Menelisik Kabar Kematian Bahrun Naim

Menelisik Kabar Kematian Bahrun Naim
Aksi teror Sarinah yang diduga dikendalikan oleh Bahrun Naim. Antara foto/Muhammad Adimaja
07 Desember, 2017 dibaca normal 3 menit
Bahrun Naim dikabarkan tewas. Tapi semua masih simpang siur.
tirto.id - Kecamuk perang yang kini memanas di Provinsi Deir Az-Zour sebenarnya sudah cukup membuat kabar kematian Bahrum Naim mendekati kebenaran. Tapi itu saja tidak cukup.

Sejak operasi ofensif digelar pasukan Sekutu Juni lalu, ibu kota ISIS, Raqqa, perlahan mulai ditinggalkan para kombatan asing, termasuk yang berasal dari Indonesia, di mana Bahrun Naim ada di dalamnya. Ia dikenal sebagai dalang teror ISIS di Indonesia selama dua tahun terakhir.

Gempuran bombardir jet tempur pasukan Amerika Serikat (AS) yang menyokong laju Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces/SDF) di darat membuat milisi ISIS kabur ke arah Kota Mayadin—188 kilometer ke arah tenggara dari Raqqa. Jika Raqqa adalah ibu kota provinsi Deir Az-Zour, maka Mayadin adalah kota kecil di bagian timur provinsi ini.

Mayadin relatif lebih aman dari serangan pesawat tempur musuh pasukan AS. Ini alasan kenapa Mayadin jadi kota teraman, khususnya bagi para kombatan asing dan keluarganya.

Sebagai kota di pesisir Sungai Eufrat, Mayadin relatif hijau. Sebelum perang berkecamuk, Mayadin adalah pusat rekreasi para kombatan asing dan bos-bos ISIS dari Raqqa. Informasi ini didapat dari deportan ISIS asal Indonesia kepada Tirto.


Strategisnya lokasi Mayadin membikin kota ini jadi jembatan penghubung terakhir antara ISIS di Irak dengan ISIS di Suriah setelah Raqqa direbut. Mayadin berdekatan dengan Bukamal, sebuah desa yang berbatasan dengan Irak. ISIS menguasai lebih dari 58 km rute dari Mayadin ke Bukamal.

Tiga bulan setelah AS dan SDF menggempur Raqqa, September lalu pasukan Suriah yang disokong Iran dan Rusia mulai menggasak Mayadin. 14 Oktober, Mayadin berhasil sepenuhnya dikuasai. Sejak saat itulah operasi pembersihan ISIS dari Mayadin hingga Bukamal mulai dilakukan. Operasi ini melibatkan SDF dan AS, karena sebagian wilayah ISIS ada di sisi timur Sungai Eufrat.

AS dan Rusia membuat pakta perjanjian zona de-eskalasi. Pakta ini berisi perjanjian agar tidak melintasi batas operasi militer di Suriah yang sudah disepakati. AS di sebelah timur Sungai Eufrat yang melintang dari tenggara ke utara Suriah, sementara Rusia di sebelah barat.

Letak Sungai Eufrat yang membelah kota-kota kecil sepanjang Mayadin ke Bukamal otomatis membuat AS dan Rusia harus berbagi peran. Sikap ofensif pasukan Suriah dan Rusia di bagian barat sejak pertengahan Oktober membuat kombatan ISIS menarik diri dari benteng-bentengnya yang tersisa di Bukamal utara, membiarkan rezim pemerintah Suriah menguasai kota secara penuh.

Menurut media resmi SDF, RFS Media, sejak 29 November SDF memulai pertempuran untuk menguasai daerah Al-Shuyaitat di pedesaan timur Deirezzor.

Operasi perebutan pertama mengarah pada desa Abu Hammam dan Al-Kashkia di daerah Badiya. Dengan dukungan udara pasukan koalisi, pada 30 November SDF meluncurkan serangan pagi hari ke sisi barat kota Abu Hammam yang mulai dipenuhi para kombatan ISIS.


