tirto.id - Gambaru bukan desa yang mudah ditemukan di peta. Terletak di pesisir selatan Pulau Obi, bagian dari Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, desa ini jauh dari pusat kota. Dari ibu kota provinsi, Sofifi, butuh belasan jam menyeberang laut untuk sampai ke sana.
Selain sekolah formal, tidak banyak sarana belajar tersedia bagi anak-anak Gambaru. Tempat publik untuk membaca, apalagi perpustakaan, jauh dari jangkauan.
Baru pada 2024, anak-anak di sana menemukan ruang membaca sekaligus tempat belajar yang menyenangkan di luar jam sekolah. Rumah Belajar Simore hadir membawa perubahan itu.
Setiap sore, anak-anak mendatangi tempat ini untuk membaca dan bermain bersama. Hingga pertengahan 2025, Simore rutin disambangi sekitar 73 anak—bukan angka kecil untuk ukuran desa pesisir di ujung pulau.
Menempati bangunan bercat merah, Simore cukup mencolok di tengah perkampungan. Tak terlampau besar, tetapi sudah memadai untuk tempat belajar anak-anak.
Di dalam Simore, rak-rak kayu berjajar, dipenuhi buku bacaan, pelajaran, hingga dongeng bergambar. Ada pula sarana permainan edukatif, juga relawan yang sabar mendampingi anak-anak belajar.
Dalam bahasa lokal, Simore berarti "ceria" dan nama itu menggambarkan aktivitas anak-anak setiap sore di Gambaru saat ini. Mereka dengan gembira datang ke Simore untuk bergaul bersama buku-buku.
"Seru, ada banyak buku jadi bisa belajar sambil bermain," kata Fahwa Lerebulan, siswi SD Negeri 201 Halmahera Selatan yang rajin datang ke Simore.
Relawan sekaligus guru PAUD, Masni Hanafi, menghabiskan setiap sorenya di Simore guna membimbing anak-anak yang belum lancar membaca. Tak jarang, ia membacakan dongeng untuk memantik ketertarikan mereka pada bacaan.
"Di sini kami mengajar anak-anak yang belum bisa baca-tulis. Kami juga membacakan dongeng untuk mereka dan meminta mereka menceritakannya kembali," kata Masni.
Tak hanya anak-anak. Ibu rumah tangga pun kerap hadir, ikut membaca atau sekadar menemani sang buah hati.
Salah satu orang tua, Hamsiah Drakel, mengaku tak menyangka Simore membawa dampak besar pada perubahan aktivitas anak-anak desanya. ”Setiap sore anak-anak datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain setelahnya. Rasanya seperti stres mereka di rumah hilang begitu mereka masuk ke sini," ujarnya.

Tiga Rumah Belajar Menyemai Harapan di Pulau Obi
Rumah Belajar Simore merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat di bidang pendidikan yang dihadirkan oleh Harita Nickel di Pulau Obi. Ada tiga Rumah Belajar serupa yang sudah berdiri di pulau yang sama.
Perusahaan menjalankan program ini bersama pemerintah desa dan PAUD setempat dengan tujuan menyediakan ruang belajar informal yang nyaman bagi anak-anak.
Executive Vice President External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, menyebut bahwa program Rumah Belajar merupakan wujud dari komitmen perusahaan dalam memperkuat Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat di bidang pendidikan.
"Kami berharap Rumah Belajar ini dapat menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar sekaligus bermain, sekaligus menjadi sarana untuk memperluas wawasan, membentuk karakter, serta membimbing mereka agar bijak dalam memanfaatkan teknologi di tengah perkembangan zaman."
Di antara tiga tempat pelaksanaan program, Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru, yang aktif sejak 2024, adalah yang pertama. Tak berselang lama, berdiri Rumah Belajar Ocimaleo di Desa Ocimaleo, wilayah yang berdekatan dengan Gambaru.
Seturut data dari Laporan CSR Harita Nickel 2025, sudah ada 210 anak yang mendapatkan manfaat dari dua Rumah Belajar itu. Tak hanya memperoleh kesempatan memupuk minat baca, mereka juga bisa belajar keterampilan berhitung.
Adapun yang terbaru, Harita Nickel meresmikan Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk pada 2 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Sama dengan dua desa sebelumnya, Fluk termasuk kawasan perdesaan di pesisir selatan Pulau Obi. Ketiganya masuk dalam Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan.
Nama “Nyinga Moi” yang dalam bahasa lokal berarti "Satu Hati" disematkan sebagai simbol kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, dan warga demi satu harapan: masa depan anak-anak yang lebih baik.
Ruang Belajar yang Nyaman Bagi Anak-Anak
Di tiga desa pesisir selatan Pulau Obi tersebut, kini anak-anak lebih leluasa belajar sembari bermain bersama-sama.
