Menuju konten utama

Malaysia Tetapkan Darurat Asap Karhutla, 647 Sekolah Tutup

Malaysia menetapkan status darurat kabut asap di Sarawak setelah API mencapai 514. Sebanyak 647 sekolah ditutup selama lima hari.

Malaysia Tetapkan Darurat Asap Karhutla, 647 Sekolah Tutup
Kabut asap menyelimuti cakrawala Kuala Lumpur sebagaimana terlihat dari Ampang, di negara bagian Selangor, Malaysia, pada 3 September 2026. Selama berminggu-minggu, Indonesia telah berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan penutupan sekolah serta membuat ribuan orang membutuhkan perawatan medis, sementara asapnya juga terbawa angin hingga ke Malaysia dan Singapura. (Foto oleh Mohd Rasfan / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Malaysia menetapkan status darurat akibat kabut asap di seluruh Divisi Serian, Sarawak, setelah kualitas udara di wilayah tersebut mencapai level berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Selain itu sebanyak 647 sekolah di sejumlah distrik Sarawak akan ditutup selama lima hari.

Deklarasi darurat kabut asap itu disetujui Raja Malaysia Sultan Ibrahim setelah mempertimbangkan masukan dari Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim, Gubernur Sarawak Tan Sri Abang Johari Openg dan lembaga terkait.

Berdasarkan data kualitas udara, indeks polusi udara (API) di Serian mencapai 514 pada Jumat (4/9/2026) yang tergolong dalam kategori berbahaya. Kondisi serupa juga terjadi di Kuching dengan API mencapai 313.

“Pemerintah akan terus memantau perkembangan dari waktu ke waktu dan memastikan semua tindakan yang diperlukan segera diterapkan, termasuk upaya mitigasi serta penyebaran informasi dan saran kesehatan kepada masyarakat,” kata Kantor Perdana Menteri dalam sebuah pernyataan dikutip Malay Mail, Jumat (4/9/2026).

Malaysia Tutup 647 Sekolah di Sarawak Akibat Kabut Asap Karhutla

Kondisi kabut asap (haze) yang memburuk di Divisi Serian, Sarawak, Malaysia, mendorong pemerintah menetapkan status darurat bencana di seluruh wilayah tersebut. Keputusan ini diambil karena tingkat pencemaran udara telah mencapai kategori berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Dengan status darurat tersebut, pemerintah memiliki ruang untuk mengambil langkah penanganan yang lebih efektif, termasuk upaya mitigasi, pemantauan perkembangan kualitas udara, serta penyampaian informasi dan panduan kesehatan kepada masyarakat secara cepat.

Tingkat pencemaran udara di Sarawak menunjukkan kondisi yang serius. Berdasarkan data Environmental Quality Management System, hingga pukul 16.00 waktu setempat, indeks API di Serian mencapai 514, sedangkan Kuching mencapai 313. Kedua angka tersebut berada dalam kategori berbahaya, dengan Serian menjadi wilayah yang mengalami kondisi paling ekstrem.

Tingginya API menunjukkan bahwa kabut asap bukan lagi sekadar gangguan jarak pandang atau ketidaknyamanan sementara, tetapi telah menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang memerlukan tindakan pemerintah.

Dampak kondisi tersebut juga merembet ke sektor pendidikan. Sebanyak 647 sekolah di Sarawak, terdiri atas 563 sekolah dasar dan 84 sekolah menengah, akan ditutup selama lima hari, yakni 7-11 September 2026.

Penutupan berlaku di sejumlah wilayah yang berada di bawah kantor pendidikan distrik Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, Kanowit, Julau, dan Maradong. Sekolah-sekolah di distrik lain tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasa.

Direktur Pendidikan Sarawak Omar Mahli menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah pihaknya mendapatkan pemaparan dari Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengenai perkembangan cuaca dan kondisi kabut asap.

“Keputusan ini diambil setelah pertemuan dan pengarahan dari Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengenai perkembangan cuaca dan kondisi kabut asap. Berdasarkan pemantauan kami sepanjang liburan sekolah minggu ini, situasinya jelas tidak banyak berubah. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menutup sekolah mulai tanggal 7 hingga 11 September di distrik-distrik yang terdampak,” kata Omar dalam konferensi pers di sini hari ini.

Kabut Asap Juga Ancam Populasi Satwa Liar

Kabut asap lintas batas juga tidak hanya menimbulkan risiko bagi manusia, tetapi berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap ekosistem dan populasi satwa liar.

Pakar Tata Kelola Lingkungan Universitas Putra Malaysia (UPM), Profesor Madya Haliza Abdul Rahman, menjelaskan bahwa asap beracun dapat menyebabkan kerusakan sistem pernapasan kronis pada satwa, menurunkan tingkat reproduksi, menyebabkan dehidrasi, serta mengurangi ketersediaan makanan.

Kebakaran hutan dan kabut asap dapat mengubah habitat alami satwa sekaligus mengganggu rantai makanan, sehingga dampaknya dapat terus terasa bahkan setelah kualitas udara kembali membaik.

Satwa berukuran besar dan primata, termasuk orangutan yang hidup di wilayah Borneo dan Sumatra, menjadi salah satu kelompok yang rentan. Kebakaran dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akibat paparan asap sekaligus menghancurkan atau mengurangi sumber makanan mereka.

“Asap beracun juga mengganggu siklus hidup serangga penyerbuk seperti lebah dan kunang-kunang, sekaligus memengaruhi ketersediaan makanan bagi hewan pemakan buah seperti burung rangkong,” tutur Haliza.

Situasi tersebut bahkan dapat meningkatkan risiko perburuan liar. Ketika satwa meninggalkan habitat atau bergerak ke wilayah yang lebih terbuka karena kebakaran dan kabut asap, mereka dapat menjadi target yang lebih mudah bagi pemburu.

Untuk mengurangi dampak terhadap satwa, Haliza mengusulkan pembentukan tim respons cepat lintas lembaga yang melibatkan Departemen Satwa Liar dan Taman Nasional (Perhilitan), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Malaysia (JBPM), dan organisasi non-pemerintah (LSM).

Ia juga mendorong adanya protokol khusus untuk penyelamatan dan relokasi satwa, pembangunan koridor migrasi darurat agar satwa dapat berpindah dari kawasan terdampak dengan lebih aman, serta penerapan sistem peringatan dini berbasis kecerdasan buatan (AI) dan sensor kualitas udara di kawasan hutan lindung.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra