STOP PRESS! Usulan Hak Angket kepada KPK Disampaikan di Rapat Paripurna

Manusia Kerap Berpikir Dirinya Lebih Baik daripada Aslinya

Manusia Kerap Berpikir Dirinya Lebih Baik daripada Aslinya
Ilustrasi. Manusia selalu merasa dirinya lebih baik. Foto/iStock
Reporter: Aulia Adam
21 Maret, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Jika dunia ini dibagi dua: 50 persen orang baik, 50 persen orang jahat, ada 98 persen orang di dunia yang menganggap dirinya masuk kategori pertama. Yakin?
tirto.id - Ellen DeGeneres adalah satu dari nama terbesar dalam sejarah komedi di dunia. Sejak kariernya bermula jadi komedian Stand Up Comedy alias Pelawak Tunggal pada awal 1980-an, Ellen sudah banyak memenangkan penghargaan. Total piala Emmy Awards yang diperolehnya hingga kini berjumlah 29. Bahkan tahun ini ia jadi satu-satunya orang dengan piala People’s Choice Award paling banyak di dunia. Total, ia mengoleksi 20 buah.

Tapi, selain dikenal sebagai salah satu wanita paling lucu di dunia, Ellen juga dikenal sebagai aktivis kemanusiaan paling loyal. Dalam acaranya The Ellen DeGeneres Show yang ada sejak 2001, sudah tak terhitung pundi-pundi dolar yang ia sumbangkan untuk berbagai jenis kampanye sosial, yayasan kemanusiaan, bahkan individu-individu yang membutuhkan. Tahun lalu saja, Ellen diperkirakan menyumbang lebih dari $50 juta lewat acara televisinya.

Dia mengumpulkan $12,5 juta untuk kanker payudara, lebih dari $10 juta dolar untuk korban bencana Badai Katrina, dan lebih dari $21 juta untuk orang-orang ataupun keluarga membutuhkan yang berbagi kisah di acaranya. Tak hanya itu, Ellen juga menginspirasi penontonnya untuk turut beramal hingga terkumpul $35 juta.

Hampir semua yang dilakukan Ellen berakhir jadi sumbangan kemanusiaan. Salah satu yang paling dikenang adalah foto #OscarsSelfie yang berujung jadi sumbangan amal $3 juta kepada salah satu rumah sakit anak dan yayasan kemanusiaan di Amerika Serikat.

Ellen dikenal sebagai aktivis: LGBT, donor organ tubuh, lingkungan, pegiat pendidikan, pelindung hak asasi binatang, kesetaraan gender, dan jadi salah satu suara paling keras yang menentang Donald Trump sejak mencalonkan diri hingga kini duduk di kursi Presiden Amerika Serikat.

Slogan acaranya, “Be Kind to One Another” bahkan sudah kepalang lekat pada sosok Ellen. Presiden Barack Obama—sebelum turun tahta—sempat menganugerahkan Medal of Freedom, salah satu penghargaan tertinggi dari negara, kepada Ellen karena kampanye kebaikan hati yang disebarkannya.

“Ellen DeGeneres, dalam karier 30 tahunnya sebagai pelawak tunggal, aktor, pembawa acara televisi telah mengangkat semangat dan membawa keriangan dalam hidup kita. Dalam tiap peran itu, dia selalu mengingatkan kita untuk berlaku baik pada sesama, dan memperlakukan semua manusia setara."

“Keberanian dan ketulusan hatinya membantu mengubah pikiran dan perasaan banyak orang Amerika dan mempercepat bangsa kita untuk lebih menerima dan merayakan kesetaraan. Lagi dan lagi, Ellen DeGeneres telah menunjukkan pada kita semua bahwa seorang individu saja bisa membuat dunia lebih menyenangkan, lebih terbuka, jadi tempat penuh cinta, asal kita tetap bergerak ke arah sana,” kata narator yang membacakan alasan pemberian medali tersebut.

Dengan rentetan pengalaman yang membuktikan kebaikan hatinya, gampang untuk bilang bahwa Ellen DeGeneres adalah ‘satu di antara sejuta orang’ yang demikian dermawan.

Namun, dalam salah satu wawancaranya dengan Ellen, pembawa acara malam Jimmy Kimmel berani-beraninya menantang sang tamu untuk adu kemurahan hati.

“Kau dan acaramu sangat, sangat menyenangkan untuk ditonton. Secara umum membawa suasana yang menyenangkan, dari awal sampai akhir. Sebagai tamu aku merasakannya, penonton juga,” kata Jimmy memuji acara Ellen.

“Aku merasa memang seharusnya begitu. Sebelumnya, aku memang suka melakukannya—aku senang membuat orang senang, membuat mereka nyaman, karena ini yang diriku sendiri inginkan belakangan. Sama sepertimu, kau orang baik, dan kita bisa sama-sama merasakannya,” sahut Ellen.

