Miroso

Memilih Sejarah untuk Racikan Teh dan Rempah

Kontributor: Finlan Aldan, tirto.id - 31 Des 2023 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Campuran teh dan rempah sebenarnya sudah tercatat sebagai minuman di kalangan orang-orang Bania, salah satu kasta pedagang India, sejak abad ke-17
tirto.id - Di seberang tempat parkir itu, sebuah istana.

Tembok depannya diisi bilah-bilah ubin berbahan gamping, marmer setengah matang, yang dilapisi cat transparan agar kilapnya tidak pudar. Pada fasad lantai dua bangunan, menggantung beberapa mashrabiya, tonjolan jendela dengan ukiran geometris khas arsitektur Islam, yang kayunya terlihat sudah lapuk dirajam lembap tropis.

Dari depan, bangunan tersebut seperti sebuah replika karavanserai, penginapan sekaligus benteng tempat kafilah dan musafir dapat rehat dengan aman dari para bandit gurun, walaupun tampilannya agak norak, apalagi dengan ornamen unta plastik berbibir dower di pintu depan.

“Assalamu’alaikum,” sapa penjaga pintu.

Baju tunik dan sorbannya serba hitam. Suaranya rendah dan bijaksana. Saya seperti disambut oleh Sang Sultan Salahuddin Ayyubi yang baru pulang dari perang salib dalam film Kingdom of Heaven.

“Untuk berapa orang?”

Hari itu saya memang ngebet hidangan Timur Tengah, khususnya roti pita dengan cocolan saus kental campur daging cincang. Maka, saya mengetik “authentic Middle East restaurant near me” di Google Maps. Tapi siapa yang menduga kalau saya akan diantar ke diorama Kesultanan Ottoman. Sofa dengan seribu bantal. Puluhan cermin berbingkai perunggu di dinding. Lukisan-lukisan besar menggambarkan para aristokrat Arabia sedang saling asah daya pikir di beranda madrasah. Begitu eksotis. Begitu orientalis.

Beberapa pengunjung duduk bersila di karpet beludru merah dengan pola kompleks yang saya yakin semua orang bisa bayangkan tanpa perlu saya deskripsikan. Betul, yang itu. Mereka semua menghisap shisha. Ruangan pekat dengan kabut asap beraroma buah dan rempah, disela wangi suwir daging kambing panggang.

Saya, yang merasa seperti awak kapal muda di antara para saudagar kaya, berlagak kikuk dan memilih kursi di pojokan, lalu bergegas menjelajahi buku menu. Mata saya membelalak. Ada satu simbol yang luput saya cermati dari Google Maps: $$$.

Maka, saya mencari makanan yang harganya tidak perlu membuat saya puasa keesokan harinya. Terpilihlah moussaka, saudara kandung lasagna dengan bahan utama terung. Untuk minuman, saya awalnya ingin teh biasa. Panas, tanpa gula. Namun, foto teh susu dalam gelas kaca berlekuk molek menarik perhatian saya. Teh adeni, namanya, sesuai dengan kota asalnya di Aden, Yaman. Saya beralih pesanan.

Ia datang dengan cepat, di dalam teko Maroko perak (baca: stainless steel) berhiaskan bulir-bulir mirah delima (baca: manik-manik plastik). Gula dihidangkan terpisah. Pada nampan, berdiri tiga gelas kaca mungil dengan hiasan perunggu yang lebih elok dari gelas di foto menu.

Ketika saya tuangkan, aroma kapulaga langsung lumer, diikuti dengan harum beberapa rempah lain seperti cengkih, kayu manis, dan jahe. Saya tebak ada sedikit pala juga di sana. Seluruh racikan itu masuk begitu lembut ke kerongkongan, bersama dengan susu yang sayangnya sedikit terlalu encer.

Saya menikmati hangat rempah yang lebur di dada, tuang demi tuang. Porsinya pun terbilang banyak. Saya tidak jadi terlalu menyesal membayar lima puluh ribu rupiah hanya untuk minuman. Pengalaman tersebut terasa begitu otentik Timur Tengah klasik, saya rasanya jadi semangat membeli unta dan daftar dalam sebuah karavan dagang.

Masala Chai dan Penjajahan

Namun, jika keotentikan mengisyaratkan ketepatan sejarah, ternyata hanya secuil saja yang otentik dalam pengalaman tersebut. Teh adeni itu, yang secara spontan menggiring imajinasi ke sebuah pelabuhan di Laut Merah pada Abad Pertengahan, adalah salah satu kekeliruan saya yang sok-sokan membuat asosiasi sejarah.

Sebab, tidak ada teh adeni di Kota Aden pada periode tersebut.

Oleh sebab itu, saya mencoba mengedukasi diri tentang hikayat pertautan teh dan rempah yang tidak jarang lebih mencerminkan periode penjajahan ketimbang kejayaan. Untuk memulai, saya menelusurinya tidak langsung menuju teh adeni, tetapi lewat kerabatnya yang lebih kondang dari Asia Selatan, masala chai.

Di Anak Benua, campuran teh dan rempah sebenarnya sudah tercatat sebagai minuman di kalangan orang-orang Bania, salah satu kasta pedagang India, sejak abad ke-17. Hal ini diutarakan oleh J. Ovington dalam bukunya The Voyage to Surat in the Year 1689.

“Teh, dengan campuran rempah panas dan [air mendidih], punya reputasi untuk melawan sakit kepala, pusing, dan nyeri perut, dan biasanya diminum di India dengan gula batu atau sedikit lemon,” tulisnya, dalam publikasi ulang oleh Rawlinson (1929, hal. 181).

