Menuju konten utama

Mengapa Energi Biomassa Potensial di Wilayah Pedesaan?

Salah satu potensi besar biomassa di pedesaan menjadi energi alternatif. Ada banyak faktor pendukung masyarakat desa gunakan sumber energi biomassa.

Mengapa Energi Biomassa Potensial di Wilayah Pedesaan?
Bahan bakar biomassa masa depan. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Biomassa adalah materi organik yang berasal dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan limbah organik lainnya. Biomassa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi atau bahan baku industri.

Biomassa dapat menjadi sumber energi terbarukan. Ketersediannya melimpah dan dapat diperbarui dalam waktu yang relatif singkat. Maka itu, sumber energi biomassa berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Sumber energi dari biomassa bisa dimanfaatkan untuk penghasil panas (menjadi biogas), pembangkit listrik, produksi bioetanol atau biodiesel, dan aneka bahan kimia bio-basis.

Biomassa bisa terdiri atas berbagai bentuk. Contoh biomassa adalah kayu, jerami, sekam padi, tongkol jagung, sisa makanan, limbah industri kertas, tanaman seperti tebu, rumput laut, atau rumput gajah, sampah-sampah organik, kotoran ternak, dan lain sebagainya.

Berbagai jenis biomassa selama ini mudah ditemukan di kawasan perdesaan. Potensinya sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat perdesaan pun cukup besar.

Faktor Pendukung Energi Biomassa Berkembang di Pedesaan

Biomassa dapat digunakan untuk menghasilkan energi melalui berbagai proses, termasuk pembakaran langsung, konversi termal, pirolisis, gasifikasi, dan dekomposisi anaerobik.

Di banyak tempat, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi yang paling umum ialah dengan pembakaran langsung. Namun, proses ini memicu emisi tinggi sehingga tidak lagi layak dilakukan. Mengubah biomassa menjadi bentuk sumber energi lain, seperti biogas dan biodiesel, lebih direkomendasikan karena menghasilkan emisi tidak kelewat banyak.

Indonesia yang merupakan wilayah tropis kaya akan biomassa. Data Kementerian ESDM RI pada 2023 menunjukkan Indonesia mempunyai potensi bioenergi dari biomassa yang sangat besar, bahkan setara 56,97 GW listrik per tahun. Sebagai perbandingan, kapasitas terpasang pembangkit listrik Indonesia pada 2023 mencapai 84,8 GW dan baru 15% dari energi baru terbarukan (EBT).

Salah satu kawasan yang menjadi sentra biomassa adalah pedesaan mengingat mayoritas desa di RI masih menjadi pusat pertanian. Oleh karena itu, wilayah perdesaan berpotensi menjadi sasaran pengembangan sumber energi dari biomassa.

Apa faktor-faktor yang mempengaruhi energi biomassa lebih potensial dikembangkan di wilayah pedesaan? Selain kondisi alam perdesaan yang kaya akan biomassa, masih ada banyak faktor lain yang membuat sumber energi terbarukan ini layak dikembangkan di desa-desa.

Godfrey Boyle dalam bukunya, Renewable Energy: Power for a Sustainable Future (1996) menerangkan biaya investasi rendah untuk bahan baku, operasional, maupun teknologi menjadikan energi biomassa pilihan menarik untuk wilayah di pinggiran dengan anggaran yang terbatas.

Kesadaran akan keberlanjutan lingkungan juga dapat mendorong penduduk desa untuk memilih energi biomassa. Dengan memanfaatkan sumber daya yang dapat diperbaharui dan mengurangi jejak karbon, desa-desa bisa turut berkontribusi pada upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dalam aspek lain, pengelolaan biomassa untuk sumber energi akan menciptakan kegiatan ekonomi baru di perdesaan. Operasional pengolahan biomassa menjadi energi setidaknya menyerap tenaga kerja. Sampah yang dulu terbuang pun bisa menjadi bernilai ekonomi.