Sampai di sini, dialog keduanya tak berpretensi apa-apa selain bahwa Ellen dan Jimmy sedang berlaku ramah pada masing-masing lawan biacaranya.

“Ya.. ya. Kita memang sama-sama orang baik,” sahut Jimmy lagi.

“Maksudku… kita sama-sama tahulah siapa yang lebih baik,” sahut Ellen. “Tapi kan bukan itu poinnya. Intinya kita orang baik.”

Jimmy mulai kagok. Tak mau kalah dia kembali menyahut, “Ya, kupikir memang ada tingkat-tingkat dalam kebaikan. Tapi kurasa kita di level baik yang sama.”

“Kita sama-sama baik, tapi ada yang lebih baik,” sahut Ellen lagi, juga tak mau kalah.

Tentu saja karena keduanya komedian, kita tak bisa menelan percakapan itu sebagai kompetisi sungguhan antara Jimmy dan Ellen. Namun, percakapan itu bisa menggambarkan hal penting, yakni persepsi kita tentang kebaikan, atau tepatnya: persepsi terhadap diri sendiri sebagai orang baik. 

Manusia Kerap Berpikir Dirinya Lebih Baik daripada Aslinya

Penelitian Jonathan Freeman dari Universitas London awal Maret ini mungkin bisa menjawab. Dalam laporannya, Freeman mengungkap angka mengejutkan. Faktanya orang-orang macam Jimmy tak sedikit, bahkan hampir semua orang. Sebanyak 98 persen manusia menganggap dirinya termasuk dalam 50 persen orang-orang baik dunia. Dan cenderung menganggap orang lain tidak lebih baik dari dirinya sendiri.

Faktor-faktor yang jadi indikator seseorang menilai dirinya baik di antaranya adalah nilai kecerdasan emosional, empati, keramahan, dan peringkat sifat altruismenya. Contoh perilaku baik yang diidentifikasi paling tinggi di antaranya: memberi tahu arah jalan kepada orang asing (83 persen), menahan pintu lift untuk orang asing (80 persen), dan memberi kursi pada mereka yang membutuhkan dalam kendaraan umum (79,5 persen).

Penelitian Nicholas Epley dan David Dunning dari Universitas Cornell pada tahun 2000 silam juga mengungkapkan hal serupa. Mereka menemukan fakta bahwa manusia lebih sering ketinggian menilai dirinya sendiri ketimbang saat menilai orang lain. Artinya, saat mengukur kebaikan orang lain, tebakan kita lebih sering hampir akurat ketimbang mengukur kebaikan diri sendiri.

Dalam sejumlah percobaan, Epley dan Sunning menemukan kalau manusia justru menilai dirinya lebih baik daripada kenyataannya. Misalnya, saat perayaan “Hari Bakung” di Universitas Cornell. Sebelum perayaan tahunan tersebut, dua peneliti ini meminta 251 mahasiswanya mengisi kuesioner untuk mengukur kemurahan hati mereka. Dalam kuesioner itu, para responden ditanya “Apakah akan membeli paling tidak satu bakung dalam perayaan Hari Bakung?”

Hari Bakung sendiri adalah hari ketika para mahasiswa disuruh berjualan bunga bakung di kampus, yang hasilnya akan disumbangkan untuk American Cancer Society. Hasil kuesioner menunjukkan kalau 83 persen mahasiswa menjawab akan membeli paling tidak satu bakung sebagai tindakan amalnya. Namun pada kenyataannya, hanya 43 persen yang membeli pada hari-H.

Kecenderungan manusia menganggap dirinya sebagai orang baik adalah bagian dari sifat narsisistiknya. Dalam penelitian yang lebih dulu dilakukan oleh Erica Herper, psikolog dari Universitas Surrey, mengungkap bahwa manusia orang-orang di zaman ini lebih narsisistik dibanding manusia di era sebelumnya karena disokong oleh perkembangan teknologi.

Meski demikian, dalam penelitiannya, Herper juga mengungkap bahwa di balik sikap mencintai diri sendiri itu, manusia juga tetap bisa berempati pada lingkungannya dan kisah orang lain. Misalnya saat mereka disuruh menonton video wawancara seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Orang-orang narsisis terbukti masih bisa tergugah ketika mendengar kisah sedih hidup orang lain, juga dalam beberapa percobaan lainnya.

Namun, berempati pada kisah orang lain tidak berarti membuat mereka akan beraksi untuk menolong atau semacamnya. Kerapkali, perlu lebih dari sekadar empati untuk mewujudkan perbuatan baik di dunia ini. Itulah mengapa orang yang mencurahkan hartanya untuk banyak orang disebut filantropi: pecinta kemanusiaan.

Baca juga artikel terkait ALTRUISME atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - aad/msh)

Keyword