tirto.id - Saif al-Islam Gaddafi, putra dari mantan pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas di Libya. Informasi tersebut disampaikan oleh pejabat dan media lokal pada Selasa (3/2/2026).
Pengacara Saif al-Islam, Khaled al-Zaidi, serta penasihat politiknya, Abdulla Othman, mengumumkan kematian pria berusia 53 tahun itu melalui unggahan terpisah di Facebook. Namun, keduanya tidak merinci kronologi peristiwa tersebut.
Mengutip AFP, pengacara Saif dari Prancis, Marcel Ceccaldi, menuturkan pembunuhan terjadi pada siang hari di kediaman Saif.
"Dia (Seif) dibunuh hari ini pukul 14.00 di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando," ucap pengacara Saif dari Prancis, Marcel Ceccaldi, kepada AFP.
Media Libya, Fawasel Media, mengutip Othman yang menyebut Saif al-Islam tewas setelah diserang oleh pria bersenjata di rumahnya di Kota Zintan, sekitar 136 kilometer barat daya Tripoli.
Al Jazeera melansir, Tim Politik Saif al-Islam kemudian merilis pernyataan yang menyebut empat pria bertopeng menyerbu rumah tersebut dan membunuhnya. Menurut pernyataan itu, Saif al-Islam sempat melawan para penyerang.
Disebutkan pula bahwa para pelaku mematikan kamera keamanan di rumah tersebut untuk menghilangkan jejak.
Mantan Ketua Dewan Tinggi Negara Libya yang berbasis di Tripoli, Khaled al-Mishri, menyerukan penyelidikan yang mendesak dan transparan atas pembunuhan tersebut melalui unggahan di media sosial.
Siapa Saif al-Islam Gaddafi, Anak dari Muammar Gaddafi?
Saif al-Islam Gaddafi tidak pernah memegang jabatan resmi pemerintahan, namun sejak awal 2000-an hingga 2011 ia dipandang sebagai figur kunci dan orang nomor dua setelah ayahnya.
Kekuasaan Muammar Gaddafi berakhir pada 2011 setelah ia tewas dalam konflik bersenjata dengan kelompok oposisi.
Pada 2011, Saif al-Islam ditangkap di Zintan saat mencoba melarikan diri dari Libya setelah Tripoli dikuasai oposisi.
Ia dibebaskan pada 2017 berdasarkan pengampunan umum dan sejak itu tinggal di Zintan.
Lahir di Tripoli pada Juni 1972, Saif al-Islam merupakan putra kedua Muammar Gaddafi. Ia sempat berperan dalam upaya Libya menghentikan program senjata pemusnah massal dan dalam perundingan kompensasi bagi keluarga korban pemboman Pan Am Penerbangan 103 di Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.
Dididik di London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris, Saif al-Islam pernah memosisikan diri sebagai tokoh reformis dengan menyerukan konstitusi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Namun, saat pemberontakan pecah pada 2011, ia berpihak pada rezim ayahnya dan berperan dalam penindasan terhadap kelompok oposisi.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































