Mengapa Banyak Prostitusi di Dekat Rel Kereta Api?

Oleh: Petrik Matanasi - 22 November 2016
Dibaca Normal 3 menit
Banyak sekali kawasan prostitusi di tanah Jawa berada di dekat rel kereta api. Bagaimana sejarah prostitusi di dekat rel?
tirto.id - Dalam cerita Rudyard Kipling tentang Lalun, pelacur adalah profesi paling purba di dunia. Profesi ini, dengan berbagai macam panggilan dan peristilahannya, ada di mana-mana. Dari negara kaya, sampai negara miskin. Dari kota besar sampai kota kecil. Dari daerah elit sampai kawasan kumuh. Ia ada di hotel-hotel berbintang sampai pelabuhan, terminal atau stasiun para kupu-kupu malam bisa ditemukan.

Di masa kini, di atas jam sembilan, tak begitu jauh dari Stasiun Jatinegara, kupu-kupu malam bisa ditemukan di pinggir jalan ke arah Klender. Tak hanya perempuan tulen yang menjual jasa seks, yang waria pun juga ada. Mereka berlagak seperti hendak menunggu angkutan umum. Pukul sembilan malam, bedak dan gincu mereka masih merekah.

Tempat mereka mangkal tak jauh dari pinggir rel. Mereka berharap laki-laki hidung belang yang biasanya pakai sepeda motor, mobil atau yang hanya berjalan kaki menghampiri dan bersedia merasakan layanan seks. Umumnya, mereka dibawa laki-laki hidung belang ke hotel-hotel murah di sekitar Jatinegara.

Geliat kupu-kupu malam sekitar rel tak hanya di sekitar Stasiun Jatinegara. Di Jakarta, masih ada kawasan Bongkaran di Tanah Abang, dan kawasan Royal di Pluit. Di Bandung ada Saritem yang tidak jauh dari rel kereta atau stasiun. Di Yogyakarta, kawasan Sarkem hanya sepelemparan batu dari Stasiun Tugu. Di Surabaya berada tak jauh dari stasiun Wonokromo dan stasiun Semut.

Esek-esek sekitar Stasiun

Stasiun Senen memang memuat banyak cerita, legenda, sejarah lisan sampai folklore. Soal prostitusi Senen, dalam novel biografis Chairil (2016) yang ditulis Hasan Aspahani, legenda puisi Indonesia, Chairil Anwar mengenal kupu-kupu malam bernama Adhesi.

Begitupun legenda seni rupa, Sudjojono, seperti dalam biografi Sudjojono dan Aku (2013), yang ditulis Mia Bustami (istri Sudjojono), juga beririsan dengan hidup Adhesi. Nama Adhesi bahkan diganti menjadi Miryam. Adhesi sempat dibawa pulang Sudjojono, yang kala itu jadi guru gambar, namun Adhesi tak betah dan kembali ke dunia remang-remang di Senen.

Alwi Shihab, dalam bukunya Maria van Engels Menantu Habib Kwitang (2006), menulis “Pasar Senen pernah menjadi terkenal pada pertengahan 1950an sampai akhir 1960an. (Namun) bukan karena banyaknya orang berbelanja.”

Agak aneh. Padahal Pasar Senen sejak dulu memang pasar tradisional. Rupanya, “orang (laki-laki) lebih banyak datang ke Planet Senen, terutama pada malam hari, karena masa itu Planet Senen dan sekitarnya menjadi tempat pelacuran terbesar di Jakarta.”

Di sana, “para WTS atau Wanita P tinggal di bangunan yang terdiri dari kotak sabun dan kardus. Di pinggir-pinggir rel. Malah gerbong-gerbong barang yang diparkir di Stasiun Senen, dijadikan tempat ngamar,” tulisnya. Tak lupa, dalam bukunya itu Alwi juga menulis kejadian lucu. Pernah ada yang ngamar dengan PSK Senen di gerbong yang sedang parkir. “Tiba-tiba gerbongnya langsir dan baru berhenti di Stasiun Jatinegara.”

Keramaian Senen sebagai tempat prostitusi kini sudah tak seperti dulu. Selain Senen dan Jatinegara, di sekitar rel dekat stasiun Beos pun ramai dengan kupu-kupu malamnya. Jika kereta tak lagi melintas, di sekitar rel pun jadi ajang tawar menawar antara si kupu-kupu malam dengan hidung belang yang ngiler.