Setiap Rumah Belajar memulai kegiatan dengan membaca selama 15 menit. Setelah itu, relawan pengajar mendampingi anak-anak yang belum lancar membaca untuk mengenal huruf, menyusun kata, dan merangkai kalimat pendek.
Agar anak-anak tidak bosan, kegiatan diselingi dengan mendongeng hingga nonton bareng film edukasi. Guna membangun suasana belajar lebih menyenangkan, guru merancang permainan edukatif seperti kuis pengetahuan umum. Ada pula game ketangkasan yang menumbuhkan minat anak-anak pada membaca dan berhitung.
Anak-anak bisa mengikuti berbagai kegiatan itu sambil menikmati snack yang disediakan oleh pengelola Rumah Belajar.
Community Development Supervisor Harita Nickel, Karina Austrina Putri, menjelaskan program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan anak-anak akan lingkungan belajar yang nyaman tanpa tekanan akademik berlebihan.
"Ketika mereka sudah suka membaca, barulah kami bisa secara perlahan meningkatkan literasi mereka," jelasnya.
Kehadiran Rumah Belajar sekaligus menjawab kekhawatiran banyak orang tua di Pulau Obi. Salah satu orang tua di Desa Fluk, Nadia Abdullah, mengatakan, “Anak-anak sekarang banyak main HP, jadi kurang fokus belajar. Dengan adanya Rumah Belajar ini, kami berharap mereka bisa lebih fokus dan punya kegiatan yang lebih bermanfaat,” kata dia.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Syaiful Bahry, mendukung pendekatan Rumah Belajar Harita Nickel. Ia menjelaskan, suasana belajar yang bebas tekanan efektif untuk membangun self-esteem dan kepercayaan diri anak, terutama bagi yang belum lancar membaca dan menulis.
"Anak belajar paling efektif saat merasa aman, dihargai, dan tidak takut salah," kata Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) wilayah Maluku Utara tersebut.
Syaiful juga menyoroti terbentuknya lingkungan yang mendukung anak-anak belajar. Ketika ibu-ibu berkumpul menunggu anaknya di Rumah Belajar, akan ada pertukaran cerita yang merekatkan hubungan sosial sekaligus menumbuhkan harapan kolektif.
"Dalam banyak kasus, justru ruang-ruang kecil seperti ini yang menjadi fondasi kuat bagi ketahanan mental, kohesi sosial, dan pembangunan manusia jangka panjang," ujar dia.
Dampak positif program ini juga sudah mendapatkan apresiasi di tingkat nasional. Pada 2025, Rumah Belajar Harita Nickel di Pulau Obi meraih penghargaan Subroto Awards dari Kementerian ESDM sebagai Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Terinovatif Komoditas Mineral Kategori Pendidikan.
Menjawab Tantangan Literasi di Maluku Utara
Maluku Utara sejatinya mencapai kemajuan dalam literasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka buta aksara penduduk usia 10 tahun ke atas di provinsi ini pada 2025 tersisa 1,05 persen.
Menariknya, masyarakat provinsi kepulauan ini teridentifikasi gemar membaca. Data BPS menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Maluku Utara pada 2025 mencapai poin indeks 60,66—jauh melampaui rata-rata nasional (54,80).
Namun, ada pekerjaan rumah yang menantang. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Maluku Utara berada di angka 10,98. Sementara rata-rata nasional sudah mencapai 40,06. IPLM menjadi indikator ketersediaan infrastruktur pendukung literasi: perpustakaan, ruang baca, hingga sarana belajar yang bisa diakses oleh siapa saja sepanjang hayat.
Data ini mengindikasikan masyarakat Maluku Utara, terutama generasi muda, belum memiliki banyak kemewahan dalam mengakses bacaan. Minat baca tinggi, tetapi belum tersedia tempat dan bahan yang memadai.
Karena itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Maluku Utara, Mulyadi Tutupoho, mendukung program Rumah Belajar di Pulau Obi. "Inisiatif ini sangat membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya anak-anak di desa," katanya.
Apalagi program ini sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di poin keempat yang menekankan penguatan sumber daya manusia—termasuk dalam hal literasi dasar.
Kondisi geografis kepulauan dan ketersediaan infrastruktur tampaknya menjadi tantangan berat dalam penguatan literasi di Maluku Utara. Di wilayah seperti Pulau Obi, tantangan itu berlipat: keterpencilan, keterbatasan transportasi, hingga minimnya fasilitas pendukung budaya literasi.
Di sinilah kolaborasi multipihak dibutuhkan. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat seperti yang terjadi dalam pembangunan Rumah Belajar di pesisir selatan Pulau Obi bisa memberikan secercah harapan.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































