Menuju konten utama

Melihat Warna-Warni Teman Disabilitas Berkarya Melalui Mural

Melalui mural bersama, komunitas kawan disabilitas memperkenalkan kawasan Binong Jati sebagai kampung rajut yang dapat menjadi desa wisata.

Melihat Warna-Warni Teman Disabilitas Berkarya Melalui Mural
Kawan-kawan Difabel dari Merajut Asa mewarnai mural di Gang Masjid Binong Jati, Kota Bandung. Sabtu (12/6/2025). Tirto.id/Firman
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rentetan gambar terukir di sepanjang jalan dinding Gang Masjid, Binong Jati, Kota Bandung, pada Sabtu (14/6/2025). Kuas dan harum basah cat dinding tercium merebak.

Jari jemari sejumlah kawan disabilitas dan warga lain dengan kuas di tangan menari-nari mewarnai dinding dengan aneka gambar. Mulai dari kartun hewan, sketsa Pencak Silat Sunda, bank sampah dan alat rajut menghiasi dinding kampung yang dikenal sebagai sentra rajut di Bandung.

Telapak tangan mereka tak terhindarkan dari bercak cat warna. Elis asal Ujung Berung antusias mengikuti kegiatan mural ini. Mural dinilai dapat menjadi salah satu cara edukasi warga untuk peduli lingkungan.

Kampung Rajut Binong Jati

Kawan-kawan Difabel dari Merajut Asa mewarnai mural di Gang Masjid Binong Jati, Kota Bandung. Sabtu (12/6/2025). Tirto.id/Firman

Elis bercerita bahwa di lingkungan rumahnya akan diadakan kegiatan bank sampah. Jadi, kegiatan mural ini membuat dirinya juga belajar tentang bank sampah yang ada di Kampung Rajut.

"Kegiatan mural ini akan diterapkan. Bagus sekali, bagus kalau menurut saya. Lebih meningkatkan juga ke temen disabilitasnya, ke temen-temen yang lain juga," terang Elis pada wartawan di lokasi, Sabtu (14/6/2025).

Kegiatan Mural ini dilaksanakan oleh Komunitas Merakit bersama komunitas sosial Masihan Indonesia. Komunitas merakit merupakan komunitas yang membina perempuan disabilitas untuk berdaya. Kegiatan ini sendiri mengusung tema "Mural Kampung Binong Bersama Disabilitas."

Selain Elis, kawan disabilitas lainnya Daksa Linda (63 tahun) ikut terlibat juga dalam kegiatan mural. Keterbatasannya tak menjadi halangan baginya untuk menggapai prestasi.

Linda bercerita bahwa rasa putus asa pernah menyelimuti dirinya. Tetapi menyerah bukanlah jawaban. Sebuah iklan dari koran mempertemukan dia dengan komunitas kawan disabilitas seperti Bakti Nurani dan mengenalkannya dengan banyak teman-teman sesama disabilitas.

Hal tersebut, tidak membuat dirinya merasa sendiri. “Jadi bukan saya aja gitu. Yang tadinya saya merasa, ah cuma saya kan yang kayak gini, gitu kan. Jadi putus asa itu pasti ada,“ kata Linda.

Setelah bergabung dengan komunitas, Linda bangkit dari keterpurukannya. Di dalam komunitas, ia mulai merajut prestasi di berbagai cabang olahraga seperti voli duduk, panahan, tembak, dan kursi roda balap. Bahkan medali emas pernah didapatkan Linda dalam laga voli duduk.

Dengan mengikuti berbagai kompetisi olahraga untuk disabilitas ini, Linda berkesempatan menjelajahi berbagai daerah di Indonesia.

“Jadi itu saya (kompetisi) masih seperti (di) Kalimantan. Bali, udah ke situ juga,” tutur Linda.

Ia berharap agar teman disabilitas lain bisa semangat dalam menjalani aktivitas, seperti dirinya. Menurutnya, jangan pernah putus asa karena masih ada kesempatan baik menanti di depan.

Mengenalkan Kampung Rajut dengan Mural

Kampung Rajut Binong Jati

Pokdarwis Kampung Wisata Binong Jati, Eka. Tirto.id/Firman

Mural menjadi agenda panjang untuk mengenalkan kreativitas dan ekonomi di Kampung Rajut Binong Jati yang jaraknya kurang dari 2 kilometer dari Alun-alun Bandung.

Sentra rajut ini telah berdiri sejak 1960-an. Rajut binong memproduksi berbagai olahan rajutan dari sweater hingga kardigan, dibuat handmade bersama kawan disabilitas.

Chief Executive Officer Masihan Indonesia Andika Fibio menjelaskan, program membuat mural ini memiliki tujuan agar masyarakat tertarik berkunjung ke Kampung Binong.

“Nah, jadi kita memperkenalkannya (Kampung Rajut) tuh lewat ekonomi kreatif, lewat adanya mural painting. Jadi kita di sini akan mural biar temen-temen juga aware tertarik juga dengan desa wisata, “ terang Andika pada wartawan.

Sementara itu, Pokdarwis Kampung Wisata Binong Jati Eka menjelaskan kegiatan mural bersama kawan disabilitas merupakan event bulanan. Mereka yang terbiasa merajut ingin terlibat dalam kegiatan mural untuk mengenalkan kawasan wisata di kawasan urban ini.

Kampung Rajut Binong Jati

Kawan-kawan Difabel dari Merajut Asa mewarnai mural di Gang Masjid Binong Jati, Kota Bandung. Sabtu (12/6/2025). Tirto.id/Firman

"Sekarang itu karena mereka juga pengen men-cat, cat rumah, warga, dan sebagainya. Ya, ayo aja ikutan. Mungkin waktunya nggak full. Biasanya kita udah hampir sebulan kegiatan ini, hampir sebulan mungkin di dua minggu ini finishing, terakhir," beber Eka.

Eka menjelaskan, kawan disabilitas biasanya bikin souvernir untuk wisata. Mereka juga menjadi pengajar bagi pengunjung yang ingin belajar merajut.

Selain itu, di Kampung Binong terdapat banyak potensi wisata mulai khas kuliner, pencak silat dan bank sampah. "Biasanya mereka merajut. Kita potensinya banyak. Ada kuliner, teh telang binong, ada juga pencak silat, ada bank sampah," ujarnya.

Dalam program ini, Eka juga berharap bisa memperkenalkan program bank sampah di Kampung Rajut bersama rekan-rekan disabilitas.

"Kita lagi mengembangkan saat ini dengan teman difabel itu. Bank sampah, bank sampahnya dari plastik-plastik karena sampah-sampah di kota Bandung itu jadi masalah buat kita. Sampah-sampah plastik, botol minuman dan sebagainya itu kita coba inovasi bikin benang," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait DISABILITAS atau tulisan lainnya dari Akmal Firmansyah

tirto.id - News Plus
Kontributor: Akmal Firmansyah
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Rina Nurjanah