Berikut ini rincian faktor apa saja yang mendukung masyarakat pedesaan menggunakan energi biomassa:

1. Ketersediaan sumber daya lokal yang melimpah

Tidak hanya sisa tanaman dan kotoran hewan ternak atau manusia yang termasuk dalam jenis biomassa potensial untuk energi. Berbagai jenis limbah, seperti ampas tebu, sekam padi, sekam kapas, hingga kulit kacang tanah dapat dimanfaatkan sebagai biomassa buat sumber energi panas ataupun listrik.

Wilayah pedesaan sering kali memiliki sumber daya biomassa yang berlimpah, termasuk limbah pertanian, limbah kehutanan, kotoran ternak, dan sampah organik lainnya. Hal ini menciptakan potensi besar pemanfaatan biomassa untuk sumber energi. Jika berfokus ke pemanfaatan limbah organik, pengelolaan biomassa jadi energi tidak berisiko merambah tanaman pangan seperti yang terjadi dalam produksi skala besar.

2. Penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan

Pengembangan proyek-proyek energi biomassa di pedesaan dapat menciptakan peluang kerja baru. Selain membantu mengurangi tingkat pengangguran, produksi energi dengan bahan biomassa pun akan meningkatkan penghematan. Dengan demikian, perekonomian masyarakat pedesaan juga turut membaik.

3. Sumber daya biomassa terbarukan

Biomassa merupakan sumber daya yang terbarukan. Artinya, biomassa bisa diperbaharui melalui penanaman dan pemanenan tanaman yang berkelanjutan. Maka itu, penggunaan energi biomassa akan mendukung terciptanya kemandirian energi di pedesaan. Apalagi, berbagai limbah organik rutin dihasilkan dari pertanian, peternakan, pekerbunan, hingga industri skala kecil-menengah di perdesaan.

Dengan aktif memanfaatkan biomassa untuk menghasilkan panas dan listrik, masyarakat di perdesaan tidak lagi tergantung pada pasokan energi dari luar. Selain biayanya rendah, pasokan energi biomassa tidak rentan terhadap fluktuasi harga dan keterbatasan suplai.

4. Manfaat untuk lingkungan

Energi biomassa memiliki dampak lingkungan yang lebih baik dibandingkan dengan bahan bakar fosil, karena menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah. Selain itu, penggunaan biomassa juga dapat membantu penyerapan karbon dioksida dari atmosfer selama proses fotosintesis tanaman.

Kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan semakin meningkat, dan masyarakat desa cenderung lebih terhubung dengan alam. Tentu akan lebih mudah mengajak warga desa menyadari bahwa pengelolaan biomassa menjadi energi mengurangi jejak karbon dan mendukung upaya pelestarian lingkungan.

5. Biaya yang murah

Biaya energi biomassa cenderung lebih terjangkau, terutama ketika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Faktor ini dapat menjadikan energi biomassa sebagai alternatif yang menarik bagi masyarakat pedesaan untuk memenuhi kebutuhan energinya.

Dibandingkan energi konvensional, biaya teknologi biomassa lebih terjangkau bagi warga di pedesaan. Investasi awal pengadaan infrastruktur energi biomassa, seperti pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) maupun reaktor biogas cenderung lebih rendah daripada penyediaan energi secara konvensional.

Sebagai contoh, mengutip publikasi Kementerian ESDM, keberadaan 3 Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) yang memanfaatkan bahan bakar dari bambu di Pulau Siberut menghasilkan listrik 1.300 kw pada 2019 lalu. Kapasitas PLTBm ini memenuhi kebutuhan listrik 1.233 KK dari 3 desa di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Biaya untuk operasional PLTBm tadi lebih murah 14 miliar per tahun dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama mendukung pengembangan energi biomassa di pedesaan sebagai solusi yang berkelanjutan, ekonomis, dan ramah lingkungan. Namun, pengembangan energi biomassa di pedesaan juga memiliki sejumlah tantangan, terutama minimnya kesadaran dan inisiatif. Sebab, pemanfaatan biomassa menjadi berbagai bentuk energi merupakan perkara baru bagi masyarakat di banyak desa.