Wilayah lain juga punya variasi teh rempahnya masing-masing, seperti dabal chai di Afganistan dan kahwe di Kashmir. Menariknya, karena saat itu gula masih kepalang langka, orang biasanya mencampurkan teh dengan mentega dan garam, lalu meminumnya seperti sup untuk sarapan. Namun, mayoritas telah memakai kapulaga dan kayu manis yang banyak diperdagangkan dari Asia Selatan sejak periode Jalur Sutra. Ini leluhur masala chai.

Namun, masala chai yang kita kenal baru lahir pada abad ke-19, di tengah-tengah kolonialisme Eropa. Ketika itu, Tionghoa menutup suplai bagi Inggris yang kecanduan teh. Sebagai respons, Inggris mencari tempat lain untuk menanam pohon teh. Tersebutlah Assam, wilayah di kaki Himalaya, yang berhasil mereka rebut dari Burma.

Akan tetapi, tanpa ilmu yang matang, kualitas teh racikan Inggris begitu buruk dan tidak diminati pasar Eropa. Agar tidak merugi, mereka mengatur strategi untuk menggeser konsumen utama dari bangsawan Eropa menjadi kawula India.

Sebagaimana diutarakan oleh Helen Saberi dalam bukunya Tea: A Global History (2010; hal. 132), Inggris mendirikan kedai teh di berbagai fasilitas publik, khususnya stasiun kereta. Mereka juga memberikan teko dan termos kepada para wallah, pedagang asongan, untuk menjadi chaiwallah, pedagang teh asongan.

Kemudian, para chaiwallah mulai menambahkan rempah untuk menyelubungi pahitnya teh Assam berkualitas rendah itu. Lahirlah masala chai, teh rakyat India yang lekat dengan seduhan di dalam kereta padat. “Char! Gurram, gurram char!” teriak para chai wallah sembari menyeberangi satu demi satu gerbong. “Teh panas! Teh panas!”

Teh Emblem Kota

Kisah serupa juga menyusun sejarah teh adeni, walaupun dengan catatan yang lebih sulit ditelusuri. Inggris menduduki Aden sejak 1839, periode yang sama ketika mereka mulai memproduksi teh di Assam. Tidak mengejutkan jika teh di kota ini dianggap bermula dari India. Rempah-rempahnya juga identik dengan masala chai. Aden saat itu cukup menyuplai air dan susu saja.

“Selama Okupasi Inggris, air saringan dibawa ke kedai teh dari pabrik es Al-Farsi, yang berlokasi di daerah Bomba di tepi pesisir Seera (pesisir timur Aden). Air tersebut memberikan rasa khas pada teh adeni. Kualitas susu juga penting; susu dibawa dari ternak milik keluarga Aden,” kata sejarawan Aden Bilal Ghulam dalam wawancaranya pada 2017, dikutip dari artikel Adeni Tea: A Cultural Interaction, Gifted in every Adeni Teashop.

Sekarang, kedai teh merupakan emblem Aden. Ruang bagi para penduduknya mendiskusikan politik, budaya, agama, serta keluhan hidup masing-masing. Masalah sehari-hari di tengah negara yang secara berkala disinggahi aksi separatisme dan perang saudara, muara panjang dari pendudukan Britania Raya.

Masala chai dan adeni chai bagaikan kerabat seperjuangan. Dua hidangan yang sebenarnya lebih mencerminkan artefak imperium Eropa, serta lebih banyak diminum oleh para kelas pekerja di dalam kereta ekonomi, gang sempit, dan kaki lima, ketimbang oleh para pebisnis kaya (ini tuduhan pribadi) yang duduk di sekitar saya.

Infografik SC Teh dan Manfaatnya
Infografik SC Teh dan Manfaatnya. tirto.id/Fuad


Saya membayangkan betapa terkejutnya orang Aden jika melihat satu gelas teh adeni dihargai Rp50 ribu, ketika di kampung halamannya ia dijajakan dengan harga 60 rial Yaman, atau setara dengan Rp3 ribu, sama dengan es teh manis di angkringan Yogyakarta (yang merayap dari harga Rp2 ribu pasca pandemi).

Lewat teh adeni, saya belajar bagaimana kita memilih dan memilah sejarah. Pikiran saya, yang otomatis menghubungkan teh rempah dengan latar Hikayat Seribu Satu Malam, adalah cerminan bagaimana budaya populer yang berseliweran di publik merupakan potret tidak utuh dari budaya Timur Tengah. Saya pribadi mengalami Timur Tengah hanya lewat dua hal: film Aladdin dan gim Prince of Persia.

Saya juga percaya, sudut pandang tersebut lahir dari bagaimana saya mempelajari sejarah Timur Tengah sebatas lewat mata pelajaran PAI (saya produk KTSP 2006) yang kurikulumnya berhenti di bab tentang masa keemasan Islam Abad Pertengahan. Bayangkan seorang warga asing belajar sejarah Indonesia hanya sampai Majapahit. Barangkali baginya wedang ronde akan memantik ingatan tentang candi batu dan dewa-dewi Hindu.

Padahal sejarah, beserta seluruh makanan dan minuman yang ia sajikan, bukanlah sesuatu yang tunggal. Meskipun teh dan rempah sudah menyebar luas sejak Jalur Sutra terbentang, tetapi kisahnya berlanjut melalui ratusan zaman lain, termasuk peperangan dan penindasan.

Memahami, atau setidaknya mengetahui, bagaimana sejarah itu menerus, sampai akhirnya ia tiba ke meja kita, bagi saya merupakan cara terbaik untuk menghargai dan menikmati segelas teh adeni.

Baca juga artikel terkait TEH atau tulisan menarik lainnya Finlan Aldan
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Finlan Aldan
Penulis: Finlan Aldan
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight