Mati karena Tertawa

Ilustrasi tertawa. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Patresia Kirnandita - 11 Juni 2017
Dibaca Normal 2 menit
Ungkapan ‘mati ketawa’ rupanya bukan cuma kiasan. Segelintir orang dari era ke era dilaporkan mati setelah tertawa terbahak-bahak. Kenapa?
“Hai, kamu….Coba kamu lihat keledai yang sedang makan daun ara di situ,” begitu kata Chrysippus kepada salah satu pelayannya seraya menunjuk ke satu arah.

Si lawan bicara mengikuti instruksi majikannya, lantas menunggu titah berikutnya dari sang filsuf itu. “Berikan secawan anggur kepadanya biar dia mudah menelan makanannya.”

Setelah pelayannya melakukan apa yang ia minta, Chrysippus tertawa tak terkendali hingga tak lama kemudian, maut menjemputnya. Kemalangan yang menimpa filsuf Yunani Chrysippus seperti dikisahkan Diogenes Laertius ini membuktikan bahwa dalam beberapa kasus, sebuah komedi bisa berakhir pada tragedi dan bisa terjadi dalam sekejap. Sebagian orang menganggap cerita semacam ini hanya bualan belaka sampai sederet peristiwa serupa tercatat dalam sejarah.

Seorang pelukis pada zaman Yunani Kuno dikabarkan meninggal dalam tawa. Adalah Zeuxis yang mendapat pesanan dari seorang perempuan renta kaya untuk melukisnya sebagai Aphrodite, sang dewi cinta. Saat melihat kembali lukisan tersebut, Zeuxis tidak mampu menahan kegeliannya mengingat betapa kontras sosok Aphrodite yang ia pahami dengan penampilan sang klien. Begitu usai tawanya, usai pula hidup pelukis itu.

Kisah tragis Zeuxis menjadi salah satu inspirasi Rembrandt, pelukis Belanda, yang menelurkan karya bertajuk Self-portrait as Zeuxis pada sekitar 1662. Saat ini, lukisan tersebut disimpan di Wallraf-Richartz-Museum, Cologne, Perancis.

Pada 1410, setelah melahap seekor angsa utuh, Raja Martin dari Aragon dikisahkan mengalami gangguan pencernaan. Ia pun dibawa ke kamarnya untuk beristirahat. Sembari menunggu nyerinya hilang, Borra, pelawak kerajaan, dipanggil untuk menghiburnya. Saking serunya banyolan Borra, Raja Martin tidak berhenti tertawa dan tanpa diduga, nyawanya melayang saat saat tertawa terbahak-bahak.

Kejadian mati dalam tawa teranyar datang dari Thailand. Pada 2003, seorang penjual es krim, Damnoen Saen-um dilaporkan CBS meninggal setelah tertawa dalam tidurnya. Selama dua menit laki-laki ini terpingkal-pingkal tanpa sadar. Saat istrinya mencoba membangunkan Saen-um, ia sudah tak lagi bernapas.

Kisah-kisah ini sekilas terdengar tidak masuk akal. Namun, ada penjelasan ilmiah mengenai tawa yang memicu kematian.




Dr. Martin Samuels, profesor neurologi dari Harvard Medical School memaparkan kepada NBC mencoba memberi penjelasan bagaimana kasus-kasus meninggal setelah tertawa dapat terjadi. Ia menyatakan tawa berlebihan dapat memicu napas tak beraturan dan ritme detak jantung yang abnormal.

“Umumnya, tawa terbahak-bahak tidak membahayakan nyawa seseorang,” ujar Dr. Samuels,

“Namun, ada kalanya berita baik berisiko menyebabkan kematian tiba-tiba, sama seperti berita buruk. Saya pernah menemukan kasus orang-orang yang mati setelah memenangi pertandingan bowling dan setelah mendengar kata ‘tidak bersalah’. Kematian saat beraktivitas seksual juga beberapa kali terjadi. Ekstase, kebahagiaan, dan berita baik bisa benar-benar membahayakan.”

Dr. Samuels menambahkan, keadaan senang berkaitan dengan respons fight atau flight. Saat respons ini terjadi, hormon adrenalin akan teraktivasi. Bagi makhluk-makhluk tertentu, aktivasi hormon ini dapat memicu gangguan pada beberapa organ, khususnya jantung. Keadaan emosi yang begitu ekstrem, baik positif maupun negatif, dapat membahayakan jantung dan bisa mematikan.

Sejumlah argumen lain mengenai bahaya tawa yang ekstrem juga dipaparkan dalam situs The Week. Bagi penderita asma, tawa dapat memicu datangnya penyakit ini. Pneumothorax atau keadaan tidak berfungsinya paru-paru juga bisa terjadi ketika seseorang tertawa berlebihan. Sementara bagi orang-orang yang mengidap katapleksi—kondisi yang dikaitkan dengan narkolepsi—tawa mengakibatkan melemasnya otot secara mendadak. Selain itu, tawa tak terkendali juga berpotensi menyebabkan hernia dan dislokasi rahang.

James Hamblin, MD mengungkapkan dalam Splitsider bahwa orang yang mengalami aneurisma—pelebaran pembuluh nadi secara abnormal—dapat tewas hanya karena tawa berlebihan. “Bila kamu memiliki penyakit pembuluh nadi, apa pun yang mempercepat detak jantungmu dapat menghambat peredaran darah. Selanjutnya, yang terjadi adalah serangan jantung dan tentunya hal ini dapat membunuhmu. Ini sama halnya dengan orang yang tidak pernah berolahraga, lantas tiba-tiba mengeruk tumpukan salju atau berhubungan seks. Aktivitas ini dapat berujung pada kematian,” demikian tulis Hamblin.

Tertawalah sebelum tertawa dilarang, begitu kata-kata yang sering kita dapati pada film komedi. Namun kini, tak ada salahnya mengingat untuk tak berlebihan tertawa sebelum tawa itu mendatangkan kematian.

Baca juga artikel terkait SERANGAN JANTUNG atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Suhendra
DarkLight