Ini sering kali berujung pada perkelahian sengit dengan kucing lain di sekitarnya.Setelah disteril, kadar hormon testosteron pada jantan atau estrogen pada betina akan menurun secara signifikan. Hal ini membuat perilaku mereka menjadi lebih tenang, mengurangi keinginan untuk berkelana, dan meminimalkan sifat kompetitif terhadap sesama kucing di dalam rumah.
5. Alihkan Perhatian saat Ketegangan Muncul
Sebagai pemilik, kita harus peka terhadap bahasa tubuh kucing sebelum perkelahian pecah. Jika melihat mereka saling menatap tajam dengan telinga rata ke belakang dan bulu mengembang, segera lakukan pengalihan perhatian sebelum mereka melakukan kontak fisik.Gunakan mainan seperti pancingan bulu atau lemparkan bola untuk memecah fokus mereka. Jangan pernah memisahkan kucing yang sedang berkelahi dengan tangan kosong karena berisiko terkena gigitan atau cakaran.
Rekomendasi Produk yang Bisa Mengatasi Kucing Berantem

Kucing berantem, baik peliharaan sendiri maupun kucing liar, butuh penanganan yang tepat tanpa menyiksa/menyakiti mereka. Berikut beberapa produk yang bisa digunakan untuk mengatasi kucing berantem, baik dengan cara menenangkan maupun mengusir mereka dari lokasi yang kerap dijadikan area perkelahian:
1. Catnip Spray Penghilang Stress Untuk Kucing
Kucing berantem bisa disebabkan stres, baik karena gangguan dari luar rumah maupun ada kucing baru yang masuk ke lingkungan mereka. Setelah dipisahkan atau dijauhkan dari sumber masalh, catnip spray bisa digunakan untuk menenangkan kucing yang sedang stres.Produk ini sendiri berbahan essential oil dari tanaman Nepeta cataria yang dikenal disukai kucing. Catnip spray bermanfaat untuk membantu mengurangi kecemasan, menciptakan rasa nyaman, memudahkan adaptasi di lingkungan baru, serta mendorong aktivitas bermain. Produk ini dibanderol dengan harga Rp20.000 - Rp25.000 (120 ml)
2. Vetpicurean NyangNyang Love Spray
Produk ini termasuk semprotan penenang untuk kucing yang diformulasikan dari bahan alami berkualitas food grade sehingga aman meski terjilat. Produk ini mengandung bahan utama Actinidia polygama yang bisa menenangkan dan membuat mood kucing lebih baik.Produk ini dirancang untuk membantu mengurangi stres, kecemasan, dan perilaku agresif, serta membuat hewan peliharaan lebih rileks dalam berbagai situasi. Vetpicurean NyangNyang Love Spray bisa didapatkan dengan harga Rp35.000 - Rp40.000.
3. Remov Spray Anti Kucing Liar
Sering mendapati kucing berantem di suatu tempat di sekitar rumah? Coba gunakan spray pengusir kucing dari Remov. Produk ini menggunakan bahan alami yang aman dan tidak beracun, memanfaatkan aroma yang tidak disukai kucing seperti citronella oil, white vinegar, dan eucalyptus oil.Spray ini juga aman digunakan pada berbagai permukaan karena tidak meninggalkan noda, ramah untuk kulit, tanaman, hewan peliharaan, serta anak-anak. Remov Spray Anti Kucing Liar dibanderol dengan harga sekitar Rp30.000 - Rp40.000 (250 ml).
4. Pawsitive Vibes Spray Repellent for Dog and Cat
Spray repellent ini juga bisa digunakan untuk mengusir atau mencegah kucing berantem di area tertentu. Produk ini mengandung essential oil lemon yang aman, tapi aromanya yang menyengat tidak disukai oleh kucing.Produk ini tidak untuk disemprotkan langsung ke hewan dan harus dijauhkan dari anak-anak. Pawsitive Vibes Spray Stop Marking bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp25.000 - Rp30.000 (120 ml).
5. Infarm Repellent Pengusir Kucing
Semprotan anti kucing Infarm mengandung bahan organik dan aromatik yang berfungsi mengusir kucing tanpa membahayakan mereka. Produk ini mengandung orange essential oil yang aromanya tidak disukai oleh hewan tersebut.Selain efektif mencegah hewan melintas di area tertentu dan berantem, wanginya juga menyegarkan. Formulanya aman untuk anak-anak, hewan peliharaan, dan tanaman, serta ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu berbahaya. Produk ini dibanderol dengan harga Rp20.000 - Rp25.000 (250 ml).
Demikian penjelasan tentang kenapa kucing berantem, cara mengatasinya, serta beberapa rekomendasi produk yang bisa membantu menenangkan maupun mengusir kucing agar tidak berkelahi di area rumah.
Perlu diingat bahwa setiap kucing memiliki karakter dan respons yang berbeda, sehingga kombinasi antara pengaturan lingkungan, pendekatan perilaku, dan penggunaan produk pendukung sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Ingin tahu info menarik lain seputar kucing? Temukan berbagai fakta unik, tips, hingga rekomendasi produk untuk kucing melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