Serangan ini menewaskan 17 milisi ISIS. Beredar info bahwa di antara 17 orang ini ada Bahrun Naim. Kegaduhan soal meninggalnya Bahrun Naim bermula di sosial media.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah gugur syahid saudara kita mujahid Bahrun Naim di Abu Hammam pada tanggal 30 November," pesan berantai ini mulai berseliweran di media sosial sejak Senin (4/12) lalu.

Jika menelisik pola pergerakan para kombatan ISIS di Suriah, yang bergerak dari Raqqa, Mayadin, dan lalu berkumpul di sekitar Bukamal, serta pertempuran yang berkecamuk di Abu Hammam pada 30 November lalu, kabar soal kematian Naim cukup masuk akal. Namun, valid atau tidaknya kabar itu harus dipastikan oleh aparat.

"Kepolisian harus mencari sumber resmi yang akurat, bisa dari Interpol di luar negeri yang memiliki akses. Bisa Amerika, Rusia, Arab, atau Inggris," kata Kapolri Tito Karnavian di Lapangan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Selasa (5/12/2017) kemarin. "Bisa ini dia benar-benar meninggal, bisa tidak. [Kalau tidak] ini trik dia supaya tidak dikejar."

Menurut Tito, Polri sudah berusaha untuk mencari orang pertama penyebar informasi kematian Bahrun Naim. Namun, ia tak mau memaparkan hasilnya.

"Pasti kami lakukan, prosesnya [sedang] berjalan sekarang. Tapi kami tidak mau sampaikan detail karena ya nanti ketahuan sama mereka," katanya.


Bagi pemerintah Indonesia, tewasnya Bahrun Naim di wilayah SDF akan memunculkan persoalan lain. Meski masih dalam teritori Suriah, Kedubes Indonesia di Damaskus tidak bisa masuk ke wilayah yang dikuasai SDF dan berdiplomasi dengan mereka.

Saat proses deportasi 18 WNI eks simpatisan ISIS yang ditahan Kamp Ain Nissa, misalnya, proses negosiasi butuh bantuan dari Noor Hoda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian. WNI-WNI ini pun dipulangkan ke Indonesia lewat Erbil, Irak, bukan Suriah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengakui pihaknya kesulitan memverifikasi informasi ini karena terbatasnya akses. "Kami tidak bisa memverifikasi [apakah] BN memang [berada] di Suriah atau tidak. Kalaupun dia ada di Suriah, hampir bisa dipastikan BN berada di wilayah utara yang dikuasai kelompok di luar pemerintahan resmi Suriah yang ada di Damaskus. Karena itu, KBRI di Damaskus juga tidak dapat melakukan verifikasi," katanya.

Dari pernyataan tersebut, langkah Kapolri untuk memanfaatkan Interpol dan negara sekutu SDF seperti AS dan Inggris sudah tepat, ketimbang memakai jalur diplomasi formal.

Meski begitu, informasi dari sekutu juga harus dibarengi dengan bukti-bukti valid, misalnya foto jenazah atau sampel mayat yang kemudian bisa dicocokkan lewat tes DNA.


Sidney Jones, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) sempat mengatakan kepada Tirto bahwa ISIS di Indonesia terbagi ke dalam tiga faksi: Abu Jandal alias Salim Attamimi, Bahrumsyah, dan Bahrun Naim.

Melihat vitalnya peran Bahrun Naim dalam jejaring ISIS di Asia Tenggara, kabar kematiannya harus dipastikan betul. Jangan sampai aparat terkecoh lagi seperti Bahrumsyah yang juga disebut tewas, Maret lalu. Ia dikabarkan tewas setelah mengadakan operasi bom bunuh diri dengan target pasukan Suriah di Kota Tadmur. Meski demikian, di kalangan simpatisan ISIS, Bahrumsyah dipercaya masih hidup, meski tidak jelas rimbanya di mana.

Baca juga artikel terkait BAHRUN NAIM atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - wam/rio)

Keyword