Manfaat Penggunaan Energi Biomassa

Terdapat beberapa manfaat penggunaan energi biomassa yang menguntungkan. Berikut ini beberapa keuntungan pemanfaatan energi biomassa:

1. Tersedia sumber energi terbarukan

Biomassa merupakan sumber energi terbarukan, berasal dari pembakaran limbah hewan dan tumbuhan, yang tersedia secara berkelanjutan.

2. Pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil

Energi biomassa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang jumlahnya terbatas dan penggunaannya menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan.

3. Biaya energi lebih rendah

Teknologi biomassa lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar fosil, memungkinkan produsen untuk menghasilkan keuntungan lebih tinggi dari produksi yang lebih rendah.

4. Pemanfaatan limbah organik

Biomassa sering kali terdiri dari limbah organik. Mislanya limbah pertanian, limbah kayu, atau kotoran ternak. Dengan mengubahnya jadi sumber energi, jumlah limbah organik yang masuk ke tempat pembuangan sampah mungkin berkurang drastis dan proses daur ulangnya menjadi lebih cepat.

Penggunaan biomassa akan membantu mengelola limbah industri, hutan, dan pertanian secara lebih efisien. Contoh praktiknya sudah banyak, mulai dari pemanfaatan kotoran ternak untuk biogas, limbah perkebunan sawit diolah jadi biofuel, dan lain sebagainya.

5. Tersedianya sumber energi lokal

Biomassa dapat diperoleh secara lokal dari sumber-sumber seperti hutan, pertanian, dan limbah industri. Hal ini dapat mendukung ekonomi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

6. Diversifikasi sumber energi

Pemanfaatan biomassa bisa membantu diversifikasi pasokan energi. Hal ini penting untuk ketahanan energi nasional dan mengurangi dampak dari fluktuasi harga bahan bakar fosil global terhadap perekonomian.

7. Penyediaan energi bisa didesentralisasi

Teknologi biomassa, seperti pembangkit listrik biomassa skala kecil-menengah, dapat menyediakan sumber energi untuk daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik utama. Semakin banyak instalasi pengolahan biomassa menjadi energi di daerah-daerah pelosok, pemerataan ketahanan energi akan makin cepat.

9. Menyokong industri ramah lingkungan

Biomassa dapat digunakan untuk menghasilkan bahan kimia dan bahan baku industri lain yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, sebagian jenis biomassa bisa diolah menjadi bio-plastik atau bahan kimia hijau yang akan mengurangi penggunaan bahan baku non-daur ulang.

10. Pengurangan emisi gas rumah kaca

Penggunaan biomassa untuk energi diyakini bisa mengurangi emisi karbon dibandingkan pemakaian bahan bakar fosil (minyak atau batu bara).

Sebagai contoh, biomassa yang diubah menjadi biogas bisa menghambat pelepasan emisi karbon ke atmosfer. Penggunaan biogas menyebabkan metana dan karbon dioksida dalam biomassa dimanfaatkan menjadi sumber energi terlebih dahulu untuk berbagai keperluan sebelum terlepas ke atmosfer. Apabila dibiarkan saja, apalagi dibakar langsung, berbagai jenis limbah biomassa dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca.

Namun, penggunaan energi dari biomassa tetap memiliki dampak lingkungan yang harus dikelola dengan hati-hati. Perlu memastikan bahwa pemanfaatan biomassa untuk sumber energi tidak malah memicu deforestasi yang merugikan atau mengganggu keseimbangan ekosistem penyerap karbon. Penanaman berbagai jenis tumbuhan untuk penghasil energi dari biomassa skala besar juga akan menambah pelepasan karbon yang disimpan tanah.

Selain itu, teknologi pengolahan biomassa perlu terus dikembangkan untuk memastikan efisiensi dan mengurangi emisi polutan lain yang mungkin terkait dengannya.

Baca juga artikel terkait ENERGI atau tulisan lainnya dari Umi Zuhriyah

Kontributor: Umi Zuhriyah
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Addi M Idhom