Geliat kupu-kupu malam di sekitar stasiun, tak hanya bisa ditemukan di Jakarta. Lokalisasi kupu-kupu malam di beberapa kota di Jawa bahkan tak jauh dari stasiun. Kota Bandung punya Saritem. Dulunya, ada juga Gang Coorda, yang berubah menjadi Gang Kejaksaan. Namun, jarak antara Saritem dengan Stasiun Bandung Hall sekitar 1,4 km. Terhitung tidak jauh.

Prostitusi dan rel kereta api nampaknya agaknya saling berkaitan dalam perkembangan kota-kota di Jawa. Dalam Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah (2006) karya Sudarsono Katam, prostitusi perempuan berparas cantik yang kadang disebut “Mojang Bandung” makin kesohor di kalangan laki-laki hidung belang zaman kolonial setelah dibukanya jalur rel kereta api dari Jakarta ke Bandung dan dari Bandung ke Surabaya pada 1884.

Selain Bandung dan Jakarta, di Surabaya, selain ada Dolly ada Wonokromo. Dunia prostitusi di pinggir rel, Surabaya ada di sekitar stasiun Wonokromo dan stasiun Semut. Namun keduanya tak sejaya Dolly di masa lalu.

Kota lain yang memiliki tempat prostitusi tak jauh dari rel adalah Yogyakarta. Pasar Kembang yang akrab disingkat Sarkem bahkan lebih dekat dengan rel termasuk cukup dikenal. Meski pun kalah gemerlap dari Dolly di Surabaya. Sarkem dulu dikenal sebaia Mbalokan. Riwayat pun cukup tua. Ada yang menyebut sudah ada sejak 1818. Sebelum kereta api ada di Yogyakarta.

Infografik Prostitusi Pinggir Rel


Sejak Kapan Di Pinggir Rel?

Sebelum bis masuk ke Indonesia, angkutan massal paling utama adalah kereta api. Tak heran tempat prostitusi yang lebih dulu ada di sekitar stasiun. Di sekitar terminal baru belakangan muncul. Prostitusi dekat stasiun biasanya diramaikan oleh laki-laki hidung belang yang melakukan perjalanan yang jauh dari keluarga dan merasa sepi. Hingga para kupu-kupu malam pun jadi pelarian.

Hidung belang lain, selain para pejalan yang jauh dari keluarga tadi, warga di di kota sekitar stasiun pun kadang ke sana. Stasiun biasanya tak jauh dari pusat kota. Pusat kota di zaman kolonial biasanya terdapat tangsi. Di mana serdadu-serdadu kolonial yang punya birahi yang cukup beringas cari hiburan pula di sekitar stasiun.

Rupanya, prostitusi di sekitar rel, menurut beberapa sejarawan, seringkali tak kalah tua usianya dengan rel yang dibangun.

“Selama pembangunan jalan-jalan kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa, seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyakarta, dan Surabaya tahun 1884, dunia pelacuran telah menjadi bagian penting penyedia jasa layanan seksual bagi para pekerja jalan kereta api. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika tempat pelacuran di beberapa kota tersebut terletak dekat stasiun kereta api,” tulis Nur Syam dalam Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental (2010).

Pembangunan kereta api memang terkait dengan pembangunan tanah koloni yang dulu bernama Hindia Belanda. Rel-rel itu penting sekali untuk mengangkut hasil bumi nusantara ke pelabuhan agar terjual secepatnya dan pemerintah kolonial dapat pemasukan. Kehadiran kupu-kupu malam itu nampaknya hendak dijadikan pemompa para pekerja rel kereta api agar mereka giat bekerja dan setelah mereka terima upah, mereka akan tandaskan uang mereka untuk kupu-kupu malam itu.

“Beberapa tempat pelacuran yang dekat dengan stasiun kereta api dan punya keterkaitan sejarah dengan Hindia Belanda, misalnya: di Yogyakarta (Sarkem, Mbalokan, dan Sosrowijan), di Surabaya ada pelacuran di seputar Stasiun Semut,” Terence Hull dalam Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya (1997).

Selain di sekitar rel, tempat prostitusi di zaman kolonial juga terbangun di sekitar pelabuhan.

“Setiap daerah pelabuhan besar zaman Hindia Belanda, seperti Batavia (Tanjung Priok), Surabaya (Tanjung Perak), dan beberapa lainnya selalu ada tempat pelacuran, untuk melayani para pekerja di kapal-kapal milik orang Cina ataupun Belanda.” Di mana para kuli atau pekerja itu adalah laki-laki yang jauh dari rumah mereka juga. Ketidakmampuan membawa atau memiliki istri membuat mereka menghibur diri di sekitar stasiun atau pelabuhan."

Baca juga artikel terkait PROSTITUSI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS